KOMPAS.com - Perusahaan raksasa dunia dari industri teknologi, media, keuangan, hingga ritel dilaporkan telah dan akan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal karyawannya. Block dan Coinbase menyampaikan, dampak kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) sebagai alasan utama PHK.
PHK dilakukan Amazon yang memangkas 16.000 posisi pekerja. Ini merupakan kedua kalinya raksasa teknologi dan ritel itu melakukan pemecatan, usai 14.000 karyawannya diberhentikan sejak Oktober 2025 lalu.
Perusahaan perangkat lunak Atlassian mengumumkan akan mengurangi 10 persen tenaga kerjanya karena AI. CEO Atlassian, Mike Cannon-Brookes menyebut sekitar 1.600 karyawan akan terdampak.
“Kami pada dasarnya percaya bahwa manusia dan AI bersama-sama menciptakan hasil terbaik. Pendekatan kami bukanlah AI menggantikan manusia, namun, tidak jujur jika berpura-pura bahwa AI tidak mengubah keterampilan yang kami butuhkan atau jumlah peran yang diperlukan di area tertentu," ungkap Cannon-Brookes dilansir dari Business Insider, Jumat (8/5/2026).
Baca juga: Pemimpin Perusahaan Khawatir Kehilangan Pekerjaan akibat Kegagalan Adopsi AI
Bank Citi menyusul langkah kedua perusahaan tersebut dengan memangkas 20.000 karyawanya pada tahun ini. Sehingga, perusahaan bisa menghemat 2,5 miliar dollar AS (Rp 43,4 triliun) per tahun.
“Perubahan ini mencerminkan penyesuaian yang kami lakukan untuk memastikan tingkat staf, lokasi, dan keahlian kami selaras dengan kebutuhan bisnis saat ini,” ucap juru bicara Citi.
Sementara itu, CEO Crypto.com, Kris Marszalek menyatakan perusahaan yang dipimpinnya memangkas 12 persen tenaga kerja.
Selanjutnya, Dell memilih untuk memberhentikan 10 persen pekerja. Pada Januari 2026, perusahaan memiliki 97.000 karyawan, turun 11.000 dibandingkan periode yang sama di tahun 2025 akibat PHK, pengunduran diri, hingga pensiun.
Baca juga: Bukan Malas, Gen Z Mulai Tinggalkan Budaya Kerja yang Bikin Burnout
e-Bay juga diperkirakan akan memangkas 6 persen atau 800 karyawannya secara global. Keputusan itu diambil guna menyelaraskan struktur perusahaan dengan priorotas strategisnya.
Perusahaan kosmetik, Estée Lauder disebut akan memberhentikan hingga 10.000 pekerja. Lebih dari dua pertiga pemecatan merupakan posisi kasir dan demonstrator di toko ritel serta department store yang kinerjanya rendah.
Meta tercatat memberhentikan karyawan di berbagai tim termasuk Reality Labs, Facebook, rekrutmen, penjualan, serta operasional global pada MAret 2025.
PHK terjadi ketika perusahaan meningkatkan belanja untuk infrastruktur dan talenta AI, bersamaan dengan upaya penghematan biaya. Meta menyatakan perubahan ini adalah bagian dari restrukturisasi berkelanjutan guna menyelaraskan tim dengan tujuan perusahaan.
PHK dua gelombang dilakukan Nike yang memangkas 1.400 pekerjanya. Sebagian besar dari mereka merupakan divisi teknologi. Ini adalah PHK kedua Nike pada 2026, karena perusahaan pada 26 Januari mengatakan mereka berencana memberhentikan 775 karyawan di Tennessee dan Mississippi dengan alasan merampingkan operasional pusat distribusinya.
“Kami sedang mempertajam jejak rantai pasok kami, mempercepat penggunaan teknologi canggih dan otomatisasi, serta berinvestasi dalam keterampilan yang dibutuhkan tim kami untuk masa depan,” tutur perwakilan Nike.
Platform Pinterest mengumumkan rencana restrukturisasi glibal yang berdampak pada kurang dari 15 persen tenaga kerjanya.
“Kami sedang melakukan perubahan organisasi untuk lebih mendukung strategi berbasis AI kami, termasuk merekrut talenta yang mahir dalam AI,” jelas juru bicara Pinterest.
Selanjutnya, Workday memangkas sekitar 400 pekerjaan. Langkah ini dinilai membantu perusahaan perangkat lunak enterprise tersebut mengalihkan sumber daya ke area prioritas.
World Economic Forum memprediksi bahwa sekitar 41 persen perusahaan di seluruh dunia bakal mengurangi jumlah tenaga kerja mereka dalam lima tahun ke depan karena meningkatnya penggunaan AI. Survei itu juga menemukan bahwa pekerjaan di bidang big data, fintech, dan AI bakal meningkat dua kali lipat pada 2030.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya