JAKARTA, KOMPAS.com - Emisi gas metana dari Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, menempati peringkat kedua dunia setelah TPA Campo de Mayo di Buenos Aires, Argentina.
Satelit Carbon Mapper mencatat bahwa Bantargebang merupakan produsen metana terbesar yang mencapai lebih dari 6 ton per jam, menurut laporan Emmett Institute University of California tahun 2025.
Dosen Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada (UGM), Hanifrahmawan Sudibyo menjelaskan metana adalah bagian alami dari siklus karbon di bumi gyang secara alami diproduksi dalam proses biodegradasi bahan organik.
“Mengingat potensi pemanasan global metana lebih tinggi dibandingkan karbon dioksida dalam jangka waktu tertentu, pelepasan metana dari TPA menjadi salah satu isu penting dalam pengendalian emisi gas rumah kaca,” ungkap Hanif dalam keterangannya, Selasa (19/5/2026).
Baca juga: Warga Jakarta Dukung Program Pilah Sampah, tapi Fasilitas dan Sosialisasi Masih Minim
Gas metana dari tempat pembuangan akhir sesungguhnya dapat menjadi salah satu strategi untuk menekan emisi gas rumah kaca sekaligus mendukung transisi energi yang lebih bersih.
Proses ini dilakukan melalui teknologi penangkapan gas metana, menggunakan jaringan pipa vertikal maupun horizontal yang dipasang di area timbunan sampah untuk mengumpulkan gas yang terbentuk di dalam landfill.
"Gas metana yang terkumpul kemudian dapat dialirkan menuju unit pemurnian maupun pembangkit listrik berbasis biogas untuk dimanfaatkan sebagai sumber energi,” beber dia.
Di samping itu, upaya pencegahan melalui pemilahan sampah dan pengurangan limbah organik yang masuk ke Bantargebang juga sangat penting.
Peningkatan konsumsi masyarakat tanpa diimbangi pengelolaan limbah yang baik akan meningkatkan beban TPA, baik dari sisi kapasitas maupun potensi pembentukan gas metana.
Baca juga: Kisah Para Ibu Pemulung yang Punya Dana Darurat dari Menabung Sampah
Oleh karenanya, pemanfaatan metana sebagai sumber energi perlu diintegrasikan dengan sistem pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan guna mendukung konsep ekonomi sirkular dan pengurangan emisi gas rumah kaca dalam jangka panjang.
Hanif juga menilai bahwa optimalisasi pemanfaatan gas metana di TPA tidak dapat hanya mengandalkan operator pengelola sampah maupun sektor industri semata. Diperlukan dukungan lintas sektor, mulai dari pemerintah, masyarakat, hingga badan usaha penyedia energi seperti PLN, untuk membangun infrastruktur dan sistem pemanfaatan gas landfill secara terintegrasi.
“Tingginya potensi produksi metana di TPST Bantargebang dinilai dapat menjadi momentum evaluasi pengelolaan sampah nasional, khususnya dalam mendorong pengurangan emisi sekaligus pengembangan energi yang lebih ramah lingkungan,” jelas Hanif.
Sebagai informasi, metana adalah gas rumah kaca yang berkontribusi terhadap peningkatan suhu bumi.
Gas ini dihasilkan dari penguraian bahan organik pada kondisi anaerobik atau minim oksigen, seperti pada timbunan sampah organik, kotoran hewan, sedimen rawa, maupun limbah industri pangan dengan kadar air tinggi.
Terbentuknya metana diakibatkan adanya kelompok mikroorganisme anaerob yang berperan pada tahap akhir penguraian bahan organik.
Baca juga: Sumur Minyak Tak Aktif Keluarkan Metana 1.000 Kali Lebih Banyak dari Dugaan
Pada proses ini, senyawa organik kompleks terlebih dahulu diuraikan oleh komunitas mikroba lain menjadi senyawa sederhana seperti asam organik, hidrogen, dan karbon dioksida, yang kemudian dikonversi oleh arkea metanogenik menjadi gas metana.
Di Bantargebang, tumpukan sampah organik dalam jumlah besar membentuk zona minim oksigen, terutama pada bagian dalam dan bawah timbunan sampah. Kondisi lembap akibat air hujan, porositas yang rendah, serta terbatasnya sirkulasi udara menciptakan lingkungan yang ideal bagi aktivitas mikroorganisme anaerob, termasuk arkea metanogenik.
"Selama proses penguraian tersebut berlangsung, gas metana akan terbentuk dan dapat terlepas ke atmosfer apabila tidak dikelola dengan baik,” ucap dia.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya