Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Apakah Kucing yang Memangsa Tikus Bisa Ikut Tularkan Hantavirus?

Kompas.com, 20 Mei 2026, 09:53 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Kucing yang memangsa tikus yang terinfeksi hantavirus berpotensi ikut tertular virus tersebut. Namun, hingga saat ini kucing tidak diketahui dapat menularkan hantavirus ke hewan lain maupun ke manusia.

Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ristiyanto, menjelaskan bahwa kucing tergolong sebagai dead-end host atau inang akhir, sama seperti manusia.

"Boleh dikatakan si hanta ini akan hilang karena antibodi si kucing. Sama dengan manusia," ujar Ristiyanto dalam sebuah webinar, Sabtu (16/5/2026).

Baca juga: Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus

Sebagai inang akhir, virus tidak berkembang cukup lama di dalam tubuh kucing untuk kemudian ditularkan kembali. Pada manusia, penularan hantavirus juga sangat jarang terjadi, kecuali pada strain Andes yang langka dan membutuhkan kontak sangat dekat.

"Sejauh ini belum ada laporan kucing menularkan hantavirus karena diduga kucing merupakan inang akhir dari hantavirus," kata Ristiyanto.

Penularan Hantavirus Berasal dari Tikus

Hantavirus merupakan penyakit yang ditularkan oleh hewan pengerat, terutama tikus, yang menjadi reservoir atau inang utama virus tersebut.

Penularan ke manusia umumnya terjadi melalui kontak dengan urine, kotoran, atau air liur tikus yang terinfeksi. Risiko penularan meningkat ketika partikel-partikel tersebut mengering dan terhirup bersama debu.

Karena itu, pengendalian populasi tikus menjadi langkah utama untuk mencegah penyebaran hantavirus.

Menurut Ristiyanto, upaya pencegahan tidak cukup hanya dengan memasang perangkap tikus. Masyarakat juga perlu memperbaiki sanitasi, menutup celah masuk tikus ke rumah, serta membersihkan area yang terkontaminasi dengan cara yang aman.

Ia menekankan bahwa pengendalian tikus harus dilakukan secara kolektif di tingkat komunitas.

"Kalau satu rumah tangga mengendalikan tikus, tetapi rumah lainnya tidak, maka pengendalian itu tidak akan efektif," ujarnya.

Ristiyanto juga menyarankan pembangunan rumah yang lebih tahan terhadap serangan tikus (rat-proof) untuk menekan risiko penularan penyakit.

Kepadatan Tikus di Permukiman Masih Tinggi

Berdasarkan pengamatan BRIN, sekitar 20 persen tikus yang tertangkap dalam surveilans dapat membawa penyakit seperti hantavirus atau leptospirosis.

Sementara itu, standar baku mutu lingkungan Kementerian Kesehatan menetapkan kepadatan tikus di permukiman dan fasilitas umum seharusnya kurang dari 1 persen. Namun, di lapangan, angka kepadatan tikus rata-rata masih mencapai sekitar 5 persen.

Baca juga: WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa risiko penularan penyakit dari hewan pengerat masih cukup tinggi, terutama di kawasan dengan sanitasi buruk dan permukiman padat.

Ristiyanto mengatakan, keterbatasan anggaran pemerintah membuat pengendalian tikus tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah.

Ia menilai upaya ini harus melibatkan berbagai pihak, termasuk Dinas Kesehatan, Dinas Pertanian, Dinas Lingkungan Hidup, akademisi, sektor swasta, hingga masyarakat.

Selain itu, penggunaan rodentisida juga perlu diawasi. Menurut dia, tikus dapat mengalami bait shyness, yaitu kondisi ketika tikus jera dan tidak lagi mau memakan umpan beracun yang sama.

Karena itu, pengendalian tikus membutuhkan strategi yang berkelanjutan dan dilakukan secara bersama-sama agar efektif menekan risiko penularan hantavirus dan penyakit lain yang dibawa hewan pengerat.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
Pemerintah
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau