Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kemenhut dan UNDP Akselerasi Perdagangan Karbon di Kawasan IAD Garut

Kompas.com, 22 Mei 2026, 20:20 WIB
Bambang P. Jatmiko

Editor

KOMPAS.com - Perdagangan karbon dinilai dapat menjadi instrumen penting untuk memperkuat ekonomi masyarakat desa sekaligus menjaga kelestarian hutan.

Skema ini dinilai membuka peluang agar masyarakat di sekitar kawasan hutan memperoleh manfaat ekonomi langsung dari upaya menjaga tutupan pohon dan lingkungan.

Direktorat Penyiapan Kawasan Perhutanan Sosial bersama United Nations Development Programme (UNDP) menilai pengembangan perdagangan karbon berbasis perhutanan sosial perlu terus diperkuat, terutama melalui pelibatan masyarakat lokal dalam pengelolaan kawasan hutan.

Baca juga: Microsoft Kembali Beli Kredit Karbon Lagi setelah Sempat Jeda

Direktur Jenderal Perhutanan Sosial Kementerian Kehutanan, Catur Endah Prasetiyani P, mengatakan program perhutanan sosial tidak hanya berorientasi pada akses legal pemanfaatan hutan, tetapi juga mendorong kemandirian ekonomi masyarakat dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan.

“Kawasan hutan bisa dimanfaatkan untuk kemandirian bisnis masyarakat, namun dengan catatan krusial tetap menjaga kelestarian hutan,” ujar Catur dalam keterangan resminya, Jumat (22/5/2026).

Menurut dia, pengembangan perhutanan sosial berpotensi menjadi fondasi penting bagi ekonomi hijau di tingkat desa.

Pemerintah menilai pengelolaan kawasan hutan berbasis masyarakat dapat berjalan beriringan dengan upaya mitigasi perubahan iklim, termasuk melalui perdagangan karbon.

Sementara itu Kepala Lembaga Pengembangan Agromaritim dan Akselerasi Innopreneurship (LP2AI) IPB University, Handian Purwawangsa, mengatakan pendekatan ekonomi masyarakat dalam skema tersebut dilakukan melalui pengukuran jumlah pohon yang ditanam petani.

Model itu dinilai dapat memperkuat posisi masyarakat dalam ekosistem perdagangan karbon sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani di sekitar kawasan hutan.

“Pendekatan untuk menumbuhkan ekonomi masyarakat dilakukan dengan mengukur jumlah pohon yang ditanam oleh para petani,” kata Handian.

Perdagangan karbon berintegritas

Dukungan terhadap perdagangan karbon juga datang dari UNDP. Perwakilan UNDP, Afifah Arifin, mengatakan pihaknya mendorong penerapan perdagangan karbon berintegritas tinggi atau high-integrity carbon dengan memastikan keterlibatan penuh masyarakat lokal dalam pengambilan keputusan.

UNDP juga menilai pelibatan kelompok perempuan dalam pengelolaan kawasan perhutanan sosial menjadi salah satu aspek penting dalam pembangunan ekonomi rendah karbon yang inklusif.

“Kami ingin memastikan perdagangan karbon berjalan dengan integritas tinggi dan masyarakat lokal terlibat penuh dalam seluruh proses pengambilan keputusan,” ujar Afifah.

Sementara itu, sektor swasta juga mulai melihat perdagangan karbon sebagai bagian dari pengembangan ekonomi desa berbasis lingkungan.

Baca juga: Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar

Perwakilan Astra, Bondan Susilo, mengatakan perusahaan sejak 2022 mengembangkan program hutan karbon produktif di lahan perhutanan sosial di Garut.

Menurut dia, pengembangan tersebut diarahkan untuk memperkuat ekonomi masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan kawasan hutan. Garut dinilai menjadi salah satu daerah percontohan pengembangan ekosistem perhutanan sosial dan karbon yang cukup berhasil.

Selain perdagangan karbon, kawasan perhutanan sosial di Garut juga mulai diarahkan pada pengembangan hilirisasi produk masyarakat.

Salah satunya melalui pengolahan kopi yang diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah komoditas lokal dan memperkuat ekonomi desa secara berkelanjutan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau