Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Perusahaan Ramai-Ramai Pecat Karyawan Gen Z yang Baru Bekerja, Ini Alasannya

Kompas.com, 7 Mei 2026, 12:33 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Survei Intelligent mengungkapkan, enam dari 10 perusahaan memilih memecat karyawan Generasi Z (Gen Z) beberapa bulan setelah mereka bekerja. Profesor New York University (NYU), Suzy Welch berpandangan temuan tersebut memperlihatkan apa yang sedang terjadi di dunia kerja saat ini.

Dia meneliti nilai-nilai yang dianut Gen Z melalui alat bernama The Values Bridge guna memetakan prioritas hidup seseorang berdasarkan nilai, bakat, dan minat.

"Data menunjukkan hanya 2 persen dari Generasi Z yang memiliki nilai-nilai yang diinginkan dan dicari oleh manajer perekrutan. Dari 98 persen yang tidak memiliki nilai-nilai yang dicari oleh manajer perekrutan, hanya 2 persen yang memilikinya itu angka yang sangat besar," kata Welch dilansir dari USA Today, Kamis (7/5/2026).

Baca juga: PBB: Pekerja Media Jadi Salah Satu Profesi Paling Berisiko di Dunia

Riset ini melibatkan sekitar 200.000 orang untuk mengikuti tes tersebut dalam setahun terakhir. Tiga hal utama yang paling dijunjung Gen Z ialah perawatan diri, kebebasan mengekspresikan diri secara autentik, serta keinginan membantu orang lain.

"Bagi para manajer perekrutan, nilai nomor satu yang mereka cari adalah prestasi, keinginan untuk menang. Nilai nomor dua yang mereka cari adalah fokus pada pekerjaan, keinginan untuk bekerja," jelas Welch.

"Ketiga adalah ruang lingkup, yaitu keinginan untuk belajar, beraktivitas, dan berpetualang yang umumnya, saya akan menerjemahkannya di tempat kerja sebagai perjalanan," imbuh dia.

Baca juga: Bukan Malas, Gen Z Mulai Tinggalkan Budaya Kerja yang Bikin Burnout

Perusahaan biasanya menginginkan pekerja untuk peduli pada kemenangan dan bekerja, sementara karyawan Gen Z lebih peduli pada perawatan diri dan individualitas. 

Welch menyebut, pekerja muda beranggapan bahwa pola kerja generasi sebelumnya tidak selalu menghasilkan kehidupan yang stabil. Karenanya, mereka lebih mengutamakan keseimbangan hidup dan kesehatan mental dibandingkan mengejar karier secara agresif.

"Gen Z pada dasarnya mengatakan 'Saya tidak suka aturan-aturan itu. Itu adalah nilai-nilai Anda dan itu tidak berjalan dengan baik untuk generasi Anda. Saya tidak akan menerimanya. Orangtua saya memiliki nilai-nilai itu dan mereka menganggur pada usia 54 tahun'," tutur dia. 

Di sisi lain, Welch menegaskan dirinya tidak menganggap nilai-nilai yang dianut kebanyakan Gen Z sebagai sesuatu yang salah. Pekerja muda tidak perlu mengubah prinsip hidup mereka hanya demi menyesuaikan diri dengan dunia kerja.

"Jika mereka mempertahankan prinsip yang seharusnya mereka pertahankan tidak seorang pun boleh mengubahnya. Mereka harus memahami bahwa ada konsekuensinya dan tidak akan mendapatkan jenis pekerjaan yang mungkin telah dipersiapkan sesuai gelar sarjana mereka," ucap dia.

Beberapa perusahaan yang sempat berdiskusi dengannya mengaku, saat ini tengah berjuang mati-matian untuk mendapatkan 2 persen pekerja sesuai standar.

Lonjakan Pengangguran 

Berdasarkan data Federal Reserve New York pada akhir 2025, tingkat pengangguran lulusan baru di Amerika Serikat mencapai 5,7 persen atau sekitar 1,5 poin lebih tinggi dibanding kelompok usia lain.

Hal tersebut dipengaruhi perubahan struktural perusahaan ataupun perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Ia sempat bertemu seorang mahasiswi berbakat lalu kesulitan mendapatkan pekerjaan, kendati memiliki kemampuan akademik yang bagus.

Lulusan baru disarankan lebih membuka diri terhadap berbagai jenis pekerjaan serta tidak hanya terpaku pada jalur karier sesuai jurusan kuliah.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau