Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dipicu Pemanasan Global, Kota Produsen Jeruk di Jepang Berganti jadi Produsen Alpukat

Kompas.com, 6 Mei 2026, 11:24 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Kota Matsuyama di Prefektur Ehime, Jepang bagian barat, yang sejak lama dikenal sebagai pusat budi daya jeruk, terancam kehilangan identitasnya dan bersiap beralih rupa akibat krisis iklim.

Ke depannya, akan semakin banyak petani di Kota Matsuyama beralih ke budi daya alpukat sebagai strategi untuk beradaptasi dengan kenaikan suhu di tengah pemanasan global.

Fuminori Arita, yang dulunya menanam 'iyokan' atau varietas jeruk Jepang, kini sudah 10 tahun beralih ke budi daya alpukat. Arita menikmati tantangan menghasilkan panen buah yang disebutnya 'sensitif dan sulit ditanam'.

Baca juga: Lawan Krisis Iklim, BRIN Genjot Pemuliaan Tanaman Buah Pakai Speed Breeding

Dilansir dari Kyodo News, pria berusia 67 tahun itu menjadi simbol dari upaya kota Matsuyama untuk lebih banyak beralih ke budi daya alpukat.

"Mengingat tantangan budidaya alpukat, kebahagiaan atas keberhasilan sangatlah besar," tutur Arita, yang memulai dengan bibit yang diperolehnya dari pemerintah kota Matsuyama. Alpukatnya saat ini dijual dengan harga sekitar 5.000 yen atau setara Rp 551.000 per kilogram.

Junichiro Nishihara juga mengakui menanam buah jeruk di Kota Matsuyama semakin sulit, karena terik sinar matahari membakarnya hingga berubah warga menjadi cokelat selama beberapa tahun terakhir.

Pria berusia 62 tahun itu memperluas area penanaman alpukat di kebunya secara bertahap usai menerima bibit buah tersebut dari pemerintah kota Matsuyama.

“Saya memang memiliki ikatan emosional sebagai petani jeruk, tetapi saya tidak akan bisa mencari nafkah jika saya tidak beralih ke tanaman yang beradaptasi dengan iklim,” ucapnya, dilansir dari Asahi.

Menurut Nishihara, alpukat membutuhkan lebih sedikit upaya untuk pengendalian hama dan pencegahan penyakit ketimbang jeruk. Alpukat juga lebih tahan terhadap risiko kerusakan akibat panas. Ia telah berencana untuk berhenti total menanam jeruk dan beralih ke alpukat dan pisang.

Seorang pejabat dari lembaga lokal yang memberikan panduan terkait pertanian di Matsuyama, Tatsumi Shiba mengatakan, budi daya alpukat akan menjadi lebih mudah jika suhu minimum meningkat.

Baca juga: Cara Menanam Alpukat dari Biji di Rumah, Ini Metode dan Tips Merawatnya

"Kami berharap dapat meningkatkan budidaya," tutur Shiba, seraya menyatakan harapan bahwa kota ini akan menjadi identik dengan produksi alpukat.

Area penanaman alpukat meluas

Dengan dukungan pemerintah kota Matsuyama, produksi alpukat di sana mulai meningkat pada 2009. Dalam dekade terakhir, produksi alpukat di kota Matsuyama telah melonjak lebih dari 12 kali lipat dari sekitar 600 kg di tahun 2015, menjadi sekitar 7.300 kg pada 2024.

Area budi daya jeruk iyokan di kota Matsuyama secara bertahap akan bergeser ke utara. Menurut Organisasi Penelitian Pertanian dan Pangan Nasional (NARO), banyak area yang terlalu hangat untuk jeruk justru menjadi cocok untuk ditanam alpukat.

Bahkan, pemanasan global diperkirakan akan memperluas area yang cocok untuk budi daya alpukat di Jepang hingga 2,5 kali lipat atau lebih pada pertengahan abad ini.

Dalam skenario emisi gas rumah kaca yang sangat tinggi, area penanaman yang cocok untuk budi daya alpukat di Jepang akan semakin luas atau sekitar 95.000 kilometer persegi pada akhir abad ini.

“Bahkan, di daerah penghasil jeruk yang sudah tidak cocok lagi untuk budi daya jeruk, Anda masih dapat terus menanam tanaman tersebut jika menggunakan naungan, pengendalian kelembaban, dan teknik serta kecerdikan budidaya lainnya, seperti memangkas buah di bagian atas dan luar pohon yang rentan terhadap suhu tinggi,” ujar seorang ahli meteorologi pertanian NARO, Toshihiko Sugiura.

Baca juga: Dampak Perubahan Iklim, 90 Persen Situs UNESCO Terancam Rusak

Namun, berbagai upaya untuk melanjutkan budi daya jeruk di Jepang akan lebih mahal, dengan hasil panen semakin menurun.

"Beralih ke alpukat adalah pilihan yang layak, meskipun masih ada sejumlah tantangan. Menanam alpukat membutuhkan lebih sedikit tenaga kerja, dan permintaan konsumen terhadapnya sangat tinggi," tutur Sugiura, yang bekerja di Institut Ilmu Pohon Buah dan Teh NARO.

Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Jepang merancang program subsidi untuk mempercepat upaya lokal dalam mempromosikan budi daya tanaman yang cocok untuk suhu yang lebih tinggi mulai tahun fiskal 2026. Itu termasuk alpukat yang dikenal di Jepang sebagai 'mentega hutan'.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dipicu Pemanasan Global, Kota Produsen Jeruk di Jepang Berganti jadi Produsen Alpukat
Dipicu Pemanasan Global, Kota Produsen Jeruk di Jepang Berganti jadi Produsen Alpukat
Pemerintah
Dorong Lingkungan yang Berkelanjutan, Perusahaan Ini Bangun Fasilitas Pemilahan Sampah di Sukabumi
Dorong Lingkungan yang Berkelanjutan, Perusahaan Ini Bangun Fasilitas Pemilahan Sampah di Sukabumi
Swasta
Pasca-Permenhut Baru, Investor Skeptis soal Pasar Karbon RI dan Birokrasi RI Dipertanyakan
Pasca-Permenhut Baru, Investor Skeptis soal Pasar Karbon RI dan Birokrasi RI Dipertanyakan
Swasta
BRIN Siapkan 5 Teknologi Hadapi Banjir Rob di Pantura
BRIN Siapkan 5 Teknologi Hadapi Banjir Rob di Pantura
Pemerintah
Genjot Pasokan Mineral Kritis, ADB Siapkan Program Pembiayaan Baru di Asia
Genjot Pasokan Mineral Kritis, ADB Siapkan Program Pembiayaan Baru di Asia
Pemerintah
Permenhut Bisa Bikin Harga Karbon RI Lebih Kompetitif?
Permenhut Bisa Bikin Harga Karbon RI Lebih Kompetitif?
Swasta
Daur Ulang Botol Tinta Jadi Meja Belajar, Upaya Kurangi Sampah Plastik
Daur Ulang Botol Tinta Jadi Meja Belajar, Upaya Kurangi Sampah Plastik
Swasta
PLTS 440 Megawatt Dibangun di Filipina, Telan Biaya Rp 5,23 Triliun
PLTS 440 Megawatt Dibangun di Filipina, Telan Biaya Rp 5,23 Triliun
Swasta
Jabat Menteri LH Baru, Jumhur Hidayat Ingin 'Green Policing' Direplikasi secara Nasional
Jabat Menteri LH Baru, Jumhur Hidayat Ingin "Green Policing" Direplikasi secara Nasional
Pemerintah
Energi Terbarukan Lebih Murah dari Teknologi DAC untuk Kurangi Emisi Karbon
Energi Terbarukan Lebih Murah dari Teknologi DAC untuk Kurangi Emisi Karbon
Pemerintah
Target Kurangi Emisi, Boeing Borong 20.000 Ton Kredit Penghapusan Karbon
Target Kurangi Emisi, Boeing Borong 20.000 Ton Kredit Penghapusan Karbon
Pemerintah
Waspada Cuaca Ekstrem, Hujan Disertai Angin dan Petir Bakal Landa Sejumlah Wilayah
Waspada Cuaca Ekstrem, Hujan Disertai Angin dan Petir Bakal Landa Sejumlah Wilayah
Pemerintah
 Laut Aral Jadi Contoh Bahayanya Eksploitasi Air
Laut Aral Jadi Contoh Bahayanya Eksploitasi Air
Pemerintah
Kemenhut Sebut Vila di Taman Nasional Bali Barat Kantongi Izin
Kemenhut Sebut Vila di Taman Nasional Bali Barat Kantongi Izin
Pemerintah
Perang Perparah Krisis Iklim, Besarnya Emisi Militer Tak Dilaporkan
Perang Perparah Krisis Iklim, Besarnya Emisi Militer Tak Dilaporkan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau