KOMPAS.com - Esklasi serangan Amerika Serikat-Israel versus Iran dapat memicu kenaikan harga minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO). Kenaikan harga CPO yang disertai melambung biaya logistik akan mengguncang negara-negara importir terbesar dari Indonesia, seperti India.
"Ini yang ditakutkan, harga CPO bisa saja naik karena harga minyak bumi terkerek naik. Tetapi, kalau pembeliannya dia (India dan negara-negara importir) tahan, dalam arti karena harga terlalu mahal, maka kita (Indonesia) punya masalah," ujar Sekretaris Jenderal DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO), Rino Afrino ketika dihubungi Kompas.com, Senin (2/3/2026).
Baca juga:
Eskalasi serangan AS-Israel ke Iran berpotensi menaikkan harga CPO dan pupuk global. Petani Indonesia bisa terdampak cukup parah.India memenuhi 60 persen kebutuhan CPO dalam negerinya dengan mengimpor dari Indonesia.
CPO akan menumpuk dalam tangki-tangki di Indonesia jika India memutuskan "menahan" untuk mengimpor ketika harganya melonjak akibat penutupan penutupan Selat Hormuz, jalur pelayaran yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudera Hindia untuk perdagangan.
Saat ekspor CPO menurun, pabrik kelapa sawit (PKS) membeli tandan buah segar (TBS) petani.
"Ini kembali mengulangi akhir pelarangan ekspor, harga dunia cantik, tetapi harga petaninya anjlok serendah-rendahnya," tutur Rino.
Petani kelapa sawit memiliki daya tawar dan kemampuan untuk bertahan yang sangat lemah. Petani juga tidak mempunyai tangki CPO seperti PKS.
Tangki CPO bisa memperpanjang "napas" PKS dalam situasi "krisis" hingga satu sampai dua bulan. Tanpa tangki CPO, petani kelapa sawit hanya memiliki "napas" satu kali 24 jam.
"Itu yang menakutkan," ucapnya.
Baca juga:
Asap membubung dari Bandara Internasional Erbil, yang dihuni pasukan koalisi Amerika Serikat di Irak, di tengah pertempuran AS-Israel dengan Iran pada Minggu (1/3/2026).Ketegangan geopolitik di wilayah tersebut juga berisiko mengerek harga pupuk global. Apalagi, hampir semua bahan baku pupuk di Indonesia harus diimpor.
Berkaca dari pengalaman pada perang Rusia-Ukraina, kenaikan harga pupuk menjadi momok yang menakutkan bagi petani. Rino meminta petani kelapa sawit bersiap untuk menghadapi segala kemungkinan terburuk.
"Kenapa naik harga pupuk? Ya tentu saja ada korelasinya dengan minyak bumi yang sulit keluar dari selat tersebut. Kepada petani-petani sawit, kalau bisa beli pupuk sekarang, beli pupuk," ujar Rino.
Ia mengimbau petani kelapa sawit untuk mengurangi biaya produksi dengan mengutamakan yang paling pokok dalam perkebunan. Ia meyakini konflik Israel dan AS versus Iran tidak akan berkepanjangan.
"Petani sawit terkenal tahan banting, tetapi tahannya berapa lama? Ini juga akan Lebaran," tutur Rino.
Ironisnya, di saat bersamaan, regulasi terbaru memberlakukan tarif pungutan ekspor CPO sebesar 12,5 persen dari harga yang ditetapkan Kementerian Perdagangan.
Ia menuturkan, kenaikan tarif pungutan ekspor tidak mempertimbangkan faktor risiko perang terhadap CPO. Kenaikan tarif pungutan ekspor tersebut hanya memperhatikan fluktuasi harga TBS di tingkat petani masih Rp 3.000-an per kilogram (kg)
"Jadi, saya yakin teman-teman fiskal keuangan itu masih melihat bagaimana negara bisa menahan supaya harga domestiknya tidak terlalu tinggi. Saya termasuk orang yang tidak punya cita-cita harga TBS (Rp) 5.000 (kg). Kalau harga TBS (Rp) 5.000 (kg) berarti harga CPO-nya berapa? Kan minyak goreng jadi berapa? Sabun jadi berapa? Sampo berapa? Petaninya senyum, ibu-ibu mampus kan gitu," terang Rino.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya