Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Timur Tengah Dilanda Gelombang Panas, Suhunya Capai 49 Derajat C

Kompas.com, 19 Mei 2026, 12:04 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Sejumlah kota besar di Timur Tengah terdampak heatwave atau gelombang panas ekstrem. Menurut IQAir, fenomena itu terjadi di Aswan, Luxor, dan Mut, di Mesir; Ahvaz, Iranshahr, Zabol, di Iran; Al Hillah, Baghdad, dan Nasiriyah, di Irak.

Kemudian, Al Abraq dan Jahra, Kuwait; Haima, Ibra, Thumrait, Oman; Al Ameria, Al Ghuwayriya, Doha, Qatar; Jeddah, Mulayjah, Riyadh, di Arab Saudi; serta Al Ain, Al Hameem, dan Ghiyathi, Uni Emirat Arab.

"Gelombang panas yang memengaruhi Timur Tengah dimulai pada pertengahan Mei 2026 dan diperkirakan akan berlangsung sepanjang bulan-bulan musim panas," kata IQAir dalam keterangannya, Selasa (19/5/2026).

Baca juga: Studi Ingatkan Bahaya Panas Ekstrem di Piala Dunia 2026

Berbeda dengan cuaca panas jangka pendek, Timur Tengah mengalami suhu ekstrem yang berkelanjutan sepanjang musim panas. Suhunya bisa mencapai 38 derajat celsius, bahkan sering kali melampaui 49 derajat celsius di beberapa wilayah.

IQAir menjelaskan bahwa wilayah seperti Kuwait, Doha, Dubai, Riyadh, dan Muscat menghadapi panas musim panas yang intens dan berkepanjangan. Kondisi itu diikuti dengan retensi atau kelembapan pesisir pada malam hari.

"Gelombang panas akan terjadi lebih sering dan berlangsung lebih lama, dengan masyarakat di Timur Tengah diperkirakan mengalami 200 hari panas ekstrem per tahun. Panas diperkirakan paling intens selama Juli dan Agustus, dengan sedikit kelegaan yang mungkin terjadi pada akhir September atau awal Oktober," beber IQAir.

Hal tersebut terjadi karena ada tekanan udara tinggi yang bertahan lama dan membentuk kubah panas. Sehingga menyebabkan udara turun dan menghambat terbentuknya awan serta hujan.

Akibatnya, sinar matahari langsung memanaskan permukaan bumi dengan lebih kuat sehingga cuaca menjadi sangat panas.

IQAir menyatakan, Timur Tengah mengalami pemanasan dua kali lebih cepat dibanding rata-rata global. Apabila trennya terus berlanjut maka suhu rata-rata di sejumlah wilayah diprediksi melonjak empat derajat pada 2050.

Baca juga: India dan Pakistan Dilanda Gelombang Panas, Suhu Capai 50 Derajat

"Wilayah dengan kelembapan tinggi seperti negara-negara Teluk, misalnya Uni Emirat Arab dan Kuwait, menghadapi risiko khusus, karena tubuh manusia kesulitan mengatur suhunya sendiri dan stres panas dapat terjadi lebih cepat," tulis IQAir.

Panas ekstrem terkadang juga memperburuk kualitas udara di seluruh kawasan. Suhu tinggi mempercepat pembentukan ozon permukaan dan meningkatkan suspensi debu, yang menyebabkan kadar PM2.5 dan PM10 lebih tinggi di banyak kota. 

Peringatan Dini 

Adapun sejauh ini peringatan dan imbauan terkait cuaca panas berlaku di seluruh kawasan. Organisasi Meteorologi Iran mengeluarkan peringatan langka yang menekankan pentingnya penggunaan sumber daya listrik, dan air secara efisien mengingat meluasnya kenaikan suhu.

Pusat Informasi Iklim Mesir mengeluarkan peringatan untuk gelombang panas luar biasa ini, dengan prakiraan yang menunjukkan panas ekstrem di Kairo, Mesir Hulu, dan New Valley. IQAir mencatat, Kuwait, Jahra mengalami delapan hari berturut-turut dengan suhu maksimum siang hari di atas 50 derajat celius dan suhu minimum malam hari yang terkadang melebihi 35 derajat.

Departemen meteorologi nasional di negara-negara Teluk mengeluarkan peringatan berkelanjutan dan menyarankan untuk menghindari aktivitas luar ruangan selama jam-jam puncak panas, biasanya antara pukul 11.00 dan 16.00.

Otoritas setempat merekomendasikan untuk tetap berada di ruang ber-AC, menghindari pekerjaan luar ruangan yang berat pada tengah hari, minum banyak air, dan memeriksa kondisi individu yang rentan termasuk lansia dan mereka yang memiliki kondisi kesehatan yang sudah ada sebelumnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Pemerintah
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Swasta
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Pemerintah
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau