Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Banjir Landa Jabar dan Gorontalo, BNPB Pastikan Tak Ada Korban Jiwa

Kompas.com, 4 Mei 2026, 14:23 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan bahwa banjir melanda sejumlah daerah di Jawa Barat dan Gorontalo pada Sabtu (2/5/2026) hingga Minggu (3/5/2026). Pihaknya memastikan tak ada korban jiwa dalam bencana ini. 

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari menyebut banjir melanda Cianjur imbas hujan yanh terjadi sejak Kamis, (30/4) 2026) pukul 17.30 WIB. Sehingga mengakibatkan meluapnya aliran Sungai Cibolang dan merendam Desa Jamali, Kecamatan Mande.

"Peristiwa tersebut menyebabkan sejumlah rumah warga serta fasilitas umum terdampak genangan air dan material lumpur. Berdasarkan data sementara, sebanyak 25 Kepala Keluarga (82 jiwa) terdampak akibat banjir," kata Abdul dalam keterangannya, Senin (4/5/2026).

Baca juga: Teknologi AI-IoT Bantu Mitigasi Banjir Rob di Pantura Jateng, Peran Perempuan Jadi Kunci

Sementara, sembilan orang dalam dua KK sempat mengungsi ke aula desa dan rumah kerabat terdekat untuk menghindari risiko banjir. Setidaknya, 20 rumah serta satu fasilitas ibadah terdampak banjir. Saat ini banjir dilaporkan telah surut.

"Masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan siaga terhadap potensi bencana susulan," tutur dia.

Kondisi serupa terjadi di Kabupaten Gorontalo, akibat hujan intensitas tinggi yang terjadi pada Selasa, (29/4) sekitar pukul 18.00 WITA hingga mengakibatkan meluapnya Sungai Moluupo lalu banjir di Kelurahan Tenilo, Kecamatan Limboto. Abdul menyatakan, luapan air sungai menggenangi permukiman warga.

"Berdasarkan data sementara, kejadian tersebut berdampak terhadap 117 KK atau sebanyak 457 jiwa. Selain itu, tercatat sebanyak 117 unit rumah warga terdampak akibat genangan banjir yang melanda wilayah tersebut," jelas Abdul.

Baca juga: BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah hingga 7 Mei 2026

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gorontalo telah meninjau lokasi bencana untuk melakukan asesmen dan pendataan terhadap wilayah serta warga terdampak. BPBD juga berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait guna mempercepat penanganan bencana.

Selain itu, BPBD Gorontalo bersama Dinas Pekerjaan Umum meninjau titik yang kerap menjadi penyebab banjir di Kelurahan Tenilo. Hal ini sekaligus menindaklanjuti usulan perbaikan kanal sungai sebagai upaya mitigasi dan pengurangan risiko banjir.

"Berdasarkan kondisi mutakhir pada Sabtu, banjir dilaporkan telah surut dan situasi di wilayah terdampak berangsur kembali normal. Meski demikian, pemerintah daerah bersama instansi terkait tetap melakukan pemantauan dan koordinasi guna mengantisipasi potensi kejadian serupa, khususnya apabila terjadi hujan dengan intensitas tinggi di wilayah Kabupaten Gorontalo," beber dia.

Banjir turut merendam Kecamatan Panguragan, tepatnya di Desa Panguragan Kulon dan Desa Panguragan Wetan, Cirebon imbas hujan sejak Jumat lalu. Sehingga menyebabkan air sungai meluap lalu melimpas ke permukiman.

Setidaknga, 377 KK terdampak banjir. Abdul menyatakan, BPBD Cirebon telah menyusir wilayah terdampak demi mengevakuasi warga terdampak.

"Kondisi terkini pada Sabtu banjir di wilayah terdampak dilaporkan berangsur surut dan kondisi cuaca terpantau cerah. Pemerintah daerah bersama unsur terkait tetap melakukan pemantauan guna mengantisipasi potensi banjir susulan apabila terjadi hujan dengan intensitas tinggi di wilayah Cirebon," papar Abdul.

Baca juga: BNPB Catat Banjir dan Karhutla di Indonesia per Maret 2026

BNPB lantas mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat tetap meningkatkan kesiapsiagaan serta kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi basah seperti banjir, tanah longsor, dan cuaca ekstrem.

"Masyarakat diharapkan rutin memantau informasi cuaca dan peringatan dini dari instansi berwenang, membersihkan saluran air dan lingkungan sekitar, serta segera melakukan evakuasi mandiri ke tempat aman apabila terjadi hujan deras disertai peningkatan debit air sungai," imbuh dia.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
LSM/Figur
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
LSM/Figur
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Pemerintah
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Swasta
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Pemerintah
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau