Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bisakah Pasar Karbon di Asia Tenggara Menjaga Keanekaragaman Hayati?

Kompas.com, 28 Maret 2026, 18:21 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Pasar karbon kerap dinilai sebagai cara "murah" untuk mendanai pelestarian alam, terutama di Asia Tenggara. Namun, ada kesalahan dalam sistemnya yang membuat program ini sulit memberi hasil nyata bagi keanekaragaman hayati dalam jangka panjang.

Proyek karbon berbasis alam, yang menghasilkan poin atau kredit untuk diperjualbelikan dengan cara menyimpan karbon atau menjaga hutan, berkembang sangat cepat.

Baca juga: 

Studi di jurnal Nature Reviews Biodiversity mencatat, sejak tahun 2023, ada lebih dari 130 proyek yang mencakup 20 juta hektar lahan telah terdaftar, dilansir Eco-Business, Sabtu (28/3/2026).

Namun, perkiraan lain menyebutkan angka yang jauh lebih besar yaitu lebih dari 3.000 proyek di seluruh dunia.

Studi tersebut menyebutkan, lebih dari 36 juta kredit karbon senilai 351 juta dollar Amerika Serikat (sekitar Rp 5,96 triliun) dari proyek berbasis alam telah diperjualbelikan di pasar sukarela pada tahun 2023.

Namun, sejak saat itu, kondisi pasar menjadi lebih rapuh karena rendahnya permintaan, ketidakpastian politik, dan keterlambatan prosedur teknis memberatkan yang pasar karbon di Asia Tenggara.

Hal itu terjadi meski pemerintah dan pembeli korporat saat ini mulai mencari kredit karbon yang lebih berkualitas tinggi dan berdampak jangka panjang.

Pasar karbon di Asia Tenggara dan keanekaragaman hayati

Kurang efektif melestarikan alam

Mengapa proyek pasar karbon dianggap berhasil secara teknis tapi gagal secara keanekaragaman hayati, khususnya di Asia Tenggara?Pexels/ Mikhail Nilov Mengapa proyek pasar karbon dianggap berhasil secara teknis tapi gagal secara keanekaragaman hayati, khususnya di Asia Tenggara?

Di sisi lain, proyek-proyek ini penting bagi Asia Tenggara akibat tingginya penebangan hutan dan kurangnya dana pelestarian alam.

Ada sekitar 114 juta hektar hutan terancam di wilayah ini yang sebenarnya bisa diselamatkan melalui program karbon.

Jika berhasil, program ini berpotensi melindungi 25 juta hektar kawasan alam yang sangat penting bagi hewan dan tumbuhan, sekaligus membantu mencapai target pelestarian lingkungan dunia.

Namun, studi tersebut juga memperingatkan bahwa pasar karbon sejak awal memang dirancang untuk mengatasi perubahan iklim, bukan untuk menjaga keanekaragaman hayati.

Perbedaan fokus inilah yang membuat pasar karbon kurang efektif jika digunakan sebagai alat utama untuk melestarikan alam.

Salah satu masalah utamanya adalah aturan "tambahan". Aturan ini mewajibkan sebuah proyek untuk membuktikan bahwa mereka benar-benar mengurangi polusi lebih banyak daripada jika proyek itu tidak ada.

Meski aturan ini penting untuk menghitung karbon, dampaknya dinilai buruk bagi alam. Banyak kawasan hutan yang masih sangat sehat dan utuh jadi tidak bisa ikut program ini hanya karena hutan tersebut dianggap "aman" dari penebangan.

Padahal, hutan-hutan ini punya kekayaan hewan dan tumbuhan yang luar biasa, tapi mereka tidak menghasilkan banyak "poin karbon" untuk dijual.

Mengapa proyek pasar karbon dianggap berhasil secara teknis tapi gagal secara keanekaragaman hayati, khususnya di Asia Tenggara?Freepik/wirestock Mengapa proyek pasar karbon dianggap berhasil secara teknis tapi gagal secara keanekaragaman hayati, khususnya di Asia Tenggara?

Hal serupa juga terjadi pada upaya menangani "kebocoran" yaitu ketika penebangan hutan hanya berpindah ke luar area proyek. Aturan yang ada saat ini lebih fokus menghitung berapa banyak polusi yang pindah tempat, bukannya mencegah kerusakan alam itu sendiri.

Akibatnya, kerusakan lingkungan tetap terjadi di tempat lain sehingga tujuan pelestarian alam gagal tercapai meskipun proyek tersebut secara teknis dianggap berhasil menjaga jumlah karbonnya.

Konsep "keberlanjutan" juga menjadi tantangan besar. Proyek karbon biasanya dirancang untuk jangka waktu 40 hingga 100 tahun, dengan sistem cadangan untuk mengganti rugi jika ada kegagalan masa depan.

Namun, alam dan makhluk hidup bekerja dalam waktu yang jauh lebih lama dan rumit. Artinya, hilangnya sebuah spesies atau hancurnya habitat asli tidak bisa digantikan begitu saja seperti halnya kita mengganti angka emisi karbon.

Baca juga:

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Uji Gagasan di Desa Binaan Bakti BCA, Gen Z Belajar Beradaptasi dan Mendengar Warga
Uji Gagasan di Desa Binaan Bakti BCA, Gen Z Belajar Beradaptasi dan Mendengar Warga
Swasta
Suhu Gurun Makin Ekstrem, Unta Mulai Kesulitan Bertahan Hidup
Suhu Gurun Makin Ekstrem, Unta Mulai Kesulitan Bertahan Hidup
Pemerintah
Kemendagri Dorong Pembenahan Tata Kelola Desa untuk Percepat Pengentasan Kemiskinan
Kemendagri Dorong Pembenahan Tata Kelola Desa untuk Percepat Pengentasan Kemiskinan
Pemerintah
Suhu Laut Naik, Kemampuan Padang Lamun Menyimpan Karbon Alami Merosot
Suhu Laut Naik, Kemampuan Padang Lamun Menyimpan Karbon Alami Merosot
Pemerintah
Studi Ungkap 25 Persen Emisi Karbon Sektor Pelayaran Dunia dari Kapal di Sungai
Studi Ungkap 25 Persen Emisi Karbon Sektor Pelayaran Dunia dari Kapal di Sungai
Pemerintah
Dampak Karhutla Tak Cukup Dihitung dari Luas Lahan dan Emisi Karbon
Dampak Karhutla Tak Cukup Dihitung dari Luas Lahan dan Emisi Karbon
LSM/Figur
Emisi Gas Rumah Kaca dari Sawah Dunia Naik 2 Kali Lipat dalam 60 Tahun
Emisi Gas Rumah Kaca dari Sawah Dunia Naik 2 Kali Lipat dalam 60 Tahun
Pemerintah
Cara Mengenalkan Alam Tentukan Respons Anak Terhadap Lingkungan
Cara Mengenalkan Alam Tentukan Respons Anak Terhadap Lingkungan
Pemerintah
Konservasi Spesies Indonesia Tak Cukup Andalkan Data, Perlu Kolaborasi Lintas Pihak
Konservasi Spesies Indonesia Tak Cukup Andalkan Data, Perlu Kolaborasi Lintas Pihak
LSM/Figur
Harga Gandum Terancam Naik 3 Kali Lipat Akibat Perubahan Iklim
Harga Gandum Terancam Naik 3 Kali Lipat Akibat Perubahan Iklim
Pemerintah
Perempuan Timur Indonesia dalam Transisi Energi
Perempuan Timur Indonesia dalam Transisi Energi
Pemerintah
Pertemanan Perempuan di Kantor Berkontribusi pada Stabilitas Perusahaan
Pertemanan Perempuan di Kantor Berkontribusi pada Stabilitas Perusahaan
Pemerintah
Minyak Sawit dari Lahan Bekas Karhutla 2026 Berisiko Tak Bisa Masuk Pasar Eropa
Minyak Sawit dari Lahan Bekas Karhutla 2026 Berisiko Tak Bisa Masuk Pasar Eropa
LSM/Figur
Super El Nino Berpotensi Ubah Pola Cuaca Ekstrem di 12 Kota Besar Asia
Super El Nino Berpotensi Ubah Pola Cuaca Ekstrem di 12 Kota Besar Asia
Pemerintah
Sektor Agribisnis Terancam Rugi Rp112,9 Triliun Akibat Biaya Air Tersembunyi
Sektor Agribisnis Terancam Rugi Rp112,9 Triliun Akibat Biaya Air Tersembunyi
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau