KOMPAS.com - Sampah makanan turut memperparah pemanasan global. Sisa makanan makan siang atau daun selada yang layu yang dibuang begitu saja hanya akan memperbesar tumpukan sampah makanan di tempat pembuangan akhir (TPA).
Tumpukan itu membusuk dan menghasilkan gas metana, yaitu gas rumah kaca berbahaya yang menyumbang sekitar 8 hingga 10 persen emisi global. Jumlah tersebut juga mencakup hasil panen yang membusuk, makanan yang terbuang setelah dipanen bahkan sebelum sempat sampai ke toko.
Melansir laman resmi United Nations, Selasa (29/9/2026) setiap hari, ada lebih dari satu miliar porsi makanan yang dibiarkan tidak dimakan akibat produksi berlebih, pembusukan, atau perencanaan makan yang buruk, menurut Badan Lingkungan Hidup PBB (UNEP).
Isu ini menjadi sorotan utama pada International Day of Awareness of Food Loss and Waste yang diperingati setiap 29 September oleh UNEP dan FAO.
Baca juga: Mayoritas Negara Diproyeksikan Gagal Capai Target Sistem Pangan 2030
Tahun ini, fokus utamanya menyasar hubungan antara pengurangan sampah makanan dengan perlindungan hutan serta kepastian sistem pangan yang berkelanjutan.
"Memanfaatkan makanan yang sudah kita produksi secara lebih efisien dapat mengurangi tekanan pada lahan dan hutan, sekaligus membantu memberi makan lebih banyak orang," kata Michael Muratha, Manajer Program di UNEP.
Lagipula, keberadaan hutan yang sehat juga mendukung produksi pangan lewat berbagai cara, termasuk menjaga kesuburan tanah dan mengatur curah hujan.
Baca juga: Jerman Targetkan Bebas Bahan Bakar Fosil pada 2045
UNEP menekankan bahwa penanganan yang tepat dapat menekan jumlah makanan yang terbuang, yaitu dengan mendorong tindakan seperti investasi pada penanganan, penyimpanan, dan pengangkutan makanan yang lebih baik.
Muratha menegaskan bahwa memperkuat sistem rantai pendingin (cold chain) untuk bahan pangan yang mudah membusuk sangatlah penting.
"Misalnya saja di Kenya, sebuah koperasi yang beranggotakan 179 petani di dekat Nairobi sempat kehilangan hingga 40 persen hasil panen mereka setelah dipetik, sebelum akhirnya menerima bantuan peralatan ruang pendingin dan transportasi berpendingin," ujarnya.
Penyimpanan yang lebih baik juga dapat membantu petani menghadapi dampak perubahan iklim seperti kekeringan, banjir, dan masa-masa kelangkaan pangan sekaligus mencegah terbuangnya makanan bergizi di saat 2,6 miliar orang di dunia tidak mampu membeli makanan sehat yang kaya buah dan sayur.
"Itulah mengapa sangat penting untuk mengambil langkah-langkah ini untuk menjaga, menghemat, dan mengurangi kerugian bahan pangan," ujarnya.
UNEP juga mendukung upaya menyalurkan sisa makanan yang masih layak dan aman kepada orang-orang yang membutuhkan, seperti anak-anak di tempat penitipan anak pada komunitas yang kurang mampu.
Baca juga: GRI Siapkan Standar Pelaporan ESG Khusus Industri Makanan dan Minuman
Lembaga ini terus menampilkan berbagai cara kreatif mulai dari yang sederhana hingga berteknologi tinggi untuk mencegah makanan berakhir di tempat pembuangan sampah.
"Inovasi dapat membantu di berbagai titik di mana makanan sering terbuang atau hilang, dan solusinya tidak selalu harus canggih," tegas Muratha.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya