Peneliti mengamati pula konsumsi UPF yang lebih tinggi pada laki-laki terkait risiko infertilitas yang lebih tinggi.
"Temuan kami menyarankan bahwa pola makan rendah UPF adalah yang terbaik bagi kedua pasangan, bukan cuma buat kesehatan mereka sendiri, tapi juga buat peluang hamil dan kesehatan calon bayi mereka nanti," tambah Gaillard.
Sementara itu, penelitian lain menunjukkan bahwa pertumbuhan embrio yang lambat pada tiga bulan pertama kehamilan (trimester pertama) berisiko menyebabkan masalah saat lahir.
Risikonya, antara lain bayi lahir prematur, berat badan lahir rendah, serta peningkatan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah saat anak tumbuh besar.
Selain itu, gangguan pada perkembangan kantong kuning telur juga berkaitan dengan tingginya risiko keguguran dan kelahiran prematur.
Kendati penelitian menunjukkan UPF pada laki-laki dan perempuan ada hubungannya dengan tingkat kesuburan dan perkembangan awal janin, penelitian ini juga punya batasan.
Menurut peneliti, studi observasi ini baru menunjukkan adanya kaitan, tapi belum bisa membuktikan secara pasti bahwa makanan olahan adalah penyebab langsung dari masalah-masalah tersebut.
Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk membuktikan temuan studi, serta untuk mempelajari proses biologis di balik efek ini. Misalnya, apakah perbedaan pada janin dan kesuburan ini disebabkan oleh rendahnya nilai gizi UPF atau karena paparan bahan tambahan makanan dan mikroplastik yang lebih tinggi?
"Kami juga ingin meneliti apakah perbedaan pada janin di awal kehamilan ini berdampak pada proses kelahiran, serta pertumbuhan dan perkembangan anak selama masa kanak-kanak mereka nanti," tulis peneliti.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya