Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pakistan Jadi Wilayah Paling Berpolusi di Dunia, Jakarta Urutan Keenam

Kompas.com, 4 Mei 2026, 20:08 WIB
Add on Google
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Perusahaan pemantau udara, IQAir melaporkan kota di Pakistan menjadi wilayah paling berpolusi di dunia Senin (4/5/2026). Dalam laporan tersebut, Jakarta berada di urutan keenam dengan kategori udara sangat tidak sehat.

IQAir mencatat 10 kota paling berpolusi pada hari ini antara lain:

  1. Karachi, Pakistan
  2. Riyadh, Arab Saudi
  3. Kampala, Uganda
  4. Doha, Qatar
  5. Manama, Bahrain
  6. Jakarta, Indonesia
  7. Dubai, Uni Emirat Arab
  8. Kota Meksiko, Meksiko
  9. Ulaanbaatar, Mongolia
  10. Dhaka, Bangladesh

"Penyebab utama polusi udara di Pakistan meliputi emisi industri, emisi gas buang kendaraan, praktik pertanian seperti penggunaan pupuk berlebihan dan pembakaran residu tanaman, pembakaran biomassa dan limbah, kebakaran domestik, serta urbanisasi," kata IQAir dikutip dari laman resminya.

Baca juga: Gerakan Kota Di Dunia: Larang Iklan Produk Penyebab Polusi

Kota-kota besar di Pakistan tercatat memiliki kualitas udara dengan kategori tidak sehat dan konsentrasi PM2.5 sangat tinggi, sehingga menimbulkan risiko kesehatan bagi anak-anak dan lansia.

"Pada 4 Mei 2026, beberapa kota besar di Pakistan melaporkan kualitas udara yang buruk. Beberapa kota yang terdampak meliputi Bahawalpur, Karachi, Multan, Rahim Yar Khan, dan Sukkur," jelas IQAir.

Masyarakat disarankan untuk membatasi aktivitas di luar ruangan, menutup jendela, memakai masker saat berada di luar, dan menggunakan penjernih udara di dalam ruangan.

Baca juga: Transisi Energi Industri dan Kendaraan Pangkas 40 Persen Polusi Jabodetabek

Diprediksi, polusi Pakistan akan tetap tinggi hingga Maret 2026 karena debu jalan yang terangkat kembali akibat konstruksi dan urbanisasi, suhu tinggi yang disertai sedikit angin.

Kondisi udara juga cenderung stagnan dengan tingginya konsentrasi partikel serbuk sari dan alergen. Menurut IQAir, polusi diperparah oleh pembakaran tunggul pada musim dingin serta polusi lintas batas.

Rata-rata konsentrasi PM2.5 Pakistan pada tahun 2025 adalah 67.3 mikrogram per meter kubik (µg/m3), setara dengan AQI 156 yang diklasifikasikan sebagai tidak sehat.

Angka ini hampir 14 kali lebih tinggi daripada pedoman tahunan WHO sebesar 5 µg/m3, menjadikan Pakistan sebagai negara paling tercemar.

Pihaknya menilai, perbaikan kualitas udara dalam jangka pendek bergantung pada cuaca. Angin, hujan, dan pencampuran udara yang lebih kuat dapat menurunkan konsentrasi selama beberapa hari ke depan.

Sementara, ketika suhu naik pada periode Maret-Mei, seiring dengan udara panas naik dan udara yang lebih sejuk turun polusi akan berkurang. Namun angin yang lemah, dan suhu tinggi dapat memerangkap polutan seperti PM2.5.

"Perbaikan jangka panjang memerlukan tindakan kebijakan dan pengendalian musiman. Tanpa itu, episode pencemaran parah kemungkinan akan terulang kembali," tutur IQAir.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau