Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mikroplastik Ancam Populasi Penyu Hijau di Pulau Terpencil

Kompas.com, 27 Februari 2026, 13:53 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber Phys.org

KOMPAS.com - Paparan mikroplastik di Pulau Trindade, pulau terpencil di Amerika Selatan, membuat populasi penyu hijau (Chelonia mydas) terancam.

Menurut studi yang dipublikasikan Marine Pollution Bulletin, para peneliti dari Universidade Estadual Paulista (Unesp) mendeteksi batuan plastik di lokasi tersebut.

Baca juga:

Batuan plastik adalah gumpalan plastik dan sedimen alami, yang sebagian besar dihasilkan akibat aktivitas manusia seperti api unggun menggunakan sampah di pantai.

Di Brasil, batuan plastik pertama kali terdeteksi di Parcel das Tartarugas, salah satu pantai di Pulau Trindade, yang terletak 1.100 kilometer dari lepas pantai negara bagian Espírito Santo.

"Studi ini memberikan penilaian dasar lima tahun pertama tentang batuan antropogenik yang berasal dari plastik di Pulau Trindade, Samudra Atlantik Selatan, yang mengarakterisasi pembentukan, transportasi, degradasi, dan penguburannya di dalam lokasi peneluran penyu hijau," tulis para peneliti dalam studinya, dilansir dari Phys.org, Jumat (27/2/2026).

Mikroplastik ancam populasi penyu hijau

Sarang penyu hijau rentan terhadap plastik 

Tim peneliti menyatakan, sarang penyu hijau sangat rentan terhadap akumulasi dan plastik yang terkurbur. Hal ini meningkatkan kemungkinan plastik akan tetap berada dalam waktu lama serta membahayakan konservasi spesies penyu.

Berdasarkan analisis selama lima tahun, peneliti mengungkapkan bahwa batuan plastik yang ditemukan tahun 2019 mengalami erosi dan kehilangan sekitar 40 persen dari ukuran aslinya. 

Hal itu menyebabkan terjadi penyebaran fragmen tambahan ke enam pantai di pulau tersebut.

"Salah satu syarat agar Antroposen dianggap sebagai zaman geologi baru, sesuatu yang masih diperdebatkan, adalah keberadaan material buatan manusia yang terkubur di dalam sedimen," kata penulis utama studi, Fernanda Avelar Santos.

"Karena material tersebut berada hingga 10 sentimeter di bawah permukaan di dalam sarang, ini merupakan titik akumulasi potensial untuk jutaan tahun mendatang," imbuh dia.

Dengan menggunakan peralatan spektroskopi, para peneliti menganalisis plastik dari puing yang ditemukan di Pulau Trindade guna mengidentifikasi polimer serta aditif pada sampel.

Santos mengidentifikasi plastik termasuk jenis high density polyethylene (HDPE), dan pewarna yang mengandung tembaga hingga logam.

"Ini menimbulkan kekhawatiran terkait aktivitas maritim seperti perikanan dan pelayaran, yang bertanggung jawab atas sumber polusi laut ini, yang terbesar di dunia," beber Santos.

Puing-puing tersebut juga diklasifikasikan berdasarkan bentuknya untuk menunjukkan mekanisme pengangkutan serta waktu dan jarak yang ditempuhnya.

Bentuk yang lebih bulat dikaitkan dengan daerah yang dekat dengan laut karena gelombang terus-menerus membentuk ulang material tersebut.

Sebaliknya, bentuk yang lebih bersudut dikaitkan dengan penguburan di sarang penyu, material tersebut tetap kurang lebih statis di dalam sedimen dan kurang terpengaruh oleh aksi laut.

"Ini menunjukkan bahwa plastik merupakan bagian dari siklus geologi pantai, dengan karakteristik yang sangat mirip dengan butiran pasir dan pecahan batuan," ucap dia.

Baca juga:

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau