JAKARTA, KOMPAS.com - Inovasi pengolahan tambak garam di Pulau Madura membuka peluang baru bagi petani pesisir. Dalam satu siklus produksi, tambak tidak hanya menghasilkan garam, tetapi juga rumput laut, air minum bersih, dan energi baru terbarukan (EBT).
Proyek percontohan tersebut dikembangkan di Desa Lembung, Pulau Madura, dengan melibatkan peneliti dari Universitas Trunojoyo Madura. Model ini dinilai mampu mendiversifikasi pendapatan petani tambak yang selama ini bergantung pada hasil panen garam.
Salah satu peneliti yang terlibat, Wahyudi Agustiono, menjelaskan bahwa proses dimulai dengan menampung air laut di kolam yang ditanami rumput laut.
Baca juga: Perluasan Kota Ancam Akses Air Bersih pada 2050, Ini Studinya
Rumput laut berfungsi sebagai penyaring alami yang membantu menyerap lumpur serta logam berat dari air laut. Selain itu, rumput laut juga menjadi komoditas bernilai ekonomi yang dapat dijual.
“Dengan penanaman rumput laut, air untuk proses pembuatan garam menjadi lebih jernih, sehingga berbagai kontaminasi dalam garam seperti besi dan magnesium dapat terserap,” ujar Wahyudi dalam "Knowledge and Innovation Exchange – Jakarta Summit Indicative Agenda" di Jakarta, Selasa (28/4/2026).
Setelah melalui tahap penyaringan alami, air laut kemudian diproses menggunakan teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) untuk menghasilkan air bersih yang layak minum.
Air laut yang tersisa dengan kadar garam tinggi dimanfaatkan untuk mempercepat proses kristalisasi garam, sehingga masa panen menjadi lebih singkat.
Menurut Wahyudi, proyek ini juga memanfaatkan perbedaan suhu di permukaan dan dasar kolam saat kristalisasi untuk menghasilkan energi gerak yang kemudian dikonversi menjadi listrik. Sistem tersebut dipadukan dengan panel surya.
“Hasilnya, kami tidak memerlukan lagi listrik dari jaringan luar,” katanya.
Proyek percontohan ini memanfaatkan lahan seluas 6 hektare, dengan sekitar 2,5 hektare berupa kolam buatan.
Dari pengembangan tersebut, produktivitas garam mencapai 100 ton per hektare per siklus atau meningkat sekitar 1,5 hingga 2 kali lipat dibanding metode konvensional.
Baca juga: Pompa Tenaga Surya PIS Salurkan 5 Juta Liter Air Bersih bagi Petani Pedalaman Labuan Bajo
Selain garam, tambak juga menghasilkan sekitar 2 ton rumput laut per hektare per siklus, air minum portabel 1.000 liter setiap delapan jam kerja, serta listrik berkapasitas 1 hingga 6 kilowatt.
Wahyudi mengatakan, diversifikasi hasil produksi ini diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan petani pesisir sekaligus menjawab persoalan lokal secara bersamaan.
Ia mencontohkan, air minum hasil produksi tambak dapat menjadi sumber pendapatan tambahan jika dipasarkan kepada masyarakat.
“Kalau petani mampu menjual satu liter seharga Rp 1.000, dalam sebulan mereka bisa mendapatkan Rp 30 juta,” ujarnya.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya