Kekeringan yang dibawa oleh El Niño juga mengancam negara-negara yang sangat bergantung pada pembangkit listrik tenaga air (PLTA), menurut Dinita Setyawati, analis energi senior dari lembaga riset Ember.
Sebagian besar negara ASEAN banyak menggunakan PLTA. Negara-negara di sepanjang sungai Mekong, Nepal, dan sebagian wilayah Malaysia dianggap sangat rawan karena ketergantungan mereka yang tinggi pada sektor ini.
Risiko ini sudah terbukti nyata pada tahun 2022, ketika gelombang panas di China menyebabkan produksi listrik dari PLTA di Sichuan merosot lebih dari 50 persen. Hal ini mengakibatkan kekurangan listrik yang berdampak parah bagi rumah tangga maupun industri.
Kondisi cuaca yang lebih panas dan kering juga akan menimbulkan risiko baru bagi sektor pertanian. Sektor ini sebenarnya sudah tertekan karena konflik yang terus berlanjut telah menaikkan harga pupuk dan bahan bakar yang dibutuhkan untuk alat-alat pertanian.
"Jika harga hasil panen tidak naik cukup tinggi untuk menutupi mahalnya biaya modal dan pengiriman ini, maka keuntungan petani akan berkurang. Hal ini memperbesar kemungkinan petani akan mengurangi penggunaan pupuk, yang berujung pada menurunnya hasil panen," peringat BMI, bagian dari perusahaan riset Fitch Solutions.
Baca juga: Godzilla El Nino Berisiko Picu Karhutla, Ancam Iklim dan Keanekaragaman Hayati
Hal ini akan memperparah kenaikan harga pangan dan memperburuk kondisi kurangnya stok makanan, terutama di negara-negara yang sangat bergantung pada impor dan wilayah yang rawan terhadap perubahan iklim.
Sementara itu di beberapa bagian Asia lainnya, El Niño justru bisa membawa hujan yang sangat lebat dan memicu banjir, yang dapat mengganggu sektor pertanian seperti panen padi akhir musim di wilayah China selatan.
Bagaimana perubahan iklim memengaruhi munculnya dan kekuatan El Niño masih belum sepenuhnya dipahami. Namun, penelitian menunjukkan bahwa perubahan iklim itu sendiri akan menyebabkan gelombang panas ekstrem yang lebih sering terjadi, serta hujan lebat mendadak yang bisa memicu banjir.
Oleh karena itu, para ahli mengatakan bahwa negara-negara di kawasan Asiaharus memperkuat sistem energi mereka terhadap cuaca ekstrem dengan cara melakukan diversifikasi dan beralih ke energi ramah lingkungan.
"Energi surya dan angin, jika dipadukan dengan baterai, menyediakan infrastruktur yang lebih tangguh dibandingkan infrastruktur bahan bakar fosil yang terpusat," tambah Setyawati.
sumber https://phys.org/news/2026-05-super-el-nino-asia-reeling.html
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya