Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Singapura Perkuat Ketahanan Pangan dengan Genjot Produksi Sayuran

Kompas.com, 11 Mei 2026, 10:21 WIB
Add on Google
Bambang P. Jatmiko

Editor

Sumber CNA

KOMPAS.com - Produktivitas pertanian sayuran dan budidaya hasil laut di Singapura meningkat sepanjang 2025. Kenaikan ini menjadi bagian dari upaya negara tersebut memperkuat ketahanan pangan di tengah ketidakpastian global.

Berdasarkan laporan statistik pangan terbaru yang dirilis Singapore Food Agency (SFA), produktivitas kebun sayur meningkat 10 persen pada 2025 dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, produktivitas sektor budidaya seafood melonjak 27 persen.

Menteri Keberlanjutan dan Lingkungan Singapura, Grace Fu, mengatakan peningkatan tersebut mencerminkan hasil kerja sama antara petani, pelaku industri, dan pemerintah.

Baca juga: Diplomasi Prabowo di Filipina: Ajak ASEAN Bersatu hingga Ingatkan soal Energi-Pangan

“Pertanian lokal kami menghasilkan lebih banyak dan dengan cara yang lebih baik,” ujar Grace Fu dalam unggahan di Facebook, dikutip melalui CNA, Senin (11/5/2026).

Menurut dia, pemerintah akan terus mendukung pertumbuhan sektor agri-pangan melalui berbagai inisiatif.

Pasokan Beberapa Komoditas Menurun

Meski produktivitas meningkat, pasokan sejumlah bahan pangan justru menurun pada 2025.

Pasokan daging ayam turun hampir 4 persen, dari 224.000 ton pada 2024 menjadi 215.800 ton pada 2025. Pasokan daging babi juga turun sekitar 2,4 persen, dari 133.600 ton menjadi 130.400 ton.

Sementara itu, pasokan sayuran turun tipis 0,2 persen, dari 583.200 ton menjadi 582.200 ton.

Di sisi lain, pasokan telur ayam naik sekitar 1,2 persen dan pasokan seafood meningkat 6,5 persen.

SFA menjelaskan, perubahan pasokan dari tahun ke tahun merupakan hal yang wajar untuk menyesuaikan kondisi pasar dan perubahan pola konsumsi masyarakat.

Pada November 2025, Singapura menetapkan target baru agar pertanian lokal dapat memasok 20 persen kebutuhan serat pangan dan 30 persen kebutuhan protein domestik pada 2035.

Saat ini, sektor agri-pangan lokal menyumbang sekitar 8 persen konsumsi serat pangan dan 25 persen konsumsi protein nasional.

Baca juga: Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim

Menurut SFA, kontribusi sektor lokal diperkirakan meningkat seiring bertambahnya kapasitas produksi dari pengelola lahan baru dan peningkatan produktivitas petani yang sudah ada.

Diversifikasi Sumber Impor

Selain meningkatkan produksi dalam negeri, Singapura juga terus memperluas sumber impor pangan.

SFA telah menyetujui sejumlah negara pemasok baru untuk telur, unggas, daging babi, dan daging sapi. Beberapa di antaranya adalah Lithuania untuk telur, serta Greece dan Paraguay untuk unggas, daging babi, dan daging sapi.

Grace Fu mengatakan Singapura kini mengimpor pangan dari lebih dari 180 negara dan wilayah, naik dari sekitar 140 negara dua dekade lalu.

“Diversifikasi adalah kunci karena memberi kami pilihan dan fleksibilitas ketika gangguan terjadi,” ujarnya.

Menurut Grace Fu, ketahanan pangan tidak hanya ditentukan oleh apa yang diproduksi dan dari mana pangan dibeli, tetapi juga oleh hubungan kerja sama yang dibangun antarnegara.

Baca juga: Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?

Pada April 2026, Singapura menandatangani nota kerja sama ketahanan pangan dengan Cambodia untuk memperkuat perdagangan beras bilateral.

Singapura bersama negara-negara ASEAN juga mengadopsi pernyataan bersama untuk menjaga ketahanan pangan dan rantai pasok pertanian di tengah ketidakpastian global, termasuk dampak konflik di Timur Tengah terhadap pasokan pangan dunia.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Beratnya Penanaman Bibit Mangrove di Pesisir Jakarta akibat Sampah Plastik
Beratnya Penanaman Bibit Mangrove di Pesisir Jakarta akibat Sampah Plastik
Pemerintah
Singapura Perkuat Ketahanan Pangan dengan Genjot Produksi Sayuran
Singapura Perkuat Ketahanan Pangan dengan Genjot Produksi Sayuran
Pemerintah
Apple Investasi di Perkebunan Makadamia Australia untuk Serap Karbon
Apple Investasi di Perkebunan Makadamia Australia untuk Serap Karbon
Swasta
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
LSM/Figur
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
LSM/Figur
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
Pemerintah
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Pemerintah
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Pemerintah
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
LSM/Figur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Pemerintah
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Swasta
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
Pemerintah
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
LSM/Figur
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
LSM/Figur
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau