Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kesepakatan Impor Migas RI-AS Dinilai Berisiko bagi Ketahanan Energi Nasional

Kompas.com, 11 Maret 2026, 16:17 WIB
Bambang P. Jatmiko

Editor

JAKARTA, KOMPAS.com - Perjanjian perdagangan resiprokal (Agreement on Reciprocal Trade/ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS) yang mencakup komitmen impor minyak dan gas dinilai berpotensi menimbulkan risiko bagi ketahanan energi nasional, terutama di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Hal tersebut terungkap dalam laporan Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA) berjudul "Golden Age or Energy Dependence? Evaluating the Indonesia-US Trade Deal Amid Middle East Turmoil".

Laporan tersebut menilai kesepakatan impor energi dalam perjanjian ART dapat meningkatkan ketergantungan Indonesia pada pasokan energi dari Amerika Serikat.

Baca juga: Deloitte: Booming Pusat Data Asia Pasifik Uji Ketahanan Sistem Energi Berbagai Negara

Dalam perjanjian tersebut, Indonesia berkomitmen mengimpor produk minyak dan gas dari AS senilai sekitar 15 miliar dollar AS per tahun. Nilai tersebut mencakup impor LPG sebesar 3,5 miliar dollar AS, minyak mentah 4,5 miliar dollar AS, serta bensin olahan senilai 7 miliar dollar AS.

Sebagai perbandingan, pada 2025 nilai impor migas Indonesia mencapai sekitar 32,8 miliar dollar AS, dengan kontribusi impor dari AS sekitar 3 miliar dollar AS.

Dengan adanya kesepakatan baru ini, impor energi dari AS diperkirakan meningkat hingga lima kali lipat menjadi sekitar 15 miliar dollar AS per tahun.

Research & Engagement Lead Indonesia Energy Transition IEEFA, Mutya Yustika, mengatakan komitmen tersebut berpotensi memusatkan hampir setengah impor minyak dan gas Indonesia pada satu negara pemasok.

“Risiko yang terkandung dalam klausul energi ART dapat membatasi fleksibilitas perencanaan energi nasional serta melemahkan keamanan energi jangka panjang dan ketahanan ekonomi Indonesia,” ujar Mutya dalam laporan tersebut dikutip Rabu (11/3/2026).

Di sisi lain, konflik yang terjadi di Timur Tengah juga memengaruhi stabilitas pasokan energi global. Penutupan jalur distribusi energi di Selat Hormuz, yang dilalui sekitar 30 persen perdagangan minyak mentah dunia, dilaporkan menyebabkan lalu lintas kapal tanker di kawasan tersebut turun lebih dari 95 persen. Harga minyak global pun tercatat naik sekitar 13 persen hingga awal Maret 2026.

Dalam jangka pendek, pengalihan impor minyak dari Timur Tengah ke Amerika Serikat dinilai dapat membantu mengurangi risiko gangguan pasokan. Namun, langkah tersebut belum tentu mampu meredam dampak kenaikan harga minyak di pasar global.

Harga Lebih Mahal

Selain itu, harga minyak mentah dari AS relatif lebih mahal dibandingkan beberapa pemasok utama lainnya. Pada 2025, harga rata-rata impor minyak mentah dari AS tercatat sekitar 72,5 dollar AS per barel, lebih tinggi dibandingkan harga impor dari Arab Saudi yang sekitar 69,9 dollar AS per barel.

Perbedaan harga tersebut juga berpotensi bertambah karena jarak pengiriman yang lebih jauh dari Amerika Serikat ke Indonesia, sehingga meningkatkan biaya logistik, transportasi, dan asuransi.

Baca juga: Minyak Jelantah Jadi Pelapis Kayu Anti Rayap, Inovasi Siswa SMAN 59 Jakarta

IEEFA menilai kebijakan impor energi dalam skema perjanjian tersebut juga berpotensi menghambat upaya Indonesia mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia telah menurunkan nilai impor migas dari 40,4 miliar dollar AS pada 2022 menjadi 32,8 miliar dollar AS pada 2025.

Menurut Mutya, penguatan energi terbarukan dan elektrifikasi transportasi dapat menjadi strategi penting untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi dampak fluktuasi harga energi global.

“Ketahanan energi tidak hanya soal ekonomi, tetapi juga terkait dengan kedaulatan nasional dalam menentukan arah sistem energi di masa depan,” kata Mutya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
Pemerintah
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau