Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Limbah Panel Surya Bekas di Australia Mulai Menggunung

Kompas.com, 2 April 2026, 14:18 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber ABC

Padahal, laporan Komisi Produktivitas mengungkapkan bahwa panel surya mengandung bahan berbahaya, seperti timbal, kadmium dan litium.

Panel surya bekas juga mengandung bahan penting bernilai tinggi lainnya yang dapat menimbulkan risiko kebakaran serius jika tidak dikelola dengan benar.

Merujuk pada laporan Komisi Produktivitas, pemerintah Australia merekomendasikan program tata kelola, yang mana produsen, importir, dan pengecer memikul tanggung jawab bersama atas pengelolaan limbah panel surya.

Skema pertanggungjawaban limbah panel surya dapat serupa dengan sistem deposit wadah (Deposit-Refund System / DRS).

DRS adalah mekanisme pengelolaan yang mana konsumen membayar deposit tambahan saat membeli produk dalam wadah dan mendapatkan kembali uangnya usai menyetorkan sampahnya ke pusat pengumpulan.

Di dalam skema DRS, tanggung jawab pengelolaan limbah panel surya akan diserahkan kepada produsen.

"Pemilik rumah mungkin membayar sedikit lebih banyak di muka, tetapi ini memastikan panel surya mereka didaur ulang secara bertanggung jawab. Hal ini memberikan kepastian kepada publik bahwa pilihan energi hijau mereka tidak memiliki dampak negatif," tutur Cowie.

Indonesia Belum Bisa Kelola Limbah Panel Surya

Sebelumnya, Vice President Operations, Xurya Daya Indonesia, Philip Effendy mengatakan, ekosistem ekonomi sirkular di Indonesia untuk mengelola limbah panel surya masih belum berjalan dengan baik.

Tempat-tempat untuk mengelola limbah B3 di Indonesia memang sudah ada, namun tempat untuk mengembalikan limbah B3 menjadi material dasar yang dapat dipakai lagi belum ada.

"Kami sih berharap sebenarnya ketika kesempatan itu muncul, ada penyedia yang bisa membantu kami menciptakan ekonomi sirkular ini. Kami tentu sebagai pemberi solusi juga akan memastikan kita kerja sama dan mencari win-win solution dari seluruh PLTS atap," tutur Philip di Kota Bekasi, Rabu (11/2/2026).

Terdapat banyak material bernilai dari panel surya yang sudah rusak atau habis masa pakainya, seperti aluminium, tembaga, silika, kasa, sampai microchip.

"Jadi kalau dibedah banyak mineral-mineral yang bisa diekstrak dari alat ini ketika di recycle kembali. Cuman memang di Indonesia belum ada ya untuk (mengelolanya agar bisa dipakai lagi. Cuman kalau di tetangga, Singapore, itu Thailand juga sudah ada," ucapnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau