Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

5,62 Juta Hektar Hutan Indonesia Terbakar Dalam 5 Tahun Terakhir

Kompas.com, 18 April 2026, 18:49 WIB
Add on Google
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Laporan terbaru menyebutkan bahwa 5,62 juta hektar hutan di Indonesia kebakaran selama periode 2019-2024. Tim peneliti menggunakan citra satelit Sentinel-2 yang mampu mendeteksi detail kecil. 

Dibandingkan dengan produk MCD64A1, dataset mereka mendeteksi lebih banyak area terbakar dengan detail spasial dan akurasi yang lebih tinggi.

"Dari Januari 2019 hingga Desember 2024, kebakaran telah membakar 5,62 juta hektar termasuk 2,92 juta hektar yang terbakar satu kali dan 1,12 juta hektar yang terbakar berulang kali. Hal ini merepresentasikan total luas terbakar sebesar 4,04 juta hektar," tulis peneliti dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Plos One dikutip Sabtu (18/4/2026).

Baca juga: BMKG Wanti-wanti Karhutla di Tengah El Nino dan Musim Kemarau

Ditemukan bahwa sebanyak 122.164 hektare hutan primer lembap di Indonesia terbakar, setara dengan 2,2 persen dari total area terbakar. 

Angka ini sangat kontras dibandingkan dengan tahun-tahun kebakaran ekstrem sebelumnya pada 1997-1998 yakni sekitar 5 juta hektar hutan terbakar. Lalu pada 2015-2016 sekitar 450.000 hektare hutan kebakaran.

Sebagaimana diketahui, Indonesia merupakan salah satu titik atau hotspot kebakaran hutan utama di wilayah tropis. Kebakaran hutan setingkali menimbulkan asap lintas negara, yang menyebar ke seluruh Asia Tenggara dan dapat bertahan selama berminggu-minggu.

Hutan dan lahan gambut kini lebih mudah terbakar, dengan aktivitas manusia sebagian besar menjadi penyebabnya. Puluhan tahun deforestasi, pembukaan lahan, dan pengeringan lahan gambut kaya karbon yang dulunya basah dan tahan api membuat area tersebut rentan terbakar.

Baca juga: Waspada, Ancaman Kebakaran Hutan di Indonesia Lebih Berat Saat Musim Kemarau 2026

Pada 2019 dan 2023, aktivitas kebakaran meningkat sekitar bulan Juli dan mencapai puncaknya bulan September-Oktober, bertepatan dengan nilai Oceanic Niño Index (ONI) di atas 0,5 derajat celsius dan Indian Ocean Dipole (IOD) di atas 1,5 derajat celsius.

Sebaliknya, ungkap peneliti, fase netral atau negatif pada periode 2020 hingga 2022 berkaitan dengan minimnya angka kebakaran.

Anomali Iklim

2024 merupakan tahun kebakaran tingkat menengah tanpa adanya anomali iklim yang kuat. Tim menyebutkan, studi mengonfirmasi bahwa anomali iklim berkaitan erat dengan aktivitas kebakaran di Indonesia, sekaligus menegaskan pentingnya ONI dan IOD sebagai sistem peringatan dini.

"Hasil studi kami juga menunjukkan bahwa upaya pencegahan mulai membatasi kebakaran hutan, karena luas kebakaran pada tahun 2019 dan 2023 tetap lebih rendah dibandingkan peristiwa sebelumnya," tutur peneliti.

Dilansir dari Phys, penelitian dimulai dengan menganalisis kondisi lahan sebelum kebakaran. Para peneliti memakai citra dari tiga bulan sebelumnya untuk mendapatkan gambaran yang jelas dan minim gangguan awan.

Citra ini kemudian dibandingkan dengan kondisi setelah kebakaran guna mengidentifikasi perubahan yang terjadi.

Mereka mengolah data menggunakan algoritma Random Forest, model yang dilatih mengenali ciri khas area terbakar seperti arang dan abu lalu membedakannya dari area tidak terbakar seperti vegetasi sehat atau tanah lembap.

Hasil analisis diverifikasi menggunakan data kebakaran independen dari NASA melalui sistem Fire Information for Resource Management System (FIRMS), yang menyediakan informasi harian mengenai titik panas dan kebakaran aktif di seluruh dunia.

Di samping keakurasian data, penelitian juga menemukan kebakaran hutan tidak terjadi secara merata. Sebagian besar kejadiannya terkonsentrasi di Kalimantan, Nusa Tenggara, dan Sumatra. Enam provinsi menyumbang 68 persen dari total area terbakar.

Studi ini menyoroti kuatnya pengaruh iklim terhadap kebakaran. Selain itu, pentingnya pemantauan berbasis data dan peringatan dini untuk mencegah insiden tersebut. 

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Gelombang Panas Picu Harga Jual Listrik di Eropa Jadi Negatif
Gelombang Panas Picu Harga Jual Listrik di Eropa Jadi Negatif
Pemerintah
Kehadiran DSI Disebut Bisa Permudah Implementasi EUDR untuk Produk Sawit
Kehadiran DSI Disebut Bisa Permudah Implementasi EUDR untuk Produk Sawit
LSM/Figur
Dari Literasi ke Aksi, Komunitas Buibu Baca Buku Gerakkan Kepedulian Iklim di 16 Provinsi
Dari Literasi ke Aksi, Komunitas Buibu Baca Buku Gerakkan Kepedulian Iklim di 16 Provinsi
LSM/Figur
Pemerintah akan Wajibkan Masyarakat Kembalikan Air Tanah ke Bumi
Pemerintah akan Wajibkan Masyarakat Kembalikan Air Tanah ke Bumi
Pemerintah
Bappenas Proyeksikan Kerugian Ekonomi akibat Krisis Iklim Capai Rp 2.005 Triliun
Bappenas Proyeksikan Kerugian Ekonomi akibat Krisis Iklim Capai Rp 2.005 Triliun
Pemerintah
PBB Minta Dunia Bersiap Hadapi Ancaman El Niño
PBB Minta Dunia Bersiap Hadapi Ancaman El Niño
Pemerintah
Kekeringan Panjang dan Perubahan Pola Hujan Landa Amazon, Ekosistem Terancam
Kekeringan Panjang dan Perubahan Pola Hujan Landa Amazon, Ekosistem Terancam
Pemerintah
Tantangan di Balik Piring Makan Anak Indonesia: Menyuap Gizi, Membangun Kebiasaan
Tantangan di Balik Piring Makan Anak Indonesia: Menyuap Gizi, Membangun Kebiasaan
LSM/Figur
Harga Bensin Meroket, Warga Pakistan Ramai-Ramai Beralih ke Skuter Listrik
Harga Bensin Meroket, Warga Pakistan Ramai-Ramai Beralih ke Skuter Listrik
Pemerintah
Potensi Lobster RI Melimpah, tapi Teknologi hingga Infrastruktur Belum Memadai
Potensi Lobster RI Melimpah, tapi Teknologi hingga Infrastruktur Belum Memadai
Pemerintah
Mengapa Benua Eropa Mengalami Pemanasan Paling Cepat di Dunia?
Mengapa Benua Eropa Mengalami Pemanasan Paling Cepat di Dunia?
Pemerintah
Kebakaran Hutan Sepanjang 2025 Telan Biaya Termahal dalam Sejarah
Kebakaran Hutan Sepanjang 2025 Telan Biaya Termahal dalam Sejarah
Pemerintah
BBM dari Sawit Dinilai Tak Layak Secara Keekonomian
BBM dari Sawit Dinilai Tak Layak Secara Keekonomian
LSM/Figur
ITDC Gandeng Masyarakat Benoa Kelola Sampah Organik Jadi Eco Enzyme
ITDC Gandeng Masyarakat Benoa Kelola Sampah Organik Jadi Eco Enzyme
BUMN
Awal Juni, BMKG Prediksi Hujan Landa Sejumlah Wilayah Selama Sepekan
Awal Juni, BMKG Prediksi Hujan Landa Sejumlah Wilayah Selama Sepekan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau