JAKARTA, KOMPAS.com - Di antara bangunan gedung Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Polri Palmerah, Jakarta Barat, berdiri area hidroponik dan bioflok untuk menyuplai bahan baku program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Tampak area bertuliskan Greenhouse itu tertutup dengan netting pagar plastik, guna menjaga sirkulasi udara dan melindungi tanaman dari hama serta intensitas cahaya matahari berlebih.
Baca juga:
Melangkah lebih dalam, beberapa jenis sayur hijau dari selada, pakcoi, hingga bayam tumbuh di atas media tanam hidroponik. Selain sayuran, terdapat kolam bioflok yang dimanfaatkan untuk budidaya ikan.
Teknologi ini mengandalkan mikroorganisme untuk menjaga kualitas air sekaligus efisiensi pakan. Jenis ikan yang dibudidayakan, antara lain lele, dori, dan patin.
Kepala SPPG Polri Palmerah, Mustaqim Awaludin mengatakan greenhouse tersebut dibangun Polda Metro Jaya.
"Sejauh ini yang ada di greenhouse ada delapan kolam ikan dan delapan meja hidroponik. Jadi dari ikannya ketika SPPG akan memasak menu ikan, kami bisa mengambil dari sana untuk sayuran juga beberapa kami bisa ngambil dari sana," kata Mustaqim saat ditemui di lokasi, Rabu (18/2/2026).
"Tetapi karena jumlahnya, kapasitasnya yang cukup (terbatas) jadi kami juga masih mengambil suplai bahan baku dari supplier yang ada," imbuh dia.
Baca juga:
Untuk suplai tambahan, pihaknya bekerja sama dengan Koperasi Metro Jakarta Barat milik Polres Metro Jakarta Barat.
Mustaqim memastikan, greenhouse akan terus dikembangkan mengingat kebutuhan bahan baku untuk MBG yang disalurkan ke 2.518 penerima, di antaranya siswa sekolah, ibu hamil, dan ibu menyusui.
"Nanti tanaman yang ditanam juga akan disesuaikan dengan permintaan dari SPPG. Karena beberapa tanaman mungkin ada yang enggak bisa dimanfaatkan di SPPG, yang bisa dimanfaatkan di SPPG cuma pokcoy, sawi hijau atau caisim nanti difokuskan untuk tanaman tersebut," jelas dia.
Bioflok di SPPG Polri Palmerah berisi ikan budidaya untuk MBG, Rabu (18/2/2026). Mustaqim memastikan kebersihan pangan untuk MBG. Petugas mengikuti petunjuk teknis dari Badan Gizi Nasional (BGN). Proses pengolahan pun dilakukan dengan pengaturan waktu ketat untuk menjaga kesegaran makanan.
“Kami mulai persiapan pukul 14.00 WIB, memasak pukul 02.00 dini hari, dan pemorsian pukul 04.00 WIB. Dengan pola ini, makanan yang diterima penerima manfaat selalu segar dan kualitasnya terjaga,” tutur Mustaqim.
Ia menambahkan, SPPG Polri Palmerah dilengkapi Divisi Dokkes Polri untuk pengamanan pangan. Setiap hari sebelum distribusi, makanan diuji kandungan berbahaya seperti formalin, nitrit, dan boraks.
Sebelum digunakan, food tray atau tempat MBG direndam air panas lalu dikeringkan dengan mesin khusus pada suhu tertentu untuk membunuh kuman.
Setelah itu, peralatan disimpan di bawah sinar ultraviolet (UV) guna memastikannya steril sebelum digunakan kembali.
Adapun SPPG Polri mulai beroperasi pada awal Januari 2026, dan telah ditinjau langsung Presiden Prabowo Subianto, Jumat (13/2/2026) lalu.
Hingga kini, SPPG Polri Palmerah menyalurkan makanan bergizi kepada 2.518 penerima manfaat yang mencakup balita, ibu hamil (bumil), dan ibu menyusui (busui), serta peserta didik dari jenjang PAUD hingga SMP.
Mustaqim menyampaikan, distribusi MBG dilakukan ke SMPN 111 Jakarta, SDN Palmerah 05, SDN Palmerah 07, SDN Palmerah 13, TK Kemala Bhayangkari, serta PAUD Pelangi RW 07. Selain sekolah, SPPG Polri Palmerah menyalurkan MBG ke sejumlah posyandu.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya