Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Limbah Panel Surya Bekas di Australia Mulai Menggunung

Kompas.com, 2 April 2026, 14:18 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber ABC

KOMPAS.com - Menteri Keuangan Australia, Jim Chalmers, dan Menteri Lingkungan Hidup Australia, Murray Watt, mengumumkan skema daur ulang nasional senilai 24 juta dolar AS atau setara Rp 408 miliar untuk mengatasi limbah panel surya bekas yang mulai "menggunung".

Penumpukan limbah panel surya bekas yang dilepaskan dari atap rumah-rumah di Australia perlu segera diatasi, bahkan sebelum skema daur ulang nasional dapat berdiri sendiri.

"Mendaur ulang panel surya dan menggunakan kembali sumber daya penting kita adalah bagian penting dari transformasi energi dan itulah inti dari semua ini," ujar Chalmers, dilansir dari ABC, Kamis (2/4/2026).

Seorang juru bicara pemerintah menyebut, skema daur ulang nasional tersebut merupakan proyek percontohan untuk menguji pengumpulan, pengangkutan, serta daur ulang di dunia nyata dalam upaya mengidentifikasi tantangan dan peluangnya.

Skema percontohan tersebut juga bertujuan mengumpulkan data yang dibutuhkan untuk mengembangkan program pengelolaan lingkungan.

Temuan dari skema percontohan tersebut akan berkontribusi pada proposal tata kelola produk di masa mendatang untuk dipertimbangkan oleh pemerintah. Ini mengingat pada tahun 2030, limbah panel surya di Australia diproyeksikan akan meningkat 18 kali lipat dalam satu dekade ke depannya.

Daur Ulang Panel Surya Tak Menguntungkan

Biaya pengangkutan panel surya bekas dari atap ke fasilitas daur ulang menjadi hambatan utama. Dari aspek keekonomian, daur ulang panel surya bekas sebenarnya sudah hampir mencapai titik impas. Namun, biaya logistik menyebabkan daur ulang panel surya bekas di Australia menjadi tidak menguntungkan.

"Saat ini, memindahkan panel dari atap di daerah pedesaan Australia ke fasilitas daur ulang membutuhkan biaya lebih besar daripada nilai materialnya," ujar Robyn Cowie dari Smart Energy Council, dilansir dari ABC.

Senada, CEO perusahaan daur ulang global, TerraCycle, Tom Szaky mengatakan, daur ulang panel surya tidak menguntungkan dan biaya layanan meningkat seiring semakin jauh jarak untuk mengangkutnya.

"Penting untuk benar-benar waspada terhadap hal ini — membuangnya jauh lebih murah. Menjual bahan-bahan tersebut saja tidak cukup untuk menutupi biaya pengumpulan dan pengolahan," tutur Szaky.

Ia menggarisbawahi bahwa permasalahan sebenarnya dari daur ulang panel surya bekas adalah siapa yang akan membayarnya.

Sejumlah Pelajar SMPN 7 Kota Cirebon yang tergabung dalam Divisi Konservasi Energi, mengembangkan alat siram otomatis berbasis panel surya di sekolahnya pada Selasa (9/9/2025) siang. Mereka kini tengah mengerjakan lampu tembak untuk kegiatan belajar menggunakan metode panel surya.Kompas.com/ MUHAMAD SYAHRI ROMDHON Sejumlah Pelajar SMPN 7 Kota Cirebon yang tergabung dalam Divisi Konservasi Energi, mengembangkan alat siram otomatis berbasis panel surya di sekolahnya pada Selasa (9/9/2025) siang. Mereka kini tengah mengerjakan lampu tembak untuk kegiatan belajar menggunakan metode panel surya.

"Tidak ada jawaban yang tepat, tetapi proyek ini tidak akan membiayai dirinya sendiri. Jika memang demikian, Anda pasti sudah memiliki skema daur ulang yang kuat," ucapnya.

Tak Dibebankan ke Produsen

Kekhawatiran terkait biaya mengingatkan pada skema daur ulang oleh RedCycle, yang bangkrut pada tahun 2022.

Kini, perusahaan-perusahaan yang mengimpor panel surya ke Australia tidak dibebani tanggung jawab untuk pengelolaan limbah usai masa pakainya berakhir.

"Orang-orang yang menghasilkan uang dengan memasok sistem tenaga surya ini tidak melakukan apa pun," tutur mantan CEO Australian Resources Recovery Council, Rick Ralph.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau