SURABAYA, KOMPAS.com - Di tengah panas kota yang menyengat, sebuah kampung di kawasan pesisir Surabaya justru terasa sejuk.
Melalui program urban farming, warga menyulap pekarangan dan lorong-lorong gang kampung menjadi kebun produktif dengan tanaman hidroponik, seperti selada dan sawi. Tanaman cabai dalam pot-pot kecil dan rambatan pohon anggur juga mengisi ruang beberapa sudut kampung.
Untuk menyuburkan tanaman, warga mengandalkan pupuk organik yang dihasilkan dari sampah organik dapur. Di setiap depan rumah, disediakan komposter kecil untuk sampah organik padat, seperti sisa sayuran cincang. Jika komposter kecil penuh, sampah tersebut akan dipindahkan ke komposter komunal berkapasitas besar.
Sampah organik cair dimasukkan ke dalam lubang biopori agar terserap oleh tanah dan menjadi nutrisi bagi akar tanaman. Untuk minyak jelantah, warga menampungnya secara terpisah dan menyetorkannya rutin.
Dalam kurun waktu satu bulan, Bank Sampah Maju Makmur mengumpulkan sekitar 10 botol plastik ukuran 1,5 liter berisi minyak jelantah dari konsumsi rumah tangga warga kampung.
Ketua Bank Sampah Maju Makmur, Dwi Alfiah mengatakan, proses penampungan minyak jelantah dilakukan secara mandiri oleh warga dengan cara meniriskan sisa minyak goreng yang sudah tidak terpakai. Saat ini, satu botol ukuran 1,5 liter minyak jelantah dihargai Rp 6.000, turun dari harga sebelumnya yang sempat mencapai Rp9.000 per botol.
Bank sampah memprioritaskan minyak jelantah dari konsumsi rumah tangga biasa. Minyak jelantah dari usaha kuliner besar, seperti penjual gorengan/bebek, jarang diterima atau dipisahkan karena kondisinya yang cenderung sangat hitam dan kotor.
"Kami juga menerima, cuma kan kadang mungkin (perlu dipisahkan) karena harganya lebih murah gitu kan, kalau yang kotor, itu Rp5.000," ujar Alfiah kepada Kompas.com, Senin (28/9/2026).
Bank sampah juga memilah sampah plastik botol dengan aturan ketat yang disesuaikan dengan permintaan pengepul. Perbedaan harga botol plastik ditentukan jenis warna plastik, bukan merek produk.
Botol plastik bening memiliki nilai jual lebih tinggi dibandingkan yang berwarna. Misalnya, botol plastik berwarna hijau dikategorikan rosokan karena disamakan dengan barang plastik bekas lain, seperti ember.
Bank sampah menimbang sampah setiap hari Minggu pagi, mencatatnya dalam buku tabungan dan membiarkan saldonya mengendap. Jenis sampah yang diterima sangat beragam, mulai dari kardus, botol plastik, sampai gelas air mineral.
Untuk styrofoam membutuhkan tonase besar untuk bernilai ekonomis tinggi. Berdasarkan data bulan September, bank sampah ini berhasil mengumpulkan 355 kilogram sampah anorganik, dengan kardus sebagai penyumbang terbesar atau 168 kilogram, yang jika diuangkan mencapai Rp 900.400.
Baca juga: Urutan Pesan yang Tepat Tingkatkan Keberhasilan Ajakan Peduli Lingkungan
Seorang warga di Surabaya menyetorkan sampah anorganik ke bank sampah di kampungnya di Surabaya, pada Senin (28/9/2026).Saldo tabungan sampah warga dijadikan agunan untuk meminjam uang di koperasi. Jika warga tersebut tidak terdaftar aktif sebagai nasabah bank sampah, koperasi tidak akan mencairkan pinjaman.
Saat tenggat waktu pembayaran tiba, warga tidak perlu repot mencari uang tunai, karena cicilan akan dipotong dari saldo tabungan sampah mereka dan sisanya bisa dicairkan mendekati Hari Raya Idul Fitri.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya