Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Perang AS-Israel Vs Iran Picu Lonjakan Harga CPO, Petani Sawit Bisa Paling Terdampak

Kompas.com, 3 Maret 2026, 11:07 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Esklasi serangan Amerika Serikat-Israel versus Iran dapat memicu kenaikan harga minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO). Kenaikan harga CPO yang disertai melambung biaya logistik akan mengguncang negara-negara importir terbesar dari Indonesia, seperti India.

"Ini yang ditakutkan, harga CPO bisa saja naik karena harga minyak bumi terkerek naik. Tetapi, kalau pembeliannya dia (India dan negara-negara importir) tahan, dalam arti karena harga terlalu mahal, maka kita (Indonesia) punya masalah," ujar Sekretaris Jenderal DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO), Rino Afrino ketika dihubungi Kompas.com, Senin (2/3/2026).

Baca juga:

Serangan AS-Israel ke Iran dan harga minyak kelapa sawit

Petani kelapa sawit bisa terdampak parah, mengapa?

Eskalasi serangan AS-Israel ke Iran berpotensi menaikkan harga CPO dan pupuk global. Petani Indonesia bisa terdampak cukup parah.freepik.com Eskalasi serangan AS-Israel ke Iran berpotensi menaikkan harga CPO dan pupuk global. Petani Indonesia bisa terdampak cukup parah.

India memenuhi 60 persen kebutuhan CPO dalam negerinya dengan mengimpor dari Indonesia.

CPO akan menumpuk dalam tangki-tangki di Indonesia jika India memutuskan "menahan" untuk mengimpor ketika harganya melonjak akibat penutupan penutupan Selat Hormuz, jalur pelayaran yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudera Hindia untuk perdagangan.

Saat ekspor CPO menurun, pabrik kelapa sawit (PKS) membeli tandan buah segar (TBS) petani.

"Ini kembali mengulangi akhir pelarangan ekspor, harga dunia cantik, tetapi harga petaninya anjlok serendah-rendahnya," tutur Rino.

Petani kelapa sawit memiliki daya tawar dan kemampuan untuk bertahan yang sangat lemah. Petani juga tidak mempunyai tangki CPO seperti PKS.

Tangki CPO bisa memperpanjang "napas" PKS dalam situasi "krisis" hingga satu sampai dua bulan. Tanpa tangki CPO, petani kelapa sawit hanya memiliki "napas" satu kali 24 jam.

"Itu yang menakutkan," ucapnya.

Baca juga:

Dampak serangan AS-Israel ke Irak dan harga pupuk global

Asap membubung dari Bandara Internasional Erbil, yang dihuni pasukan koalisi Amerika Serikat di Irak, di tengah pertempuran AS-Israel dengan Iran pada Minggu (1/3/2026).AFP/SHVAN HARKI Asap membubung dari Bandara Internasional Erbil, yang dihuni pasukan koalisi Amerika Serikat di Irak, di tengah pertempuran AS-Israel dengan Iran pada Minggu (1/3/2026).

Ketegangan geopolitik di wilayah tersebut juga berisiko mengerek harga pupuk global. Apalagi, hampir semua bahan baku pupuk di Indonesia harus diimpor.

Berkaca dari pengalaman pada perang Rusia-Ukraina, kenaikan harga pupuk menjadi momok yang menakutkan bagi petani. Rino meminta petani kelapa sawit bersiap untuk menghadapi segala kemungkinan terburuk.

"Kenapa naik harga pupuk? Ya tentu saja ada korelasinya dengan minyak bumi yang sulit keluar dari selat tersebut. Kepada petani-petani sawit, kalau bisa beli pupuk sekarang, beli pupuk," ujar Rino.

Ia mengimbau petani kelapa sawit untuk mengurangi biaya produksi dengan mengutamakan yang paling pokok dalam perkebunan. Ia meyakini konflik Israel dan AS versus Iran tidak akan berkepanjangan.

"Petani sawit terkenal tahan banting, tetapi tahannya berapa lama? Ini juga akan Lebaran," tutur Rino.

Ironisnya, di saat bersamaan, regulasi terbaru memberlakukan tarif pungutan ekspor CPO sebesar 12,5 persen dari harga yang ditetapkan Kementerian Perdagangan.

Ia menuturkan, kenaikan tarif pungutan ekspor tidak mempertimbangkan faktor risiko perang terhadap CPO. Kenaikan tarif pungutan ekspor tersebut hanya memperhatikan fluktuasi harga TBS di tingkat petani masih Rp 3.000-an per kilogram (kg)

"Jadi, saya yakin teman-teman fiskal keuangan itu masih melihat bagaimana negara bisa menahan supaya harga domestiknya tidak terlalu tinggi. Saya termasuk orang yang tidak punya cita-cita harga TBS (Rp) 5.000 (kg). Kalau harga TBS (Rp) 5.000 (kg) berarti harga CPO-nya berapa? Kan minyak goreng jadi berapa? Sabun jadi berapa? Sampo berapa? Petaninya senyum, ibu-ibu mampus kan gitu," terang Rino.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
Pemerintah
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total 'Great Barrier Reef' Akibat El Nino
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total "Great Barrier Reef" Akibat El Nino
Pemerintah
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau