Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?

Kompas.com, 8 Mei 2026, 21:49 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan tiga penumpang kapal pesiar MV Hondius yang berlayar dari Ushuaia, Argentina, menuju ke Tanjung Verde, Afrika, meninggal dunia diduga disebabkan hantavirus.

Per 4 Mei 2026, WHO telah mengidentifikasi tujuh kasus diduga hantavirus, dengan dua di antaranya sudah terkonfirmasi hasil laboratorium.

Meski jarang terjadi, penularan dari manusia ke manusia yang terbatas telah dilaporkan dalam wabah virus Andes sebelumnya, jenis hantavirus tertentu.

Baca juga: WHO Pastikan Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar Samudra Atlantik Bukan Pandemi

"Saat ini, WHO menilai risiko terhadap populasi global dari peristiwa ini sebagai rendah dan akan terus memantau situasi epidemiologi serta memperbarui penilaian risiko," demikian keterangan WHO, dilansir dari laman resminya.

Menyebar di lingkungan terkontaminasi

Epidemiolog dari Universitas Griffith, Australia, Dicky Budiman mengatakan, WHO saat ini memang sedang melakukan investigasi untuk memeriksa dugaan keterlibatan strain virus Andes, jenis hantavirus langka yang pernah terbukti bisa menular antar manusia dalam kontak sangat dekat.

Namun, umumnya hantavirus ditularkan hewan pengerat yang terkontaminasi, bukan menyebar dari manusia ke manusia.

"Yang perlu dipahami, hantavirus bukan menyebar dari manusia ke manusia, tetapi dari lingkungan terkontaminasi tikus yang terinfeksi hantavirus. Secara umum, penularan hantavirus itu berbeda jauh dengan Covid-19. Tidak semudah Covid-19 itu ya," ujar Dicky kepada Kompas.com, Jumat (8/5/2026).

Berdasarkan data ilmiah, hingga saat ini, potensi hantavirus menjadi pandemi, seperti Covid-19, kemungkinannya sangat kecil. Ini terjadi karena reservoir utama dari hantavirus adalah tikus, bukan manusia sebagaimana dalam kasus Covid-19.

Penularan hantavirus antar-manusia sangat terbatas dan efisiensi transmisinya tidak setinggi virus respiratory, seperti SARS-CoV-2 atau influenza.

Namun, dalam perspektif epidemiologi modern, semua orang tetap perlu waspada lantaran interaksi antara manusia dengan hewan liar semakin meningkat. Krisis iklim, urbanisasi, dan kerusakan ekosistem meningkatkan interaksi manusia dengan hewan liar yang memperburuk risiko munculnya zoonosis baru.

"Jadi, ancaman hantavirus lebih pada outbreak sporadis dengan fatalitas tinggi jadi bukan pandemi global atau yang cepat menyebar," tutur Dicky.

Baca juga: Mengenal Hantavirus yang Menginfeksi Penumpang Kapal Pesiar MV Hondius

Trauma pandemi Covid-19

Namun, setiap muncul isu potensi wabah baru, termasuk risiko dari hantavirus, kerap ditanggapi masyarakat dengan skeptis. Ketidakpercayaan tersebut saat ini menjadi fenomena global yang sangat nyata pasca pandemi Covid-19.

Menurut Dicky, terdapat beberapa faktor utama menguatnya trauma sosial pasca pandemi Covid-19 ini. Pertama, masyarakat mengalami ketakutan, pembatasan sosial, dan tekanan ekonomi selama pandemi Covid-19.

"Akibatnya ya muncul kelelahan psikologis terhadap isu wabah baru," ucapnya.

Kedua, infodemi dan disinformasi di media sosial. Informasi valid bercampur dengan opini, teori konspirasi, atau hoaks di media sosial. "Hoaks ini berseliweran tanpa filter yang jelas (di media sosial)," ujar Dicky.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau