JAKARTA, KOMPAS.com - Pasar karbon (IDX Carbon) masih membutuhkan jembatan untuk memperluas sekaligus memudahkan partisipasi individu dan retail dalam mendukung pencapaian target net zero emission (NZE) Indonesia.
Berdasarkan data IDX Carbon, tercatat 2.065 penerima manfaat (beneficiaries) telah melakukan tebus karbon (carbon offset) atau mengimbangi emisi gas rumah kaca (GRK) yang dihasilkannya dengan mendanai proyek lingkungan.
Mereka telah melakukan carbon offset lebih dari 1,3 juta ton CO2 ekuivalen. Dalam total penerima manfaat tersebut, sebanyak 1.566 di antaranya merupakan individu atau retail.
Baca juga: Studi: Rumput Berakar Dalam Lebih Efektif Simpan Karbon dan Jaga Kesehatan Tanah
Selain itu, ada 40 kegiatan yang turut berpartisipasi dengan melakukan carbon offset melalui IDX Carbon, yang menggambarkan meningkatnya kesadaran masyarakat untuk berkontribusi dalam aksi iklim.
"Kami melihat sebuah tren positif di mana kesadaran masyarakat terhadap perubahan iklim terus bertumbuh dan menunjukkan perkembangan yang positif. Ini menandakan bahwa isu keberlanjutan mulai bertransformasi dari sekadar wacana institusi menjadi kesadaran individu," ujar Direktur Keuangan, Sumber Daya Manusia, dan Umum PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Risa E. Rustam dalam Peluncuran Kampanye “Aku Net-Zero Hero, Rabu (22/4/2026).
Sebagai gambaran, rata-rata jejak karbon orang Indonesia berada pada kisaran 2-3 ton CO2 ekuivalen per tahun. Dengan harga unit karbon saat ini, emisi GRK tersebut sebetulnya dapat dinetralkan dengan biaya yang relatif terjangkau.
Melalui konsep retirement on behalf di IDX Carbon, individu atau retail kini dapat melakukan offset emisi GRK secara lebih mudah, baik secara langsung maupun melalui perantara. Setiap kontribusi tersebut tercatat secara resmi dan dilengkapi sertifikat atas nama individu dalam Sistem Registri Nasional (SRN) Pengendalian Perubahan Iklim (PPI).
Ia mengingatkan, krisis iklim bukanlah isu masa depan. Dampak krisis iklim sudah terpampang di depan mata, yang tidak hanya menyentuh aspek lingkungan, melainkan pula pada stabilitas ekonomi global.
Sebagai salah satu regulator pasar modal, BEI bertanggung jawab untuk mendorong pembiayaan berkelanjutan, memperkuat praktik ESG (Environmental, Social, Governance) dan menghadirkan ekosistem yang mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
"Bagi kami di BEI, hal ini adalah peluang besar," tutur Risa.
IDXCarbon bersama Bank Mandiri membuka akses pasar karbon kepada masyarakat melalui layanan digital perbankan, dengan meluncurkan fitur Sertifikat Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca (SPE-GRK) bagi segmen retail pada platform Livin’ Planet di aplikasi Livin’ by Mandiri.
Hal ini menandai perluasan ekosistem perdagangan karbon nasional, yang sebelumnya didominasi oleh segmen korporasi.
“Melalui fitur ini, kami ingin mendorong partisipasi aktif nasabah dalam aksi iklim. Tidak berhenti pada peningkatan awareness atas jejak karbon yang dihasilkan dari aktivitas sehari-hari, nasabah juga kami dorong untuk mengambil peran dalam mengimbanginya melalui melalui mekanisme carbon offset yang kredibel dan terverifikasi,” ujar Wakil Direktur Utama Bank Mandiri Henry Panjaitan.
SPE-GRK adalah unit karbon yang merepresentasikan pengurangan emisi GRK dari suatu proyek yang telah melalui proses pengukuran, pelaporan, serta verifikasi. Sertifikat ini menjadi bukti bahwa GRK sudah berhasil dikurangi atau dihindari, sehingga bisa dimanfaatkan oleh individu dan institusi untuk mengimbangi jejak karbon dari aktivitas sehari-hari.
Dalam implementasinya, carbon offset dilakukan dengan mendukung kegiatan pengurangan emisi dengan solusi berbasis alam (nature based-solution / NbS), seperti penanaman pohon. Atau, juga memanfaatkan solusi berbasis teknologi, seperti pengembangan energi terbarukan dan proyek efisiensi energi.
Sementara itu, carbon credit merepresentasikan pengurangan atau penyerapan emisi sebesar 1 ton CO? ekuivalen yang dapat diperdagangkan sebagai instrumen dalam mekanisme tersebut.
Baca juga: Kemenhut Terbitkan Aturan Baru Perdagangan Karbon, Disebut Lebih Jelas dan Terarah
Melalui Livin’ Planet, nasabah dapat menghitung jejak emisi melalui carbon calculator, melakukan offset dengan membeli SPE-GRK secara langsung. Fitur ini juga dilengkapi dengan edukasi untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap emisi GRK dan mendorong perubahan perilaku menuju gaya hidup rendah karbon.
SPE-GRK yang tersedia saat ini berasal dari proyek Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) Sei Mangkei milik Pertamina New & Renewable Energy berkapasitas 2,4 MW di Sumatera Utara, yang mengolah limbah Palm Oil Mill Effluent (POME) menjadi energi terbarukan.
Proyek ini berkontribusi pada pengurangan emisi sekitar 265 ribu tCO2e, atau setara dengan emisi GRK sekitar 30.000 kendaraan berbahan bakar bensin.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya