Intensitas curah hujan lebih rendah daripada banjir di Jabodetabek pada tahun 2020 lalu. Namun, dampak banjir di Jabodetabek pada 2025 masih tetap luas.
Terdapat sejumlah faktor di luar iklim yang turut memperparah banjir di Jabodetabek. Salah satunya adalah alih fungsi lahan di kawasan hulu, dengan luas vegetasi berubah menjadi area terbangun mencapai 21.000 hektar.
Faktor lainnya adalah pembangunan di zona dataran banjir dan sempadan sungai.
"Mungkin karena pemantauan yang kurang tadi. Jadi masyarakat dan sebenarnya tidak hanya masyarakat miskin, banyak juga bangunan-bangunan permanen yang bernilai besar begitu ya itu juga digunakan," ucap Saut.
Faktor lainnya adlaah infrastuktur pengendalian banjir tidak adaptif dan tangguh. Kemudian, peringatan dini dan respons evakuasinya tidak merata.
"Infrastruktur pengendaliannya tidak serius," ujar Saut.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya