KOMPAS.com - Terlalu banyak konsumsi makanan ultra-proses (ultra-processed food atau UPF) tidak hanya menurunkan kesuburan laki-laki, tapi juga menghambat pertumbuhan embrio serta mengecilkan kantong kuning telur yang sangat penting bagi perkembangan awal janin, menurut penelitian terbaru.
Peneliti menyarankan agar calon orangtua mengurangi konsumsi makanan instan, terutama saat merencanakan kehamilan dan selama masa mengandung demi kesehatan, dilansir dari Medical Xpress, Selasa (24/3/2026).
Baca juga:
Terlalu banyak konsumsi makanan ultra-proses (ultra-processed food atau UPF) bisa menurunkan kesuburan dan menghambat pertumbuhan embrio.Kesehatan ayah dan ibu sangat berpengaruh pada keberhasilan kehamilan dan kesehatan anak.
Namun, kali ini ada penelitian yang benar-benar mempelajari bagaimana gabungan pola makan UPF kedua orangtua memengaruhi seberapa lama waktu yang dibutuhkan sampai bisa hamil, serta perkembangan awal janin.
Konsumsi UPF terus meningkat pesat. Makanan ini diproses secara berlebihan, biasanya tinggi gula, garam, lemak jahat, dan bahan tambahan, tapi rendah serat dan nutrisi penting.
Tujuannya memang dibuat agar praktis dan diproduksi massal, bukan demi kesehatan.
Di beberapa negara maju, makanan jenis ini bahkan sudah menyumbang 50–60 persen dari apa yang dimakan masyarakat setiap harinya.
"Meskipun UPF sudah sangat umum dalam pola makan, masih sedikit sekali yang diketahui tentang pengaruhnya terhadap kesuburan dan perkembangan awal manusia," ujar dokter anak dan profesor dari Erasmus University Medical Center, Belanda, yang memimpin penelitian ini, Dr. Romy Gaillard.
Dalam studinya, Gaillard dan timnya menganalisis hasil penelitian terhadap 831 perempuan dan 651 pasangan laki-laki yang tergabung dalam sebuah studi besar bernama Generation R Study Next Program.
Studi ini memantau para orangtua mulai dari sebelum hamil sampai anak-anak mereka tumbuh besar.
Pasangan-pasangan ini mulai diikuti sejak masa persiapan hamil atau selama masa kehamilan antara tahun 2017 hingga 2021.
"Kami melihat bahwa konsumsi UPF pada perempuan tidak selalu langsung berhubungan dengan risiko kemandulan atau lamanya waktu untuk hamil. Namun, hal ini berkaitan dengan pertumbuhan embrio yang sedikit lebih kecil serta ukuran kantong kuning telur yang menyusut pada minggu ketujuh kehamilan," kata penulis utama studi dan mahasiswa S3 di Erasmus University Medical Center, Celine Lin.
"Ini menunjukkan untuk pertama kalinya bahwa konsumsi UPF tidak hanya penting bagi kesehatan sang ibu, tapi juga berkaitan dengan perkembangan calon anaknya," tambah para peneliti.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya