Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Habitat Burung Laut Menyusut, Terpaksa Terbang Lebih Jauh untuk Berburu

Kompas.com, 20 Mei 2026, 16:03 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Habitat burung laut seperti albatros dan petrel mulai menyusut akibat pemanasan global. Mereka pun harus terbang lebih jauh untuk mencari tempat tinggal baru dan mencari makan.

Melansir Phys, Selasa (19/5/2026) temuan ini berdasarkan studi yang dilakukan ilmuwan dari University of Reading. Mereka meneliti lebih dari 120 spesies burung dalam kelompok Procellariiformes atau burung laut.

Peneliti kemudian menggunakan silsilah keluarga evolusi, catatan iklim kuno, dan data suhu laut untuk melacak bagaimana wilayah jelajah dan pergerakan burung-burung ini berubah sepanjang sejarah.

Dampak lonjakan suhu bumi

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature Climate Change ini menemukan bahwa ketika suhu bumi melonjak cepat di masa lalu, ukuran tubuh burung laut ternyata tidak mengecil.

Baca juga: Dampak Polusi Suara pada Burung, Ganggu Reproduksi dan Tingkatkan Stres

Mereka justru mempersempit wilayah tempat tinggalnya dan terbang dengan jarak yang jauh lebih jauh demi bisa sampai ke habitat yang cocok.

"Burung laut memang pernah selamat dari perubahan iklim yang luar biasa di masa lalu, tetapi belum pernah menghadapi perubahan yang secepat sekarang," ungkap Dr. Jorge Avaria-Llautureo, pemimpin penelitian dari University of Reading.

"Kita bisa melihat dari sejarah bahwa ketika suhu bumi naik dengan cepat, fisik burung-burung ini tidak ikut berubah. Sebaliknya, mereka terpaksa meninggalkan sebagian wilayah tempat tinggal mereka dan terbang lebih jauh demi bisa bertahan hidup," terangnya lagi.

Upaya penyelamatan lingkungan sekarang pun tidak boleh hanya fokus pada melindungi tempat tinggal burung laut yang ada saat ini saja, tetapi juga harus menjaga tempat-tempat baru yang akan mereka tuju di masa depan.

Penelitian tersebut menemukan bahwa seberapa cepat iklim berubah jauh lebih penting daripada masalah apakah suhunya menjadi lebih panas atau lebih dingin.

Jenis burung yang menghadapi perubahan suhu paling cepat di masa lalu akhirnya memiliki wilayah tempat tinggal yang paling sempit dan harus terbang paling jauh. Kecepatan perubahan suhu itu sendiri menyumbang 35 persen penyebab dari perbedaan luasnya wilayah tempat tinggal di antara jenis-jenis burung yang diteliti.

Kemampuan adaptasi burung laut

Saat ini, lautan memanas sekitar 10.000 kali lebih cepat daripada kecepatan yang biasa dihadapi burung laut untuk beradaptasi selama jutaan tahun.

Di masa lalu, burung laut biasanya bisa bertahan menghadapi pemanasan sekitar 0,00002 derajat C per sepuluh tahun. Sementara pemanasan air laut saat ini sudah berjalan sekitar 0,13 derajat C per sepuluh tahun.

Baca juga: Studi: Lebih dari 600.000 Burung Laut Mati Akibat Gelombang Panas

Model hitungan statistik baru yang dibuat di University of Reading bisa melacak di mana burung laut tinggal selama jutaan tahun perubahan iklim. Alat baru ini digunakan untuk pertama kalinya untuk meramal bagaimana wilayah tempat tinggal mereka akan berubah hingga tahun 2100 nanti.

Jika di masa depan kita berhasil mengurangi polusi udara, jenis burung yang terkena dampak akan lebih sedikit dan wilayah tempat tinggal mereka yang hilang juga tidak terlalu besar.

Namun, jika kita memakai skenario terburuk di mana bumi semakin panas parah, lebih dari 70 persen jenis burung laut diperkirakan akan kehilangan wilayah tempat tinggalnya.

Burung-burung yang kehilangan rumah paling banyak ini nantinya terpaksa harus terbang dengan jarak yang paling jauh demi bisa tetap hidup.

Burung laut saat ini sudah menjadi salah satu kelompok burung yang paling terancam punah di bumi. Padahal, mereka punya peran yang sangat penting bagi ekosistem laut, termasuk membantu perputaran zat makanan di alam dan mendukung kelangsungan hidup ikan-ikan untuk para nelayan.

sumber https://phys.org/news/2026-05-seabird-world-oceans-longer-flights.html

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Sistem Kesehatan Asia Pasifik Hadapi Tekanan Ganda dari Perubahan Iklim dan AI
Sistem Kesehatan Asia Pasifik Hadapi Tekanan Ganda dari Perubahan Iklim dan AI
Pemerintah
Emisi NOx Indonesia Naik 50 Persen, Hotspot Polusi Tersebar hingga Kawasan Hilirisasi
Emisi NOx Indonesia Naik 50 Persen, Hotspot Polusi Tersebar hingga Kawasan Hilirisasi
LSM/Figur
Hilirisasi Mineral Dorong Ekonomi ke Daerah, tetapi Manfaatnya Belum Merata
Hilirisasi Mineral Dorong Ekonomi ke Daerah, tetapi Manfaatnya Belum Merata
Pemerintah
Adopsi AI Meningkat, Para CEO Pertimbangkan Pengurangan Tenaga Kerja
Adopsi AI Meningkat, Para CEO Pertimbangkan Pengurangan Tenaga Kerja
LSM/Figur
Studi Ungkap Garam Laut dari Pulau Lombok Terkontaminasi Mikroplastik
Studi Ungkap Garam Laut dari Pulau Lombok Terkontaminasi Mikroplastik
Pemerintah
Populasi Gajah Sumatera Tersisa 900-1.350 Ekor, Kemenhut Susun Strategi Konservasi
Populasi Gajah Sumatera Tersisa 900-1.350 Ekor, Kemenhut Susun Strategi Konservasi
Pemerintah
Deteksi Dini Jadi Kunci Cegah Kebakaran Meluas di TNBTS
Deteksi Dini Jadi Kunci Cegah Kebakaran Meluas di TNBTS
LSM/Figur
Tak Sekadar Bantu Ekonomi, TJSL PLN Dorong Nelayan Jaga Laut dan Buka Lapangan Kerja
Tak Sekadar Bantu Ekonomi, TJSL PLN Dorong Nelayan Jaga Laut dan Buka Lapangan Kerja
BUMN
Jejak 18 Tahun, Ketika Kebiasaan Sehat Menjadi Warisan bagi Generasi Indonesia
Jejak 18 Tahun, Ketika Kebiasaan Sehat Menjadi Warisan bagi Generasi Indonesia
Swasta
CKG Ungkap 1 dari 3 Pelajar di Indonesia Alami Anemia, Remaja Putra Juga Tinggi
CKG Ungkap 1 dari 3 Pelajar di Indonesia Alami Anemia, Remaja Putra Juga Tinggi
Pemerintah
Microsoft Manfaatkan Teknologi Bioakustik AI untuk Konservasi Paus
Microsoft Manfaatkan Teknologi Bioakustik AI untuk Konservasi Paus
Pemerintah
Kemenkes: Gejala Cemas dan Depresi Anak Meningkat Seiring Usia, Tertinggi di Jenjang SMA
Kemenkes: Gejala Cemas dan Depresi Anak Meningkat Seiring Usia, Tertinggi di Jenjang SMA
Pemerintah
Harga Minyak Naik, Indonesia Berisiko Rugi Rp 231 Triliun hingga Akhir 2026
Harga Minyak Naik, Indonesia Berisiko Rugi Rp 231 Triliun hingga Akhir 2026
LSM/Figur
Ilmuwan: Suhu Lautan Dunia Catat Rekor Terpanas sepanjang Bulan Juli
Ilmuwan: Suhu Lautan Dunia Catat Rekor Terpanas sepanjang Bulan Juli
Pemerintah
Penghijauan di Bandung Tak Cukup dengan Tanam Pohon, Harus Terhubung Jadi Koridor Hijau
Penghijauan di Bandung Tak Cukup dengan Tanam Pohon, Harus Terhubung Jadi Koridor Hijau
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau