KOMPAS.com - Sering pakai chatbot AI (Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan) selama berjam-jam untuk keperluan pekerjaan? Studi terbaru menunjukkan bahwa interaksi intensif dengan AI dalam waktu lama dapat memicu kelelahan mental atau yang disebut sebagai AI brain fry.
Para peneliti dari Harvard University, Amerika Serikat (AS), menyurvei lebih dari 1.488 pekerja penuh waktu di perusahaan-perusahaan besar AS untuk mengetahui seberapa banyak mereka menggunakan AI dalam pekerjaan. Selain itu, mereka menganalisis bagaimana AI memengaruhi kognisi serta emosi responden.
Baca juga: Bukan PHK, Survei Sebut AI Bakal Perbanyak Lowongan Kerja
Hasilny,a menunjukkan, sekitar 14 persen responden melaporkan merasakan kondisi AI brain fry setelah percakapan intensif dengan sistem AI.
"Kami menyebutnya AI brain fry, yang kami definisikan sebagai kelelahan mental akibat penggunaan atau pengawasan berlebihan terhadap alat AI di luar kapasitas kognitif seseorang. Para peserta menggambarkan perasaan berdengung atau kabut mental dengan kesulitan fokus, pengambilan keputusan yang lebih lambat, dan sakit kepala," kata peneliti, dikutip dari laman resmi Harvard Business Review, Jumat (13/3/2026).
Baca juga:
Kelelahan otak terjadi pada pekerja yang terlalu sering bekerja menggunakan chatbot AI. Apa alasannya? Banyak responden menggambarkan kondisi tersebut sebagai sensasi kabut atau berdengung di kepala.
Interaksi bolak-balik yang intens dengan alat AI sering kali diikuti ketidakmampuan untuk berpikir jernih, bahkan menyerupai kondisi mabuk mental.
Gejala yang dilaporkan antara lain kesulitan berkonsentrasi, lambat dalam mengambil keputusan, dan sakit kepala. Beberapa responden mengaku harus menjauh sejenak dari komputer untuk mengatur ulang kondisi mental mereka.
Tim juga meneliti bagaimana orang berinteraksi dengan AI untuk mengidentifikasi tugas mana yang paling menimbulkan rasa lelah. Hasilnya menunjukkan, jenis pekerjaan yang paling memicu kelelahan mental adalah tugas pengawasan terhadap sistem AI.
Dalam situasi ini, karyawan harus memantau dan memeriksa hasil yang dihasilkan oleh AI.
Masalah ini menjadi semakin umum terjadi lantaran perusahaan mulai meminta karyawan untuk membangun dan mengelola AI, yang mampu melakukan tugas dengan sedikit pengawasan manusia.
Baca juga: Tren Cyberbullying pada Anak Meningkat, Diperparah oleh AI
“Bertentangan dengan janji memiliki lebih banyak waktu untuk fokus pada pekerjaan yang bermakna, juggling dan multitasking dapat menjadi ciri khas bekerja dengan AI," tulis para peneliti.
Para pekerja yang melakukan pemantauan semacam ini melaporkan kelelahan mental 12 persen lebih tinggi daripada mereka yang tidak melakukannya.
Pekerjaan dengan bantuan AI menyebabkan pekerja mendapatkan kelebihan informasi yang harus diproses lalu memicu kelelahan otak.
Responden juga mengakui, AI meningkatkan beban kerja karena memaksa untuk melacak lebih banyak hasil dalam waktu yang sama.
Kelelahan otak terjadi pada pekerja yang terlalu sering bekerja menggunakan chatbot AI. Apa alasannya? Penemuan lainnya, responden yang mengalami kelelahan otak melaporkan melakukan 39 persen lebih banyak kesalahan besar dibandingkan rekan-rekan mereka yang tidak mengalami jenis kelelahan yang sama.
Para profesional di bidang pemasaran, operasional, teknik, keuangan, dan teknologi informasi (TI) adalah yang paling mungkin melaporkan mengalami penurunan fungsi otak (brain fry).
"Saat karyawan beralih dari menggunakan satu alat AI ke dua alat secara bersamaan, mereka mengalami peningkatan produktivitas yang signifikan. Ketika mereka menambahkan alat ketiga, produktivitas kembali meningkat, tetapi dengan laju yang lebih rendah, setelah menggunakan tiga alat skor produktivitas menurun," jelas peneliti.
Tingkat prevalensi kelelahan otak akibat AI sangat bervariasi tergantung pada peran masing-masing orang. Pada tingkat terendah, hanya enam persen dari mereka yang bekerja di bidang hukum melaporkan mengalaminya dibanding 26 persen pekerja di bidang pemasaran.
Baca juga: Skill Apa yang Wajib Dikuasai Pekerja pada Era AI?
"Setelah pemasaran, fungsi-fungsi dengan prevalensi kelelahan otak akibat AI tertinggi adalah manajemen sumber daya manusia, operasional, teknik, keuangan, dan TI," tutur peneliti.
Sementara itu, para peneliti mengungkapkan penggunaan AI tampaknya tidak memicu peningkatan kelelahan kerja berkepanjangan (burnout).
"Ada preseden dalam literatur untuk pemisahan kelelahan kerja dari dampak kognitif akut. Pengukuran kelelahan kerja biasanya berfokus pada dimensi fisik dan emosional dari tekanan," sebut mereka.
Baca juga: Milenial Jadi Pengguna AI Paling Efektif 2025, Mengapa?
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya