Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Emisi Metana Bantargebang Peringkat 2 Global, Bisa Dimanfaatkan untuk EBT

Kompas.com, 19 Mei 2026, 17:44 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Emisi gas metana dari Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, menempati peringkat kedua dunia setelah TPA Campo de Mayo di Buenos Aires, Argentina.

Satelit Carbon Mapper mencatat bahwa Bantargebang merupakan produsen metana terbesar yang mencapai lebih dari 6 ton per jam, menurut laporan Emmett Institute University of California tahun 2025.

Dosen Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada (UGM), Hanifrahmawan Sudibyo menjelaskan metana adalah bagian alami dari siklus karbon di bumi gyang secara alami diproduksi dalam proses biodegradasi bahan organik. 

“Mengingat potensi pemanasan global metana lebih tinggi dibandingkan karbon dioksida dalam jangka waktu tertentu, pelepasan metana dari TPA menjadi salah satu isu penting dalam pengendalian emisi gas rumah kaca,” ungkap Hanif dalam keterangannya, Selasa (19/5/2026).

Baca juga: Warga Jakarta Dukung Program Pilah Sampah, tapi Fasilitas dan Sosialisasi Masih Minim

Gas metana dari tempat pembuangan akhir sesungguhnya dapat menjadi salah satu strategi untuk menekan emisi gas rumah kaca sekaligus mendukung transisi energi yang lebih bersih.

Proses ini dilakukan melalui teknologi penangkapan gas metana, menggunakan jaringan pipa vertikal maupun horizontal yang dipasang di area timbunan sampah untuk mengumpulkan gas yang terbentuk di dalam landfill.

"Gas metana yang terkumpul kemudian dapat dialirkan menuju unit pemurnian maupun pembangkit listrik berbasis biogas untuk dimanfaatkan sebagai sumber energi,” beber dia.

Di samping itu, upaya pencegahan melalui pemilahan sampah dan pengurangan limbah organik yang masuk ke Bantargebang juga sangat penting.

Peningkatan konsumsi masyarakat tanpa diimbangi pengelolaan limbah yang baik akan meningkatkan beban TPA, baik dari sisi kapasitas maupun potensi pembentukan gas metana.

Baca juga: Kisah Para Ibu Pemulung yang Punya Dana Darurat dari Menabung Sampah

 Sistem terintegrasi

Oleh karenanya, pemanfaatan metana sebagai sumber energi perlu diintegrasikan dengan sistem pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan guna mendukung konsep ekonomi sirkular dan pengurangan emisi gas rumah kaca dalam jangka panjang.

Hanif juga menilai bahwa optimalisasi pemanfaatan gas metana di TPA tidak dapat hanya mengandalkan operator pengelola sampah maupun sektor industri semata. Diperlukan dukungan lintas sektor, mulai dari pemerintah, masyarakat, hingga badan usaha penyedia energi seperti PLN, untuk membangun infrastruktur dan sistem pemanfaatan gas landfill secara terintegrasi.

“Tingginya potensi produksi metana di TPST Bantargebang dinilai dapat menjadi momentum evaluasi pengelolaan sampah nasional, khususnya dalam mendorong pengurangan emisi sekaligus pengembangan energi yang lebih ramah lingkungan,” jelas Hanif.

Sebagai informasi, metana adalah gas rumah kaca yang berkontribusi terhadap peningkatan suhu bumi.

Gas ini dihasilkan dari penguraian bahan organik pada kondisi anaerobik atau minim oksigen, seperti pada timbunan sampah organik, kotoran hewan, sedimen rawa, maupun limbah industri pangan dengan kadar air tinggi.

Proses pembentukan

Terbentuknya metana diakibatkan adanya kelompok mikroorganisme anaerob yang berperan pada tahap akhir penguraian bahan organik.

Baca juga: Sumur Minyak Tak Aktif Keluarkan Metana 1.000 Kali Lebih Banyak dari Dugaan

Pada proses ini, senyawa organik kompleks terlebih dahulu diuraikan oleh komunitas mikroba lain menjadi senyawa sederhana seperti asam organik, hidrogen, dan karbon dioksida, yang kemudian dikonversi oleh arkea metanogenik menjadi gas metana.

Di Bantargebang, tumpukan sampah organik dalam jumlah besar membentuk zona minim oksigen, terutama pada bagian dalam dan bawah timbunan sampah. Kondisi lembap akibat air hujan, porositas yang rendah, serta terbatasnya sirkulasi udara menciptakan lingkungan yang ideal bagi aktivitas mikroorganisme anaerob, termasuk arkea metanogenik.

"Selama proses penguraian tersebut berlangsung, gas metana akan terbentuk dan dapat terlepas ke atmosfer apabila tidak dikelola dengan baik,” ucap dia.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau