Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dampak Longsor di Bantargebang Menurut Ahli, Akumulasi Gas Metana hingga Air Lindi

Kompas.com, 9 Maret 2026, 16:44 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Longsor di tempat pengelolaan sampah terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat, pada Minggu (8/3/2026), menewaskan empat orang dan lima orang lainnya masih dalam pencarian. 

Peristiwa terjadi ketika sejumlah truk sampah mengantre untuk membuang muatan ke area TPST Bantargebang. Longsoran sampah menimpa sopir truk yang mengantre dan sejumlah warga yang berada di sekitar area pembuangan.

Baca juga:

Pantauan Kompas.com di lokasi kejadian pada Senin (9/3/2026) pagi, sebanyak 15 unit ekskavator dikerahkan untuk membuka timbunan sampah dan mempercepat proses pencarian.

Mengapa longsor di Bantargebang terjadi?

Lahan terbatas, jumlah sampah terlalu banyak

Para pemulung di Gunungan Sampah TPST Bantargebang, Kamis (12/2/2026). Longsor di Bantargebang, Minggu (8/3/2026), bisa diakibatkan keterbatasan lahan dan banyaknya sampah. Ada pula dampak pada air lindi dan gas metana.KOMPAS.com/HAFIZH WAHYU DARMAWAN Para pemulung di Gunungan Sampah TPST Bantargebang, Kamis (12/2/2026). Longsor di Bantargebang, Minggu (8/3/2026), bisa diakibatkan keterbatasan lahan dan banyaknya sampah. Ada pula dampak pada air lindi dan gas metana.

Jumlah sampah yang masuk ke TPST Bantargebang saat ini mencapai 7.500 ton per hari, cukup besar, tapi tidak disertai ketersediaan lahan untuk penimbunan.

Sebenarnya TPST Bantargebang memiliki fasiltias pengelolaan sampah untuk diubah menjadi menjadi bahan bakar alternatif, refuse derived fuel (RDF). Fasilitas RDF tersebut mengelola sampah "segar" dan hasil penambangan di zona penimbunan (landfill mining).

Namun, kapasitas pengelolaan fasilitas RDF tersebut masih terlalu kecil jika dibandingkan dengan jumlah sampah yang masuk ke TPST Bantargebang setiap harinya.

"Karena adanya keterbatasan lahan penimbunan sampah tadi maka lahan penimbunan eksisting sudah sangat tinggi dan curam," ujar Dosen dari Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan (FTSL) ITB, Mochammad Chaerul kepada Kompas.com, Senin (9/3/2026).

Dengan kondisi yang sangat curam, lereng penimbunan menjadi sangat tidak stabil. Imbasnya, ketika ada penambahan beban secara cepat, seperti hujan yang sangat deras, kestabilan lereng penimbunan goyah dan berisiko tinggi terjadi longsor.

Baca juga:

Dampak terhadap air lindi

Menurut Chaerul, longsor berdampak pada air lindi yang terperangkap di dalam timbunan sampah. Air tersebut akan keluar dengan cepat dan berlimpah.

Akibatnya, air yang melewati tumpukan sampah itu tidak bisa masuk ke instalasi pengelolaan air limbah (IPAL) yang tersedia dan meluber ke badan air penerima lainnya yaitu Sungai Ciasem yang berada di sekeliling TPST Bantargebang.

"Itu mengakibatkan pencemaran air limbah yang lebih besar. Termasuk juga berbagai macam gas di antaranya gas metan yang dapat segera keluar dari timbunan sampah," tutur Chaerul.

Akumulasi gas metana

Ia menambahkan, perlu upaya mengantisipasi potensi dampak lanjutan dari longsor tumpukan sampah di TPST Bantargebang. Salah satunya mereduksi risiko kebakaran atau ledakan akibat akumulasi gas metana di sekitar lokasi kejadian.

"Tidak boleh ada sumber atau percikan api di lokasi sehingga harus dipastikan semua pekerja dan seluruh orang yang berada di sekitar lokasi untuk tidak merokok," ucapnya.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Penyelamat Iklim yang Terlupakan, Ini Manfaat Padang Lamun untuk Indonesia
Penyelamat Iklim yang Terlupakan, Ini Manfaat Padang Lamun untuk Indonesia
LSM/Figur
Sering Cek Email Kerja Saat Akhir Pekan? Waspada Dampaknya untuk Mental
Sering Cek Email Kerja Saat Akhir Pekan? Waspada Dampaknya untuk Mental
LSM/Figur
Hari Perempuan Internasional, Rayakan Peran Perempuan di Balik Gerai Kopi
Hari Perempuan Internasional, Rayakan Peran Perempuan di Balik Gerai Kopi
Swasta
Terumbu Karang Bisa Tahan Pemanasan Laut akibat Krisis Iklim?
Terumbu Karang Bisa Tahan Pemanasan Laut akibat Krisis Iklim?
LSM/Figur
Masa Depan Pasar Karbon Tergantung Intervensi Pemerintah, Ini Skenarionya
Masa Depan Pasar Karbon Tergantung Intervensi Pemerintah, Ini Skenarionya
Swasta
Dampak Longsor di Bantargebang Menurut Ahli, Akumulasi Gas Metana hingga Air Lindi
Dampak Longsor di Bantargebang Menurut Ahli, Akumulasi Gas Metana hingga Air Lindi
LSM/Figur
Mengapa Longsor Bantargebang Terjadi Berulang? KLH Soroti Bahaya Open Dumping
Mengapa Longsor Bantargebang Terjadi Berulang? KLH Soroti Bahaya Open Dumping
Pemerintah
Akan Dibor Tahun Ini, PGE Siapkan Infrastruktur PLTP Lumut Balai Unit 3
Akan Dibor Tahun Ini, PGE Siapkan Infrastruktur PLTP Lumut Balai Unit 3
BUMN
Awas Penipuan, PBB Sebut 20 Persen Produk Laut Terindikasi Palsu
Awas Penipuan, PBB Sebut 20 Persen Produk Laut Terindikasi Palsu
Pemerintah
Longsor Bantargebang, Berbagai Pihak Serukan Perombakan Tata Kelola Sampah
Longsor Bantargebang, Berbagai Pihak Serukan Perombakan Tata Kelola Sampah
Pemerintah
Dari Operasional hingga Komunitas, Begini Upaya Musim Mas Perkuat Pemberdayaan Perempuan dan Kesetaraan Gender
Dari Operasional hingga Komunitas, Begini Upaya Musim Mas Perkuat Pemberdayaan Perempuan dan Kesetaraan Gender
BrandzView
411 KK di Lombok Diberi Akses Kelola 560 Hektare Hutan lewat Perhutanan Sosial
411 KK di Lombok Diberi Akses Kelola 560 Hektare Hutan lewat Perhutanan Sosial
Pemerintah
Ini Pekerjaan yang Sulit Digantikan AI Menurut Studi Terbaru
Ini Pekerjaan yang Sulit Digantikan AI Menurut Studi Terbaru
Swasta
PLN Perluas Infrastruktur EV, SPKLU di Kemendag Catat Ribuan Transaksi
PLN Perluas Infrastruktur EV, SPKLU di Kemendag Catat Ribuan Transaksi
BUMN
Perkuat Reputasi Internasional, Proyek Elektrifikasi Kereta Cepat Malaysia Rampung Lebih Awal di Tangan Teknisi PLN
Perkuat Reputasi Internasional, Proyek Elektrifikasi Kereta Cepat Malaysia Rampung Lebih Awal di Tangan Teknisi PLN
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau