Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

SBTi Kini Fokus Dorong Perusahaan Terapkan Target Iklim

Kompas.com, 22 Mei 2026, 16:38 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber ESG Today

KOMPAS.com - Inisiatif Target Berbasis Sains (SBTi) baru-baru ini mengumumkan strategi lima tahun barunya.

Pengumuman ini menandai perubahan besar pada fokus organisasi tersebut, yang awalnya hanya membantu perusahaan membuat dan memeriksa target iklim, kini meluas menjadi ikut membantu perusahaan dalam menjalankan atau mewujudkan target-target tersebut secara nyata.

Sebagai informasi SBTi merupakan salah satu organisasi utama yang bertugas memastikan aksi lingkungan perusahaan sejalan dengan tujuan dunia untuk mengatasi perubahan iklim.

Melansir ESG Today, Kamis (21/5/2026) elemen-elemen penting dari strategi baru SBTi untuk tahun 2026–2030 meliputi beralih ke pendekatan pembuatan target yang lebih disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing industri.

Baca juga: PwC: 82 Persen Perusahaan Percepat Target Iklim dan Dekarbonisasi Rantai Pasok

Selain itu juga melakukan perubahan haluan menuju pelaksanaan nyata, mengatasi masalah aturan standar iklim dunia yang saat ini masih terpecah-pecah, serta memperluas jangkauan mereka ke sektor industri dan wilayah negara yang menghasilkan banyak emisi kotor.

SBTi didirikan pada tahun 2015 dengan tujuan untuk menjadikan pembuatan target lingkungan berbasis sains sebagai kebiasaan atau standar wajib bagi perusahaan.

Kampanye kurangi emisi

Tugas-tugas utama organisasi ini meliputi menentukan dan mengampanyekan cara terbaik untuk mengurangi emisi serta mencapai target bersih-nol emisi yang sesuai dengan ilmu pengetahuan iklim, memberikan bantuan teknis bagi perusahaan yang ingin membuat target berbasis sains, serta menyediakan penilaian dan pemeriksaan mandiri atas target pengurangan emisi milik perusahaan tersebut.

Organisasi ini menerbitkan aturan utama mereka bagi berbagai sektor industri, yaitu Corporate Net-Zero Standard, pada tahun 2021 dan saat ini mereka sedang dalam proses memperbarui aturan tersebut menjadi Versi 2 (Corporate Net-Zero Standard V2).

Sebelumnya SBTi mengungkapkan bahwa jumlah perusahaan yang target iklim berbasis sainsnya telah resmi diperiksa dan disetujui kini telah melonjak hingga lebih dari 10.000 perusahaan.

“Saat ini, lebih dari 13.000 perusahaan telah membuat atau berkomitmen untuk menetapkan target berbasis sains. Pendekatan ini sekarang telah diakui secara luas sebagai standar emas dunia untuk aksi iklim perusahaan yang terpercaya. Strategi baru kami dibangun di atas pondasi tersebut yakni mengubah peran SBTi untuk menjadi mitra bagi perusahaan-perusahaan dalam mewujudkan target mereka secara nyata di lapangan," ungkap David Kennedy, CEO SBTi .

"Di dunia saat ini, di mana risiko transisi energi sudah menjadi pertimbangan utama dalam bisnis, perubahan peran ini sangat penting untuk memberikan dampak nyata bagi perbaikan iklim bumi,” paparnya lagi.

Perusahaan perlu panduan lebih praktis

Menurut SBTi, peluncuran strategi baru ini dilakukan setelah menerima masukan dari berbagai perusahaan. Masukan tersebut menunjukkan bahwa mereka membutuhkan panduan yang lebih praktis untuk mengubah rencana iklim menjadi aksi nyata, serta membutuhkan jalur yang lebih jelas dan data yang lebih baik.

Dalam kegiatan pembuatan aturannya, SBTi menyatakan akan mengubah pendekatan umum yang selama ini digunakan menjadi standar yang lebih khusus. Tujuannya adalah agar perusahaan-perusahaan bisa menerapkan cara-cara yang sesuai dengan jenis industri, wilayah tempat mereka beroperasi, serta kondisi kerja mereka masing-masing.

Untuk meningkatkan fokusnya pada pelaksanaan nyata, SBTi mengatakan bahwa layanan mereka akan mengutamakan keterbukaan data serta penilaian menyeluruh terhadap kemajuan dan tantangan yang dihadapi.

Hal ini akan membantu perusahaan untuk melihat perbandingan diri mereka dengan perusahaan saingan, serta mengetahui di bagian mana mereka harus memfokuskan tindakan mereka.

Baca juga: Jerman Diprediksi Gagal Mencapai Target Iklim 2045

Sementara dalam upayanya mengatasi aturan yang terpecah-pecah, strategi baru ini menekankan pada penguatan kerja sama dengan organisasi lain dan pembuat standar lainnya.

Tujuannya adalah untuk mengurangi tumpang-tindih aturan, duplikasi tugas, serta beban yang harus ditanggung oleh perusahaan. Strategi baru ini juga mencakup fokus untuk memperluas jangkauan kerja SBTi demi memaksimalkan dampak, yaitu dengan cara memperbesar jaringan mereka di sektor industri dan wilayah negara yang menghasilkan banyak emisi kotor.

“Strategi ini menandai perubahan haluan SBTi menuju organisasi yang lebih fokus pada tindakan nyata. Kami sedang mengembangkan standar-standar kami agar bisa lebih menggambarkan kenyataan di setiap sektor industri dan wilayah negara, memperbanyak data dan analisis untuk membantu perusahaan membandingkan kemajuan mereka serta mengenali hambatan yang ada, serta memperkuat kerja sama dengan pihak lain untuk menciptakan sistem yang lebih teratur dan menyatu," tambah Kennedy.

Bersamaan dengan itu, SBTi juga turun langsung dan memperkuat pengaruh mereka di wilayah serta industri berat yang selama ini menghasilkan banyak polusi terbesar di bumi demi memberikan dampak maksimal.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
Pemerintah
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau