Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dampak Konflik Timur Tengah dan Super El Nino Bayangi Ekonomi Asia

Kompas.com, 6 Mei 2026, 20:56 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com-Asia tidak hanya harus berhadapan dengan dampak konflik Timur Tengah. Wilayah ini kini juga harus bersiap menghadapi ancaman fenomena El Nino yang kuat.

Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat membuat membuat pasokan energi melonjak, mengurangi pasokan listrik tenaga air, dan merusak hasil panen tanaman.

El Niño sendiri adalah fenomena iklim alami yang menyebabkan perubahan angin, tekanan udara, dan pola curah hujan di seluruh dunia.

Badan cuaca dan iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sendiri sudah menyatakan bahwa kondisi El Niño ini diperkirakan bisa mulai muncul antara bulan Mei hingga Juli.

Melansir Phys, Selasa (5/5/2026) Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menyatakan bahwa tanda-tanda awal menunjukkan fenomena ini bisa menjadi sangat kuat. Beberapa pihak menjuluki kejadian yang akan datang ini sebagai "super El Niño," meskipun istilah tersebut tidak digunakan secara resmi oleh para ilmuwan.

Ini merupakan kabar buruk bagi Asia, karena sebagian wilayahnya biasanya terkena dampak parah akibat gelombang panas, kekeringan, dan hujan lebat yang dibawa oleh El Niño.

Baca juga: El Nino 2026 Berisiko Ganggu Rantai Pasok Batu Bara, Ini Bahayanya bagi RI dan Negara Importir

Fenomena ini pada dasarnya mengubah pola cuaca yang biasanya terjadi. Sebagai contoh, hujan yang biasanya turun di Indonesia malah bergeser ke arah laut. Hal ini membuat Indonesia rentan mengalami kekeringan dan kebakaran hutan. El Niño terjadi sekitar dua hingga tujuh tahun sekali dan diprediksi berdasarkan suhu air laut.

"Keanehan di bawah permukaan laut yang kita lihat sejauh ini cukup kuat," kata Peter van Rensch, seorang ilmuwan iklim dari Universitas Monash, Australia.

"Kondisinya terlihat mirip dengan apa yang terjadi pada tahun 1997/98, yang mungkin merupakan El Niño terkuat yang pernah ada," ujarnya.

Namun, masih banyak ketidakpastian, dan van Rensch memperingatkan bahwa ada kemungkinan El Niño tersebut tidak berkembang sama sekali.

Dampak bencana

Peristiwa El Niño pada tahun 1997 membawa dampak bencana yang besar, termasuk kekeringan ekstrem dan kebakaran hutan yang parah di Indonesia yang menghanguskan jutaan hektar lahan serta menciptakan polusi udara di seluruh kawasan Asia Tenggara.

Pihak berwenang di Indonesia sendiri telah memetakan lahan gambut yang berisiko terbakar, dan memperingatkan bahwa negara ini mungkin akan mengalami curah hujan terendah dalam 30 tahun terakhir.

Peringatan ini muncul saat Asia sedang tertekan akibat krisis pasokan energi dan kekhawatiran akan kurangnya pupuk serta bahan industri dan pertanian lainnya yang dikirim melalui Selat Hormuz.

Iran telah menutup jalur perairan strategis tersebut sejak Amerika Serikat dan Israel meluncurkan serangan ke negara itu pada 28 Februari, yang mengganggu pasokan bahan bakar dunia.

"Bagi negara-negara yang sangat bergantung pada Selat Hormuz untuk pengiriman minyak, gas, dan perdagangan lainnya, pasokan yang terhambat akan menyebabkan penjatahan bahan bakar yang lebih ketat, pengaturan penggunaan energi, serta penurunan aktivitas ekonomi yang pada akhirnya akan berdampak pada penurunan pertumbuhan ekonomi (PDB) secara keseluruhan," ujar Haneea Isaad, ahli keuangan energi di Institute for Energy Economics and Financial Analysis.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Swasta
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Pemerintah
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau