Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Manfaatkan Barang Bekas untuk Bersihkan Sampah, Siswi SMAN 40 Jakarta Bikin "Sapu Teknologi"

Kompas.com, 12 Mei 2026, 09:30 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Seorang Green Warrior dari SMA Negeri 40 Jakarta, Salwa Fitri Oktavia, menciptakan inovasi yang diberi nama Sapu Teknologi untuk membersihkan sampah di lingkungan sekitar sekolahnya.

Ia membuat inovasi teknologi tersebut dari bahan-bahan bekas, seperti kardus, dinamo dan tombol on-off kipas angin, dan gagang sapu. Salwa meraih juara 1 dari Expo Green Jobs yang diselenggarakan Pertamina dan Universitas Sebelas Maret (UNS).

"Teknologi ini terinspirasi dari Gen Z. Gen Z itu kebanyakan mau yang instan-instan, jadi saya buatlah Sapu Teknologi ini. Jadi, alat ini bisa digunakan di kelas-kelas di SMAN 40 Jakarta. Nah, saya membuat alat ini tuh biar mudah aja dan praktis. Jadi, temen-temen tidak perlu lagi mengeluarkan banyak tenaga untuk membersihkan kotoran yang ada di lantai," ujar Salwa di SMA Negeri 40 Jakarta, Senin (11/5/2026).

Baca juga: 5 Anak Muda Luncurkan Inovasi AI untuk Lawan Stunting

Inovasi Sapu Teknologi bermula dari banyaknya sampah kardus dan kipas angin yang terbuang percuma. Salwa berinisiatif mendaur ulang sampah menjadi alat untuk membersihkan sampah. Ia memanfaatkan setiap bagian sampah elektronik yang masih bisa digunakan.

"Kami mengambil dinamo kipas angin bekas yang enggak menyala tombol on-off-nya, tetapi dinamonya masih bisa dipakai," tutur Salwa.

Ketika Sapu Teknologi dinyalakan, aliran listrik dari power bank, satu-satunya bahan baru dalam pembuatan alat ini, memutar semacam baling-baling yang menyedot sampah. Namun, masih banyak sampah yang tersedot tidak dapat tertampung dalam wadah Sapu Teknologi.

Salwa ingin menyempurnakan Sapu Teknologi-nya dengan memasang penutup agar debu dan sampah berukuran kecil tidak terpental dari wadah yang semestinya menampungnya.

"Mungkin ke depannya bakal diperbagus lagi sih, seperti kardusnya tuh diganti mungkin pakai bahan plastik yang yang kayak tahu sekarang kalau bahan plastik itu kan pasti sering banget tuh menjadi masalah sampah," ucapnya.

Menjawab kebutuhan

Menurut VP CSR SMEPP Management PT Pertamina, Rudi Ariffianto, inovasi terbaik pelajar dari SMAN 40 Jakarta adalah yang mampu menjawab kebutuhan mereka sekarang.

"Yang menjawab kebutuhan mereka apa di kelas di lingkungan sekolah. Nah kami menganggap apapun hasil yang mereka buat ya mereka ciptakan yang berupaya menjawab kebutuhan mereka menjawab keluhan mereka itu adalah yang terbaik yang mereka bisa buat," ujar Rudi usai Talkshow Tumbuh Lestari, Bijak Berenergi di SMAN 40 Jakarta, Senin (11/5/2026).

Ke depannya, Pertamina akan mendukung upaya mereplikasi setiap inovasi pelajar SMAN 40 Jakarta yang memang dapat menjawab kebutuhan dari berbagai sekolah lainnya. Kata dia, berbagai hasil karya inovasi teknologi dari pelajar SMAN 40 Jakarta memang masih skala prototyping atau simulasi awal dari produk.

Kendati demikian, berbagai hasil karya inovasi teknologi tersebut mencerminkan bahwa pelajar SMAN 40 Jakarta sudah memahami bahwa produknya berpotensi diperluas skalanya. Hal itu juga akan meningkatkan ketertarikan dan tingkat adaptability mereka terhadap masa depan energi atau transisi ke EBT.

Baca juga: Inovasi Guru di Gayo Lues Jaga Hutan Lewat Penyulingan Atsiri

"Nanti, kami akan mengecek tingkat kebutuhannya, jangan-jangan enggak cuma di sekolah ini saja. Jadi, kebutuhan itu terjadi di sekolah-sekolah lain, itulah yang mungkin nanti Pertamina untuk coba melihat peluang, apakah ini mungkin bisa dilakukan skalanya lebih besar dan bisa digunakan oleh sekolah-sekolah di tempat lain," tutur Rudi.

SMAN 40 Jakarta menjadi bagian dari program Sekolah Energi Berdikari (SEB) yang diinisiasi Pertamina. Program SEB mengajarkan inovasi untuk lingkungan dan implementasi energi baru terbarukan (EBT) yang mendorong SMAN 40 Jakarta dinobatkan sebagai Sekolah Adiwiyata tingkat Nasional 2024.

Kepala Sekolah SMAN 40 Jakarta, Andriansyah mengatakan, pembelajaran Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) dalam program SEB sangat strategis bagi dunia pendidikan.

Ini mengingat anak-anak muda yang saat ini mengeyam pendidikan, akan mengantikan generasi lama, bahkan dicita-citakan menjadi Indonesia Emas.

"Sekarang diistilahkan berdikari, nanti insyaallah berdaulat mereka. Menjadi penting berkesadaran dan mempunyai karakter hemat energi, serta menguasai teknologi-teknologi yang berhubungan dengan energi dan lingkungan hidup," ucap Andriansyah.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau