Penemuan lainnya, responden yang mengalami kelelahan otak melaporkan melakukan 39 persen lebih banyak kesalahan besar dibandingkan rekan-rekan mereka yang tidak mengalami jenis kelelahan yang sama.
Para profesional di bidang pemasaran, operasional, teknik, keuangan, dan teknologi informasi (TI) adalah yang paling mungkin melaporkan mengalami penurunan fungsi otak (brain fry).
"Saat karyawan beralih dari menggunakan satu alat AI ke dua alat secara bersamaan, mereka mengalami peningkatan produktivitas yang signifikan. Ketika mereka menambahkan alat ketiga, produktivitas kembali meningkat, tetapi dengan laju yang lebih rendah, setelah menggunakan tiga alat skor produktivitas menurun," jelas peneliti.
Tingkat prevalensi kelelahan otak akibat AI sangat bervariasi tergantung pada peran masing-masing orang. Pada tingkat terendah, hanya enam persen dari mereka yang bekerja di bidang hukum melaporkan mengalaminya dibanding 26 persen pekerja di bidang pemasaran.
Baca juga: Skill Apa yang Wajib Dikuasai Pekerja pada Era AI?
"Setelah pemasaran, fungsi-fungsi dengan prevalensi kelelahan otak akibat AI tertinggi adalah manajemen sumber daya manusia, operasional, teknik, keuangan, dan TI," tutur peneliti.
Sementara itu, para peneliti mengungkapkan penggunaan AI tampaknya tidak memicu peningkatan kelelahan kerja berkepanjangan (burnout).
"Ada preseden dalam literatur untuk pemisahan kelelahan kerja dari dampak kognitif akut. Pengukuran kelelahan kerja biasanya berfokus pada dimensi fisik dan emosional dari tekanan," sebut mereka.
Baca juga: Milenial Jadi Pengguna AI Paling Efektif 2025, Mengapa?
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya