Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

BBM dari Sawit Dinilai Tak Layak Secara Keekonomian

Kompas.com, 2 Juni 2026, 14:25 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Pemerintah berencana menggenjot produksi biodiesel dari minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak (BBM).

Namun demikian, Kepala Divisi Riset Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS), Dimas H. Pamungkas mengatakan, alokasi CPO untuk sektor energi akan mempengaruhi daya saing produk dan masa depan pangsa pasar kelapa sawit dari Indonesia.

Dalam skenario lain, penurunan ekspor CPO dari Indonesia memicu negara-negara lain untuk mengembangkan perkebunan kelapa sawit.

Baca juga: Ekspor Indonesia Naik 21,98 Persen pada April 2026, Ditopang Nikel dan CPO

"Misalnya, Nigeria, Brazil atau negara lain di garis khatulistiwa punya kesempatan untuk menaikkan produksi sawit mereka. Kolombia punya rencana 6 juta hektare kelapa sawit. Maka yang terjadi adalah di masa depan pangsa pasar sawit Indonesia akan berkurang akan diambil alih oleh negara lain," tutur Dimas kepada Kompas.com, Selasa (2/6/2026).

Ia menilai, CPO untuk campuran bahan bakar tidak layak dari aspek keekonomian. Program biodiesel menjadi layak secara keekonomian karena selisih harga produksinya disubsidi Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) . Padahal, sumber dana BPDP berasal dari ekspor CPO dan produk turunannya, bukan APBN.

"Kalau bicara keekonomian, sampai kapan pun semua ini enggak layak, karena harga bahan bakunya (CPO) saja jauh lebih mahal. kalau enggak ada yang menambal selisih harga CPO dengan bahan baku minyak bumi itu," ucapnya.

Lonjakan sementara

Dalam kondisi krisis energi akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah, minyak mentah global memang sangat mahal, bahkan melampaui CPO. Namun, lonjakan harga minyak mentah global bersifat sementara atau tidak permanen. Dalam keadaan normal, harga CPO lebih mahal dibandingkan minyak mentah global.

"Untuk membuat biodiesel ataupun bensin sawit nanti ke depannya, itu kan bahan bakunya CPO. Nanti perang berakhir harga akan kembali normal dan tidak semahal sekarang. Otomatis selisih tetap ada," ujar Dimas.

Berbeda dengan biodiesel sejak 1990-an, riset bensin sawit baru beberapa tahun terakhir oleh Institut Teknologi Bandung (ITB). Temuan dari riset ITB diperbaiki Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) agar lebih layak secara teknis. Namun, hingga hari ini, bensin sawit masih dalam skala pilot project.

Baca juga: Purbaya Bongkar Under Invoicing CPO-Batu Bara, Jadi Dasar PT DSI Awasi Ekspor SDA

"Kemarin beritanya kan Kementerian Pertanian dan Palm-co, sub-holding company-nya PTPN itu bekerja sama ya untuk mengembangkan menjadi lebih piloting. Nah, cuma kita tunggulah perkembangannya. Jadi, memang secara teknis dan ekonomis saja masih dalam tahap kajian lah untuk bensin sawit. Kita belum masuk ke ranah kebijakannya bagaimana," tutur Dimas.

Diketahui, Indonesia akan memberlakukan mandatori B50 mulai awal Juli 2026. Indonesia juga berencana menyerap pasokan CPO dari dalam negeri untuk produksi biofuel yang akan dicampurkan ke bensin.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
BBM dari Sawit Dinilai Tak Layak Secara Keekonomian
BBM dari Sawit Dinilai Tak Layak Secara Keekonomian
LSM/Figur
ITDC Gandeng Masyarakat Benoa Kelola Sampah Organik Jadi Eco Enzyme
ITDC Gandeng Masyarakat Benoa Kelola Sampah Organik Jadi Eco Enzyme
BUMN
Awal Juni, BMKG Prediksi Hujan Landa Sejumlah Wilayah Selama Sepekan
Awal Juni, BMKG Prediksi Hujan Landa Sejumlah Wilayah Selama Sepekan
Pemerintah
Singapura Pilih Energi Nuklir untuk Lepas dari Ketergantungan LNG?
Singapura Pilih Energi Nuklir untuk Lepas dari Ketergantungan LNG?
Pemerintah
Desa Energi Berdikari Keliki, Wujudkan Ketahanan Pangan Berbasis Energi Bersih
Desa Energi Berdikari Keliki, Wujudkan Ketahanan Pangan Berbasis Energi Bersih
BUMN
Padukan Kearifan Lokal dan Sains, Muhammadiyah Resmikan Sekolah Berbasis Konservasi di Papua Barat
Padukan Kearifan Lokal dan Sains, Muhammadiyah Resmikan Sekolah Berbasis Konservasi di Papua Barat
LSM/Figur
Grup Astra Lirik PLTS Atap untuk Tekan Emisi dan Konsumsi Energi
Grup Astra Lirik PLTS Atap untuk Tekan Emisi dan Konsumsi Energi
Swasta
Karhutla di Sumsel capai 182,54 hektare pada Januari-April 2026
Karhutla di Sumsel capai 182,54 hektare pada Januari-April 2026
Pemerintah
Sering Tak Disadari Penyelam, Kebiasaan Ini Bisa Rusak Terumbu Karang
Sering Tak Disadari Penyelam, Kebiasaan Ini Bisa Rusak Terumbu Karang
Pemerintah
BRIN Temukan 1.583 Spesies Baru Selama Hampir Enam Dekade Terakhir
BRIN Temukan 1.583 Spesies Baru Selama Hampir Enam Dekade Terakhir
Pemerintah
Boros Energi, Ahli Desak Konsumen Gunakan Pendingin Alternatif
Boros Energi, Ahli Desak Konsumen Gunakan Pendingin Alternatif
Pemerintah
Meriahkan Waisak 2026, DKI Jakarta Wujudkan Kota Inklusif lewat 'Illumination of Jakarta, Glow of Peace'
Meriahkan Waisak 2026, DKI Jakarta Wujudkan Kota Inklusif lewat "Illumination of Jakarta, Glow of Peace"
Pemerintah
Amazon, Google, Meta, dan Microsoft Kompak Investasi Teknologi Ramah Lingkungan
Amazon, Google, Meta, dan Microsoft Kompak Investasi Teknologi Ramah Lingkungan
Pemerintah
Batasi Medsos Dinilai Tak Efektif, PBB Desak Platform Lebih Aman untuk Anak
Batasi Medsos Dinilai Tak Efektif, PBB Desak Platform Lebih Aman untuk Anak
Pemerintah
Pagi Ini, Jakarta Masuk 10 Kota Paling Berpolusi di Dunia
Pagi Ini, Jakarta Masuk 10 Kota Paling Berpolusi di Dunia
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau