Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

34 Proyek WtE Dibangun Atasi Darurat Sampah, Green Jobs Terbuka untuk Berbagai Jurusan

Kompas.com, 17 Maret 2026, 21:42 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Pemerintah akan membangun 34 fasilitas untuk mengubah sampah menjadi energi (waste to energy / WtE) yang diproyeksikan beroperasi secara penuh pada 2028.

Pembangunan fasilitas WtE tersebut bertujuan mengatasi darurat sampah, dengan 66,26 persen dari 56,89 juta ton sampah per tahun di 512 kabupaten/kota Indonesia belum dikelola.

Di sisi lain, Kementerian ESDM memperkirakan potensi pembangkit listrik tenaga listrik dari sampah (PLTSa) di Indonesia mencapai 2.066 megawatt (MW). Namun, kapasitas PLTSa yang sudah terpasang saat ini masih sangat kecil.

"Outlook 5 sampai 10 tahun ke depan itu akan ada banyak proyek PLTSa, kemudian akan banyak butuh tenaga kerja di sektor energi dan muncul beberapa green jobs ya di bidang WtE. Akan banyak juga diperlukan profesional di bidang engineering, bidang lingkungan dan juga sustainability," ujar Professional Consultant of Environmental Engineering, Dewi Dwirianti dalam webinar Berkarier di PLTSa Peluang Kerja di Industri Waste to Energy, Senin (9/3/2023).

Ada sejumlah teknologi yang digunakan untuk WtE. Pertama, insinerator dengan konversi termal yang paling banyak dipakai pada PLTSa. Kedua, gasifikasi yang berupa teknologi konversi termal lanjutan, sebagaimana PLTSa Benowo di Surabaya dengan kapasitas hanya 9 MW.

Ketiga, adalah refuse derived fuel (RDF) yang mengubah sampah menjadi bahan bakar alternatif atau sebagai co-firing untuk industri semen atau pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Keempat, anaerobic digestion yang menghasilkan biogas dari sampah organik.

Ilustrasi green jobsFreepik Ilustrasi green jobs

Peluang kerja baru PLTSa

Jenis profesi di PLTSa setidaknya terbagi dalam kategori planning and feasibility, engineering & construction, serta plant operation.

Berikut profesi untuk kategori planning and feasibility.

1. Civil engineer
2. Mechanical Engineer
3. Electrical Engineer
4. Instrumentation Engineer
5. Process Engineer
6. Waste Management Specialist
7. Project Development Specialist
8. Infrastrukture Planner
9. Environmental Engineer
10. AMDAL/EIA Specialist
11. Project Finance Analyst
12. Legal & Regulatory Specialist

Berikut profesi untuk kategori engineering & construction.

1. Civil engineer
2. Mechanical Engineer
3. Electrical Engineer
4. Instrumentation Engineer
5. Project Manager
6. Construction Manager
7. EPC Engineer
8. HSE Officer
9. Environmental Compliance Specialist

Berikut profesi untuk kategori plant operation.

1. Mechanical Engineer
2. Electrical Engineer
3. Instrumentation Engineer
4. Process Engineer
5. Plant Operator
6. Control Room Operator
7. HSE Officer
8. Environmental Compliance Specialist
9. Emission Monitoring Specialist
10. Environmental Monitoring Officer
11. Supply Chain & Procurement Specialis
12. Financial Manager
13. Public Relations & Communication
14. Community Engagement Officer

"Apa saja sebetulnya latar belakang pendidikan yang dibutuhkan? Jadi, karier di WtE ini terbuka ya untuk berbagai jurusan karena sektor ini membutuhkan kolaborasi antara teknologi, kemudian lingkungan, energi, dan juga kebijakan," tutur Dewi.

Latar belakang pendidikan yang diperlukan untuk bekerja di industri WtE terbagi dalam empat kelompok. Yaitu, bidang lingkungan (teknik lingkungan, ilmu lingkungan, pengelolaan SDA), sistem energi (teknik elektro, teknik fisika, teknik instrumentasi), engineering (teknik mesin, teknik kimia, teknik material, teknik industri), serta bisnis dan kebijakan (ekonomi, akuntansi, hukum, hubungan internasional).

"Oh, mungkin ilmu komunikasi juga sangat diperlukan ya di sini," ucapnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Pemerintah
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
Pemerintah
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau