KOMPAS.com - Satu dari sembilan burung migrasi terancam punah dan 45 persen spesies burung migran seperti burung sewah (cuckoo), tekukur barat (turtle dove), dan dara-laut Arktik populasinya terus menurun, menurut laporan State of the World’s Birds.
Burung migran slender-billed curlew secara resmi dinyatakan punah tahun lalu, yang menjadi kepunahan burung global pertama di daratan Eurasia dan Afrika dalam beberapa abad terakhir.
Sementara itu di seluruh dunia, tujuh spesies burung migrasi telah dipastikan atau diduga telah punah dalam 150 tahun terakhir.
Melansir Guardian, Jumat (11/9/2026) ancaman terhadap burung migrasi sendiri sebagian besar disebabkan oleh manusia. Beberapa faktor yang menyebabkannya meliputi pertanian intensif, perburuan liar, polusi, spesies invasif, dan pemanasan global.
Burung laut dan burung pantai yang bergantung pada habitat laut serta lahan basah pesisir mengalami kondisi yang paling parah, menurut analisis empat tahunan dari BirdLife International.
Baca juga: Habitat Burung Laut Menyusut, Terpaksa Terbang Lebih Jauh untuk Berburu
"Burung migrasi adalah penanda awal kondisi alam. Penurunan populasi mereka memperlihatkan makin besarnya tekanan pada sistem alam yang menopang hidup manusia. Namun, riset ilmiah juga membuktikan upaya konservasi terbukti berhasil. Tindakan terkoordinasi dapat mencegah kepunahan dan membantu memulihkan populasi. Solusinya sudah ada, yang dibutuhkan sekarang adalah penerapannya di sepanjang jalur migrasi," kata Stuart Butchart, kepala ilmuwan di BirdLife International.
Laporan ini sendiri diterbitkan pada Konferensi Tingkat Tinggi (Summit) Global Flyways di Nairobi, Kenya, di mana pemerintah, ilmuwan, organisasi non-pemerintah (NGO) lingkungan, dan lembaga keuangan menandatangani komitmen untuk meningkatkan perlindungan bagi burung migrasi di sepanjang jalur terbang mereka.
Itu merupakan rute yang dilalui miliaran burung migran saat berpindah antarbenua dan antar-musim.
Deklarasi Nairobi Flyways sendiri didukung oleh tiga bank pembangunan yang memasukkan konservasi jalur migrasi ke dalam kerangka pinjaman mereka, dengan menyediakan dana sebesar 6 miliar Dolar AS untuk perlindungan dan pemulihan habitat di sepanjang rute migrasi.
Ancaman terhadap burung migrasi
Ancaman terhadap burung migrasi mencakup perburuan dan pembantaian liar, dengan perkiraan 13,1 juta hingga 42,7 juta burung migrasi dibunuh atau ditangkap secara ilegal setiap tahunnya di Eropa, kawasan Mediterania, Kaukasus, dan Semenanjung Arab.
Banyak di antaranya adalah burung pengicau yang ditangkap menggunakan jaring halus atau perangkap getah untuk dikonsumsi manusia.
Spesies invasif, seperti hewan pengerat yang kadang secara tidak sengaja terbawa ke pulau-pulau kecil tempat burung laut berkembang biak, juga menjadi ancaman besar bagi kelangsungan hidup burung migrasi.
Kerusakan atau hilangnya habitat alami menjadi penyebab utama lainnya. Menurut laporan tersebut, pemantauan ilmiah selama dekade terakhir menemukan bahwa lebih dari separuh (58 persen) dari 1.099 kawasan keanekaragaman hayati penting bagi burung migrasi berada dalam kondisi buruk atau sangat buruk.
Namun, laporan ini menekankan bagaimana upaya konservasi yang sering kali melibatkan kerja sama antar-negara berhasil memulihkan populasi beberapa spesies.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya