KOMPAS.com - Laporan terbaru menyebutkan bahwa 5,62 juta hektar hutan di Indonesia kebakaran selama periode 2019-2024. Tim peneliti menggunakan citra satelit Sentinel-2 yang mampu mendeteksi detail kecil.
Dibandingkan dengan produk MCD64A1, dataset mereka mendeteksi lebih banyak area terbakar dengan detail spasial dan akurasi yang lebih tinggi.
"Dari Januari 2019 hingga Desember 2024, kebakaran telah membakar 5,62 juta hektar termasuk 2,92 juta hektar yang terbakar satu kali dan 1,12 juta hektar yang terbakar berulang kali. Hal ini merepresentasikan total luas terbakar sebesar 4,04 juta hektar," tulis peneliti dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Plos One dikutip Sabtu (18/4/2026).
Baca juga: BMKG Wanti-wanti Karhutla di Tengah El Nino dan Musim Kemarau
Ditemukan bahwa sebanyak 122.164 hektare hutan primer lembap di Indonesia terbakar, setara dengan 2,2 persen dari total area terbakar.
Angka ini sangat kontras dibandingkan dengan tahun-tahun kebakaran ekstrem sebelumnya pada 1997-1998 yakni sekitar 5 juta hektar hutan terbakar. Lalu pada 2015-2016 sekitar 450.000 hektare hutan kebakaran.
Sebagaimana diketahui, Indonesia merupakan salah satu titik atau hotspot kebakaran hutan utama di wilayah tropis. Kebakaran hutan setingkali menimbulkan asap lintas negara, yang menyebar ke seluruh Asia Tenggara dan dapat bertahan selama berminggu-minggu.
Hutan dan lahan gambut kini lebih mudah terbakar, dengan aktivitas manusia sebagian besar menjadi penyebabnya. Puluhan tahun deforestasi, pembukaan lahan, dan pengeringan lahan gambut kaya karbon yang dulunya basah dan tahan api membuat area tersebut rentan terbakar.
Baca juga: Waspada, Ancaman Kebakaran Hutan di Indonesia Lebih Berat Saat Musim Kemarau 2026
Pada 2019 dan 2023, aktivitas kebakaran meningkat sekitar bulan Juli dan mencapai puncaknya bulan September-Oktober, bertepatan dengan nilai Oceanic Niño Index (ONI) di atas 0,5 derajat celsius dan Indian Ocean Dipole (IOD) di atas 1,5 derajat celsius.
Sebaliknya, ungkap peneliti, fase netral atau negatif pada periode 2020 hingga 2022 berkaitan dengan minimnya angka kebakaran.
2024 merupakan tahun kebakaran tingkat menengah tanpa adanya anomali iklim yang kuat. Tim menyebutkan, studi mengonfirmasi bahwa anomali iklim berkaitan erat dengan aktivitas kebakaran di Indonesia, sekaligus menegaskan pentingnya ONI dan IOD sebagai sistem peringatan dini.
"Hasil studi kami juga menunjukkan bahwa upaya pencegahan mulai membatasi kebakaran hutan, karena luas kebakaran pada tahun 2019 dan 2023 tetap lebih rendah dibandingkan peristiwa sebelumnya," tutur peneliti.
Dilansir dari Phys, penelitian dimulai dengan menganalisis kondisi lahan sebelum kebakaran. Para peneliti memakai citra dari tiga bulan sebelumnya untuk mendapatkan gambaran yang jelas dan minim gangguan awan.
Citra ini kemudian dibandingkan dengan kondisi setelah kebakaran guna mengidentifikasi perubahan yang terjadi.
Mereka mengolah data menggunakan algoritma Random Forest, model yang dilatih mengenali ciri khas area terbakar seperti arang dan abu lalu membedakannya dari area tidak terbakar seperti vegetasi sehat atau tanah lembap.
Hasil analisis diverifikasi menggunakan data kebakaran independen dari NASA melalui sistem Fire Information for Resource Management System (FIRMS), yang menyediakan informasi harian mengenai titik panas dan kebakaran aktif di seluruh dunia.
Di samping keakurasian data, penelitian juga menemukan kebakaran hutan tidak terjadi secara merata. Sebagian besar kejadiannya terkonsentrasi di Kalimantan, Nusa Tenggara, dan Sumatra. Enam provinsi menyumbang 68 persen dari total area terbakar.
Studi ini menyoroti kuatnya pengaruh iklim terhadap kebakaran. Selain itu, pentingnya pemantauan berbasis data dan peringatan dini untuk mencegah insiden tersebut.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya