Penulis
KOMPAS.com - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menguraikan sejumlah solusi mengurangi beban Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang di Kota Bekasi, Jawa Barat.
Apalagi TPST Bantargebang yang usianya sekitar 40 tahun ini sudah tergolong "kritis", salah satunya karena menerima rata-rata 7.345 ton sampah setiap harinya dari seluruh kabupaten/kota di Jakarta.
Adapun pada Minggu (8/3/2026) lalu terjadi longsor di Bantargebang yang menewaskan tujuh orang, sedangkan enam orang lainnya selamat, dilaporkan oleh Kompas.com, Selasa (10/3/2026).
Baca juga:
Kepala Dinas LH DKI Jakarta ajak warga pilah sampah rumah tangga demi ringankan beban harian TPST Bantargebang.Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Asep Kuswanto, menuturkan bahwa kunci utamanya adalah pemilahan sampah. Semakin banyak sampah yang dipilah dari rumah, semakin ringan beban TPST Bantargebang.
Hal ini berlaku untuk lingkup rumah tangga, perkantoran hingga kawasan permukiman.
"Upaya pengurangan sampah di sumber merupakan bagian penting dari strategi jangka panjang pengelolaan sampah Jakarta, sekaligus untuk mengurangi beban timbunan yang masuk ke tempat pemrosesan akhir setiap harinya," kata Asep, dilansir dari Antara, Rabu (11/3/2026).
Pemilahan sampah bisa dilakukan dengan beberapa cara, salah satunya mengelompokkan sampah menjadi beberapa kategori.
Pisahkan sampah yang mudah terurai dan material yang bisa didaur ulang. Jangan lupa pisahkan pula sampah residu dan sampah B3 rumah tangga.
Selain memilah, masyarakat juga didorong untuk melakukan pengomposan dan memakai kembali barang-barang yang masih layak guna.
"Langkah-langkah tersebut terbukti efektif menekan volume sampah yang harus diangkut ke fasilitas pengolahan maupun tempat pemrosesan akhir," kata Asep.
Baca juga:
Salah satu sudut RDF Rorotan di Jakarta Utara. Kepala Dinas LH DKI Jakarta ajak warga pilah sampah rumah tangga demi ringankan beban harian TPST Bantargebang.Pemprov DKI Jakarta juga memperkuat sistem dari hulu hingga hilir. Salah satunya adalah lewat fasilitas pengolahan sampah modern, termasuk pengembangan Refuse Derived Fuel (RDF) Plant di Rorotan, Jakarta Utara.
Sampah di fasilitas tersebut akan diolah menjadi bahan bakar alternatif, khususnya oleh industri semen.
Namun, Asep menegaskan bahwa teknologi saja tidak akan cukup karena harus didukung oleh partisipasi aktif dari masyarakat.
"Jika masyarakat semakin aktif memilah dan mengurangi sampah, maka sistem pengelolaan sampah Jakarta akan semakin berkelanjutan dan beban TPST Bantargebang dapat terus berkurang karena hanya residu yang dikirim ke sana," kata Asep.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya