KOMPAS.com - Teknologi kecerdasan buatan atau artificiali intelligence (AI) memicu banyaknya perundungan digital (cyberbullying) di kalangan anak-anak.
Kepolisian Isle of Man di Uni Eropa melaporkan peningkatan tajam kasus pelecehan daring yang melibatkan penggunaan AI, termasuk pembuatan gambar tidak senonoh dan deepfake oleh anak-anak.
"Anak muda saling memotret dan kemudian membuat seolah-olah mereka melakukan hal lain," ujar petugas kepolisian, Louise Kennaugh, dilansir dari BBC, Jumat (17/4/2026).
Kennaugh menambahkan bahwa beberapa anak di Isle of Man terpaksa pindah sekolah karena hal tersebut. Bahkan, dalam beberapa kasus, mereka meninggalkan pulau akibat pelecehan daring yang terkait dengan AI.
Baca juga: Manfaatkan AI, Serangan Siber Naik 2 Kali Lipat
"Ini adalah dampak emosional yang sangat besar," imbuh dia.
Perundungan tradisional kini mulai bergeser menjadi cyberbullying dengan konsekuensi yang lebih serius termasuk pekanggaran pidana. Menurutnya, ada beberapa kasus di mana anak muda melukai diri mereka sendiri secara emosional ataupun fisik karena bullying berbasis AI.
"Masalah yang makin meningkat ini memengaruhi anak-anak yang berusia tujuh tahun," beber dia.
Sebagai petugas pendidikan sekolah, Kennaugh mengaku dirinya telah bertanya kepada para murid apakah mereka pernah melihat sesuatu di internet yang membuat takut dan masih membuat mereka takut. Hasilnya, sekitar tiga perempat dari setiap kelas mengangkat tangan mereka menandakan pernah merasakannya.
"Jika ini yang kita temukan di sekolah dasar, situasinya akan semakin memburuk seiring bertambahnya usia anak-anak," ucap Kennaugh.
Meskipun beberapa kasus termasuk perilaku kriminal, dia mengatakan bahwa pendidikan adalah prioritas utama.
Baca juga: Deloitte: Physical AI Diprediksi Ubah Operasi Bisnis dalam Tiga Tahun
"Kami tidak ingin mengkriminalisasi kaum muda, kami ingin mendidik mereka," tutur dia.
Di sisi lain, para orangtua juga didorong untuk tetap memperhatikan aktivitas daring anak-anak mereka. Langkah ini dinilai penting untuk mencegah dampak jangka panjang yang bisa memengaruhi kehidupan anak hingga dewasa.
Kennaugh mengingatkan tanpa penanganan yang tepat, perundungan berbasis AI berpotensi terus berkembang dan membawa konsekuensi serius bagi generasi muda.
"Kami tidak ingin hidup Anda berubah hanya karena membuat dan membagikan sebuah gambar," tutur Kennaugh.
Sebelumnya, Kepala Perwakilan UNICEF di Indonesia, Maniza Zaman menyatakan kasus cyberbullying hingga eksploitasi dan kekerasan seksual secara online pada anak makin meningkat. Ia mengingatkan, kendati banyak manfaatnya digitalisasi bagai pisau bermata dua yakni bisa berdampak positif atau sebaliknya.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya