Editor
KOMPAS.com - Produktivitas pertanian sayuran dan budidaya hasil laut di Singapura meningkat sepanjang 2025. Kenaikan ini menjadi bagian dari upaya negara tersebut memperkuat ketahanan pangan di tengah ketidakpastian global.
Berdasarkan laporan statistik pangan terbaru yang dirilis Singapore Food Agency (SFA), produktivitas kebun sayur meningkat 10 persen pada 2025 dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, produktivitas sektor budidaya seafood melonjak 27 persen.
Menteri Keberlanjutan dan Lingkungan Singapura, Grace Fu, mengatakan peningkatan tersebut mencerminkan hasil kerja sama antara petani, pelaku industri, dan pemerintah.
Baca juga: Diplomasi Prabowo di Filipina: Ajak ASEAN Bersatu hingga Ingatkan soal Energi-Pangan
“Pertanian lokal kami menghasilkan lebih banyak dan dengan cara yang lebih baik,” ujar Grace Fu dalam unggahan di Facebook, dikutip melalui CNA, Senin (11/5/2026).
Menurut dia, pemerintah akan terus mendukung pertumbuhan sektor agri-pangan melalui berbagai inisiatif.
Meski produktivitas meningkat, pasokan sejumlah bahan pangan justru menurun pada 2025.
Pasokan daging ayam turun hampir 4 persen, dari 224.000 ton pada 2024 menjadi 215.800 ton pada 2025. Pasokan daging babi juga turun sekitar 2,4 persen, dari 133.600 ton menjadi 130.400 ton.
Sementara itu, pasokan sayuran turun tipis 0,2 persen, dari 583.200 ton menjadi 582.200 ton.
Di sisi lain, pasokan telur ayam naik sekitar 1,2 persen dan pasokan seafood meningkat 6,5 persen.
SFA menjelaskan, perubahan pasokan dari tahun ke tahun merupakan hal yang wajar untuk menyesuaikan kondisi pasar dan perubahan pola konsumsi masyarakat.
Pada November 2025, Singapura menetapkan target baru agar pertanian lokal dapat memasok 20 persen kebutuhan serat pangan dan 30 persen kebutuhan protein domestik pada 2035.
Saat ini, sektor agri-pangan lokal menyumbang sekitar 8 persen konsumsi serat pangan dan 25 persen konsumsi protein nasional.
Baca juga: Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Menurut SFA, kontribusi sektor lokal diperkirakan meningkat seiring bertambahnya kapasitas produksi dari pengelola lahan baru dan peningkatan produktivitas petani yang sudah ada.
Selain meningkatkan produksi dalam negeri, Singapura juga terus memperluas sumber impor pangan.
SFA telah menyetujui sejumlah negara pemasok baru untuk telur, unggas, daging babi, dan daging sapi. Beberapa di antaranya adalah Lithuania untuk telur, serta Greece dan Paraguay untuk unggas, daging babi, dan daging sapi.
Grace Fu mengatakan Singapura kini mengimpor pangan dari lebih dari 180 negara dan wilayah, naik dari sekitar 140 negara dua dekade lalu.
“Diversifikasi adalah kunci karena memberi kami pilihan dan fleksibilitas ketika gangguan terjadi,” ujarnya.
Menurut Grace Fu, ketahanan pangan tidak hanya ditentukan oleh apa yang diproduksi dan dari mana pangan dibeli, tetapi juga oleh hubungan kerja sama yang dibangun antarnegara.
Baca juga: Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Pada April 2026, Singapura menandatangani nota kerja sama ketahanan pangan dengan Cambodia untuk memperkuat perdagangan beras bilateral.
Singapura bersama negara-negara ASEAN juga mengadopsi pernyataan bersama untuk menjaga ketahanan pangan dan rantai pasok pertanian di tengah ketidakpastian global, termasuk dampak konflik di Timur Tengah terhadap pasokan pangan dunia.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya