Padahal, laporan Komisi Produktivitas mengungkapkan bahwa panel surya mengandung bahan berbahaya, seperti timbal, kadmium dan litium.
Panel surya bekas juga mengandung bahan penting bernilai tinggi lainnya yang dapat menimbulkan risiko kebakaran serius jika tidak dikelola dengan benar.
Merujuk pada laporan Komisi Produktivitas, pemerintah Australia merekomendasikan program tata kelola, yang mana produsen, importir, dan pengecer memikul tanggung jawab bersama atas pengelolaan limbah panel surya.
Skema pertanggungjawaban limbah panel surya dapat serupa dengan sistem deposit wadah (Deposit-Refund System / DRS).
DRS adalah mekanisme pengelolaan yang mana konsumen membayar deposit tambahan saat membeli produk dalam wadah dan mendapatkan kembali uangnya usai menyetorkan sampahnya ke pusat pengumpulan.
Di dalam skema DRS, tanggung jawab pengelolaan limbah panel surya akan diserahkan kepada produsen.
"Pemilik rumah mungkin membayar sedikit lebih banyak di muka, tetapi ini memastikan panel surya mereka didaur ulang secara bertanggung jawab. Hal ini memberikan kepastian kepada publik bahwa pilihan energi hijau mereka tidak memiliki dampak negatif," tutur Cowie.
Sebelumnya, Vice President Operations, Xurya Daya Indonesia, Philip Effendy mengatakan, ekosistem ekonomi sirkular di Indonesia untuk mengelola limbah panel surya masih belum berjalan dengan baik.
Tempat-tempat untuk mengelola limbah B3 di Indonesia memang sudah ada, namun tempat untuk mengembalikan limbah B3 menjadi material dasar yang dapat dipakai lagi belum ada.
"Kami sih berharap sebenarnya ketika kesempatan itu muncul, ada penyedia yang bisa membantu kami menciptakan ekonomi sirkular ini. Kami tentu sebagai pemberi solusi juga akan memastikan kita kerja sama dan mencari win-win solution dari seluruh PLTS atap," tutur Philip di Kota Bekasi, Rabu (11/2/2026).
Terdapat banyak material bernilai dari panel surya yang sudah rusak atau habis masa pakainya, seperti aluminium, tembaga, silika, kasa, sampai microchip.
"Jadi kalau dibedah banyak mineral-mineral yang bisa diekstrak dari alat ini ketika di recycle kembali. Cuman memang di Indonesia belum ada ya untuk (mengelolanya agar bisa dipakai lagi. Cuman kalau di tetangga, Singapore, itu Thailand juga sudah ada," ucapnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya