Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon

Kompas.com, 8 Mei 2026, 22:18 WIB
Add on Google
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Perusahaan raksasa dunia dari industri teknologi, media, keuangan, hingga ritel dilaporkan telah dan akan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal karyawannya. Block dan Coinbase menyampaikan, dampak kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) sebagai alasan utama PHK.

PHK dilakukan Amazon yang memangkas 16.000 posisi pekerja. Ini merupakan kedua kalinya raksasa teknologi dan ritel itu melakukan pemecatan, usai 14.000 karyawannya diberhentikan sejak Oktober 2025 lalu.

Perusahaan perangkat lunak Atlassian mengumumkan akan mengurangi 10 persen tenaga kerjanya karena AI. CEO Atlassian, Mike Cannon-Brookes menyebut sekitar 1.600 karyawan akan terdampak.

“Kami pada dasarnya percaya bahwa manusia dan AI bersama-sama menciptakan hasil terbaik. Pendekatan kami bukanlah AI menggantikan manusia, namun, tidak jujur jika berpura-pura bahwa AI tidak mengubah keterampilan yang kami butuhkan atau jumlah peran yang diperlukan di area tertentu," ungkap Cannon-Brookes dilansir dari Business Insider, Jumat (8/5/2026). 

Baca juga: Pemimpin Perusahaan Khawatir Kehilangan Pekerjaan akibat Kegagalan Adopsi AI

Bank Citi menyusul langkah kedua perusahaan tersebut dengan memangkas 20.000 karyawanya pada tahun ini. Sehingga, perusahaan bisa menghemat 2,5 miliar dollar AS (Rp 43,4 triliun) per tahun.

“Perubahan ini mencerminkan penyesuaian yang kami lakukan untuk memastikan tingkat staf, lokasi, dan keahlian kami selaras dengan kebutuhan bisnis saat ini,” ucap juru bicara Citi.

Sementara itu, CEO Crypto.com, Kris Marszalek menyatakan perusahaan yang dipimpinnya memangkas 12 persen tenaga kerja.

Selanjutnya, Dell memilih untuk memberhentikan 10 persen pekerja. Pada Januari 2026, perusahaan memiliki 97.000 karyawan, turun 11.000 dibandingkan periode yang sama di tahun 2025 akibat PHK, pengunduran diri, hingga pensiun.

Baca juga: Bukan Malas, Gen Z Mulai Tinggalkan Budaya Kerja yang Bikin Burnout

e-Bay juga diperkirakan akan memangkas 6 persen atau 800 karyawannya secara global. Keputusan itu diambil guna menyelaraskan struktur perusahaan dengan priorotas strategisnya.

Perusahaan kosmetik, Estée Lauder disebut akan memberhentikan hingga 10.000 pekerja. Lebih dari dua pertiga pemecatan merupakan posisi kasir dan demonstrator di toko ritel serta department store yang kinerjanya rendah.

Meta tercatat memberhentikan karyawan di berbagai tim termasuk Reality Labs, Facebook, rekrutmen, penjualan, serta operasional global pada MAret 2025. 

PHK  terjadi ketika perusahaan meningkatkan belanja untuk infrastruktur dan talenta AI, bersamaan dengan upaya penghematan biaya. Meta menyatakan perubahan ini adalah bagian dari restrukturisasi berkelanjutan guna menyelaraskan tim dengan tujuan perusahaan. 

PHK dua gelombang dilakukan Nike yang memangkas 1.400 pekerjanya. Sebagian besar dari mereka merupakan divisi teknologi. Ini adalah PHK kedua Nike pada 2026, karena perusahaan pada 26 Januari mengatakan mereka berencana memberhentikan 775 karyawan di Tennessee dan Mississippi dengan alasan merampingkan operasional pusat distribusinya.

“Kami sedang mempertajam jejak rantai pasok kami, mempercepat penggunaan teknologi canggih dan otomatisasi, serta berinvestasi dalam keterampilan yang dibutuhkan tim kami untuk masa depan,” tutur perwakilan Nike.

Platform Pinterest mengumumkan rencana restrukturisasi glibal yang berdampak pada kurang dari 15 persen tenaga kerjanya.

“Kami sedang melakukan perubahan organisasi untuk lebih mendukung strategi berbasis AI kami, termasuk merekrut talenta yang mahir dalam AI,” jelas juru bicara Pinterest.

Selanjutnya, Workday memangkas sekitar 400 pekerjaan. Langkah ini dinilai membantu perusahaan perangkat lunak enterprise tersebut mengalihkan sumber daya ke area prioritas.

World Economic Forum memprediksi bahwa sekitar 41 persen perusahaan di seluruh dunia bakal mengurangi jumlah tenaga kerja mereka dalam lima tahun ke depan karena meningkatnya penggunaan AI. Survei itu juga menemukan bahwa pekerjaan di bidang big data, fintech, dan AI bakal meningkat dua kali lipat pada 2030.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Swasta
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
Pemerintah
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
LSM/Figur
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
LSM/Figur
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pemerintah
Praktik 'Open Dumping' Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
Praktik "Open Dumping" Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
LSM/Figur
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Pemerintah
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Pemerintah
Ledakan AI Paksa Microsoft Tinjau Ulang Target Energi Bersih 2030
Ledakan AI Paksa Microsoft Tinjau Ulang Target Energi Bersih 2030
Pemerintah
Mengenal Hantavirus yang Menginfeksi Penumpang Kapal Pesiar MV Hondius
Mengenal Hantavirus yang Menginfeksi Penumpang Kapal Pesiar MV Hondius
LSM/Figur
Pemprov Riau Bentuk BLUD Baru untuk Kelola Kawasan Konservasi Perairan
Pemprov Riau Bentuk BLUD Baru untuk Kelola Kawasan Konservasi Perairan
Pemerintah
Krisis Iklim Picu Perombakan Habitat Tanaman pada 2100, Keanekaragaman Hayati di Asia Tenggara
Krisis Iklim Picu Perombakan Habitat Tanaman pada 2100, Keanekaragaman Hayati di Asia Tenggara
LSM/Figur
WHO Pastikan Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar Samudra Atlantik Bukan Pandemi
WHO Pastikan Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar Samudra Atlantik Bukan Pandemi
Pemerintah
Populasi Capai 80 Persen di Perairan Jakarta, Pemprov Cari Cara 'Hilirisasi' Ikan Sapu-Sapu
Populasi Capai 80 Persen di Perairan Jakarta, Pemprov Cari Cara "Hilirisasi" Ikan Sapu-Sapu
Pemerintah
Nelayan Soroti Dampak Krisis Iklim hingga Akses Wilayah Tangkap
Nelayan Soroti Dampak Krisis Iklim hingga Akses Wilayah Tangkap
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau