JAKARTA, KOMPAS.com - Perusahaan pemantau udara, IQAir melaporkan kota di Pakistan menjadi wilayah paling berpolusi di dunia Senin (4/5/2026). Dalam laporan tersebut, Jakarta berada di urutan keenam dengan kategori udara sangat tidak sehat.
IQAir mencatat 10 kota paling berpolusi pada hari ini antara lain:
"Penyebab utama polusi udara di Pakistan meliputi emisi industri, emisi gas buang kendaraan, praktik pertanian seperti penggunaan pupuk berlebihan dan pembakaran residu tanaman, pembakaran biomassa dan limbah, kebakaran domestik, serta urbanisasi," kata IQAir dikutip dari laman resminya.
Baca juga: Gerakan Kota Di Dunia: Larang Iklan Produk Penyebab Polusi
Kota-kota besar di Pakistan tercatat memiliki kualitas udara dengan kategori tidak sehat dan konsentrasi PM2.5 sangat tinggi, sehingga menimbulkan risiko kesehatan bagi anak-anak dan lansia.
"Pada 4 Mei 2026, beberapa kota besar di Pakistan melaporkan kualitas udara yang buruk. Beberapa kota yang terdampak meliputi Bahawalpur, Karachi, Multan, Rahim Yar Khan, dan Sukkur," jelas IQAir.
Masyarakat disarankan untuk membatasi aktivitas di luar ruangan, menutup jendela, memakai masker saat berada di luar, dan menggunakan penjernih udara di dalam ruangan.
Baca juga: Transisi Energi Industri dan Kendaraan Pangkas 40 Persen Polusi Jabodetabek
Diprediksi, polusi Pakistan akan tetap tinggi hingga Maret 2026 karena debu jalan yang terangkat kembali akibat konstruksi dan urbanisasi, suhu tinggi yang disertai sedikit angin.
Kondisi udara juga cenderung stagnan dengan tingginya konsentrasi partikel serbuk sari dan alergen. Menurut IQAir, polusi diperparah oleh pembakaran tunggul pada musim dingin serta polusi lintas batas.
Rata-rata konsentrasi PM2.5 Pakistan pada tahun 2025 adalah 67.3 mikrogram per meter kubik (µg/m3), setara dengan AQI 156 yang diklasifikasikan sebagai tidak sehat.
Angka ini hampir 14 kali lebih tinggi daripada pedoman tahunan WHO sebesar 5 µg/m3, menjadikan Pakistan sebagai negara paling tercemar.
Pihaknya menilai, perbaikan kualitas udara dalam jangka pendek bergantung pada cuaca. Angin, hujan, dan pencampuran udara yang lebih kuat dapat menurunkan konsentrasi selama beberapa hari ke depan.
Sementara, ketika suhu naik pada periode Maret-Mei, seiring dengan udara panas naik dan udara yang lebih sejuk turun polusi akan berkurang. Namun angin yang lemah, dan suhu tinggi dapat memerangkap polutan seperti PM2.5.
"Perbaikan jangka panjang memerlukan tindakan kebijakan dan pengendalian musiman. Tanpa itu, episode pencemaran parah kemungkinan akan terulang kembali," tutur IQAir.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya