KOMPAS.com - Tunjangan Hari Raya (THR) tahun 2026 dinilai tidak akan berkontribusi terhadap peningkatan daya beli masyarakat di tengah inflasi yang terlalu signifikan.
THR tahun 2026 disebut hanya berfungsi sebagai pelindung agar daya beli tidak anjlok semakin parah ketika inflasi "meroket".
Baca juga:
Inflasi terjadi pada sektor pangan, energi, infrastruktur, dan bahkan nilai tukar. Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran berdampak pada depresiasi rupiah cukup tinggi yang pada gilirannya meningkatkan inflasi impor.
Inflasi dalam negeri juga sudah naik sebelum terjadinya ketegangan geopolitik di wilayah tersebut, yang tampak dari harga bahan makanan.
Bahkan, inflasi pada sektor energi berpotensi akan naik secara signifikan, yang pertandanya sudah terlihat sejak bulan Februari 2026.
Dengan inflasi yang menekan dari sisi supply dan demand, agak sulit mengoptimalisasi THR sebagai pendongkrak daya beli masyarakat.
"THR ini justru sering kali hanya digunakan untuk membentengi bagaimana masyarakat tidak terdampak signifikan terhadap kenaikan harga-harga gitu ya. Inflasi ini hampir semua naik, kecuali inflasi inti yang itu mencerminkan daya beli," ujar peneliti pusat makroekonomi dan keuangan INDEF, Abdul Manap Pulungan dalam webinar Ekonomi Lebaran di Tengah Gejolak Perang, Senin (9/3/2026).
Baca juga:
THR dinilai tidak akan berkontribusi terhadap peningkatan daya beli masyarakat di tengah kenaikan inflasi yang signifikan. Simak penjelasannya.Sebagian dana THR kemungkinan dipakai untuk menambal pengeluaran tidak terduga selama perjalanan mudik. Apalagi, perjalanan mudik akan menghadapi berbagai kendala, seperti kemacetan, keterbatasan infrastruktur, sampai risiko banjir.
Kendati demikian, kenyataannya, mudik juga tidak akan berdampak signifikan terhadap perekonomian di tingkat regional karena memang daya beli melemah.
Di sisi lain, terdapat pula permasalahan lainnya yang berpotensi menambah beban biaya, di antaranya keterbatasan produksi pangan, ketersediaan energi minyak dan gas (migas), gangguan distribusi, serta risiko dampak spekulasi dan penimbunan.
Manap memperkirakan nilai total THR pegawai aparatur sipil negara (ASN) dan karyawan swasta sekitar Rp 200 triliun. Jika dikomparasikan terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia, angkanya hanya 0,5-0,8 persen saja.
THR dinilai tidak akan berdampak besar terhadap perekonomian Indonesia pada kuartal pertama tahun 2026 karena saya beli sudah tergerus.
Selama bulan Ramadhan, konsumsi kelas menengah harus dibedakan menjadi tier bawah dan tier atas. Kalau kelas menengah tier atas akan tetap sering ke mal untuk berbuka bersama.
Jumlah kelas menengah tier atas yang konsumsinya tinggi di Indonesia jauh lebih sedikit daripada tier bawah.
Sementara itu, kelas menengah tier bawah masih berupaya mempertahankan konsumsinya. Kelas menengah tier bawah di Indonesia itu hampir miskin.
"Bisa makan saja sudah syukur ya (kelas menengah tier bawah). Jadi, saya pikir (kelas menengah) tetap konsumsi, tapi kelas menengah (tier) atas saja yang menikmati konsumsi tinggi selama Ramadan ini," ucapnya.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya