KOMPAS.com - Ikan yang hidup di air tawar disebut lebih mampu bertahan hadapi kenaikan suhu dibanding ikan di laut.
Hal itu merupakan kesimpulan dari studi yang dilakukan oleh ahli ekologi Wilco Verberk dari Radboud University di Belanda.
Menurutnya, sangat penting untuk tidak menyamaratakan ikan air tawar dan ikan laut saat memprediksi dampak pemanasan suhu akibat perubahan iklim.
Baca juga:
Dalam studinya, Verberk mengumpulkan data dari lebih dari 300 studi yang mencakup lebih dari 500 spesies ikan. Analisisnya menunjukkan bahwa ikan air tawar memang lebih mampu beradaptasi dengan perubahan suhu air.
Hal itu menurutnya tidak terlalu mengejutkan.
"Suhu air di sungai dan aliran air berubah-ubah jauh lebih drastis antar musim dibandingkan suhu di laut. Jadi, dari sisi evolusi, masuk akal jika ikan air tawar lebih siap untuk menghadapi perubahan suhu," jelas Verberk, dilansir dari Phys.org, Jumat (6/3/2026).
Namun, ketangguhan ikan air tawar ini bukan cuma karena mereka terbiasa dengan suhu yang naik-turun.
Ternyata, ikan air tawar disebut punya "keahlian khusus" atau kemampuan tersembunyi yang membuat mereka lebih unggul dibanding ikan laut.
Verberk belum memastikan apa sebenarnya kemampuan tambahan itu, tapi dia punya dugaan kuat bahwa mungkin ini ada hubungannya dengan cara tubuh mereka mengolah oksigen.
"Di perairan air tawar, kadar oksigen dan suhu itu jauh lebih sering berubah-ubah dibanding di laut. Kita tahu, ikan yang terbiasa hidup dengan oksigen minim biasanya lebih jago bertahan di suhu yang lebih panas," terang dia.
Baca juga:
Ikan yang hidup di air tawar disebut lebih mampu bertahan hadapi kenaikan suhu dibanding ikan di laut.
Singkatnya, penelitian yang dimuat dalam Ecology Letters menunjukkan bahwa ikan laut mungkin lebih rentan terhadap perubahan iklim dibandingkan ikan air tawar.
Selain itu, toleransi terhadap suhu panas hanyalah salah satu faktor, seberapa sering mereka terpapar suhu ekstrem juga memegang peran yang sangat penting.
Hasil studi ini tentu menjadi hal yang penting karena banyak orang bergantung pada ikan sebagai sumber protein.
"Penelitian kami menunjukkan bahwa hasil tes di laboratorium sangat mirip dengan kondisi suhu asli di habitat ikan. Akibatnya, pemanasan global kemungkinan besar akan membuat banyak spesies ikan berpindah tempat, dan ini menjadi ancaman serius bagi ketahanan pangan kita," tambah Verberk.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya