KOMPAS.com - Jerman merilis peta jalan baru untuk menghentikan penggunaan batu bara, minyak bumi, dan gas alam paling lambat pada tahun 2045. Pemerintah menyatakan bahwa strategi ini dibuat untuk mendukung target iklim sekaligus menjaga ketahanan energi nasional.
Melansir Know ESG, Jumat (25/9/2026) Jerman menjadi negara ketiga yang menerbitkan rencana lepas dari bahan bakar fosil, menyusul Prancis dan Belanda.
Langkah ini diambil setelah Konferensi Iklim COP30 pada November 2025, di mana Uni Eropa dan negara-negara lain gagal memasukkan komitmen peta jalan transisi fosil ke dalam kesepakatan akhir.
Menteri Lingkungan Hidup Jerman, Carsten Schneider, menyampaikan bahwa pengurangan ketergantungan pada bahan bakar fosil harus dilihat sebagai strategi iklim sekaligus ekonomi. Ia menyoroti risiko dan besarnya biaya akibat bergantung pada energi impor, terutama saat konflik geopolitik mengganggu pasokan dan harga energi.
Baca juga: Cegah Krisis Iklim, PBB Dorong Penetapan Tenggat Waktu Tinggalkan Bahan Bakar Fosil
Hingga kini, bahan bakar fosil masih menyumbang hampir dua pertiga dari total konsumsi energi di Jerman. Pada tahun 2024, minyak bumi mencakup 36 persen penggunaan energi, disusul gas alam sebesar 24 persen, dan batu bara 5 persen. Sebagian besar kebutuhan minyak bumi dan gas alam Jerman diperoleh dari impor.
Peta jalan ini pun menempatkan energi terbarukan dan listrik sebagai inti dari transisi energi Jerman.
Jerman menargetkan peningkatan porsi energi terbarukan dalam pembangkitan listrik dari 55 persen menjadi 80 persen pada tahun 2030. Pemerintah juga berencana memperluas jaringan listrik untuk menampung lonjakan permintaan energi bersih.
Batu bara menjadi fokus utama lainnya. Pemerintah berencana menghentikan total penggunaan batu bara pada tahun 2038, sementara pembangkit listrik bertenaga gas bakal secara bertahap dialihkan menggunakan hidrogen hijau.
Sektor transportasi turut masuk dalam strategi ini. Jerman berencana mempermudah akses kendaraan listrik dengan memperbanyak tempat pengisian daya. Pemerintah Jerman juga mendorong penggunaan pompa pemanas dan pemanas terpusat sebagai pengganti sistem pemanas berbahan bakar minyak dan gas.
Untuk sektor industri, transisi energi akan berfokus pada elektrifikasi masif dan modernisasi proses produksi.
Pemerintah menyiapkan program pendanaan khusus dekarbonisasi, yang diselaraskan dengan aturan Uni Eropa seperti Sistem Perdagangan Emisi dan Mekanisme Penyesuaian Perbatasan Karbon (Carbon Border Adjustment Mechanism).
Baca juga: Kucuran Dana Bank untuk Bahan Bakar Fosil Naik 8 Persen Pada 2025
Peta jalan ini juga ditujukan untuk mendorong negara-negara lain agar menyusun rencana penghentian bahan bakar fosil mereka sendiri. Pemerintah Jerman berharap strategi ini dapat membantu mempercepat langkah internasional dalam lepas dari energi fosil.
Oleh karena itu, peta jalan ini menggabungkan berbagai perubahan di sektor listrik, transportasi, bangunan, hingga industri, bukannya hanya mengandalkan satu cara saja.
Keberhasilan pelaksanaannya akan menentukan seberapa cepat Jerman mampu melepas ketergantungan pada bahan bakar fosil dan mencapai target bebas fosil pada tahun 2045.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya