KOMPAS.com - Studi terbaru yang diterbitkan di jurnal Science mengungkapkan, pencairan lapisan es abadi dengan cepat mengubah puluhan aliran sungai Arktik menjadi perairan asam yang mengandung logam berat.
Pencairan lapisan es abadi mengekspos mineral sulfida yang bereaksi dengan oksigen dan air—suatu proses mirip dengan apa yang terjadi pada polusi pertambangan. Reaksi tersebut melepaskan keasaman dan logam berat, seperti seng, nikel, kadmium, dan aluminium ke perairan sekitarnya.
Temuan dari studi ini didasarkan pada pengamatan cermat selama beberapa dekade di salah satu wilayah paling terpencil di Bumi. Data dari Tombstone Watershed Observatory, sebuah lokasi pemantauan jangka panjang di Yukon yang didukung oleh program CFI-MSI Global Water Futures Observatories, memungkinkan para peneliti untuk menangkap perubahan saat perubahan tersebut terjadi.
Baca juga: Beruang Kutub di Norwegia Tetap Gemuk di Tengah Krisis Iklim, Kok Bisa?
Tim peneliti melacak pergeseran kimia air di berbagai aliran sungai. Saat menganalisis logam jejak dalam air, tim peneliti menyaksikan perubahan dramatis yang terjadi.
"Yang mengejutkan kami semua adalah betapa cepatnya hal ini terjadi. Kami memperkirakan perubahan akan terjadi selama beberapa dekade, tetapi kami menyaksikan tingkat pH anjlok menuju nilai yang sangat asam dan aliran sungai berubah menjadi oranye dalam periode dua tahun yang dimulai pada tahun 2023," ujar asisten profesor di Universitas Carleton sekaligus penulis utama makalah tersebut, Elliott Skierszkan, dilansir dari Phys, Sabtu (23/5/2026).
Dalam beberapa kasus, aliran air berubah dari jernih menjadi oranye di antara pengamatan harian.
"Sangat jarang dalam pekerjaan kami melihat sesuatu berubah begitu cepat," tutur Sean Carey, profesor di Sekolah Ilmu Bumi, Lingkungan dan Masyarakat dan salah satu penulis studi tersebut, yang telah bekerja di Yukon sejak pertengahan tahun 1990-an.
Ia juga mengkhawatirkan skala perubahan aliran air tersebut. Alih-alih sumber polusi tunggal, seperti halnya tambang, reaksi kimia ini terjadi di ratusan daerah aliran sungai di Yukon dan Alaska secara bersamaan.
Baca juga: Krisis Iklim Picu Deoksigenisasi Sungai Tropis
"Yang mengejutkan adalah kecepatan dan skalanya. Kualitas air di beberapa daerah aliran sungai ini memburuk dengan sangat cepat, dan di mana pun geologi dasarnya mengandung mineral sulfida, kita melihat hal ini terjadi di seluruh wilayah," ucap seorang profesor di Universitas Saskatchewan, Matthew Lindsay.
Penurunan kualitas air menyebabkan aliran sungai menjadi sangat asam dan tidak cocok untuk kehidupan akuatik. Sungai-sungai yang lebih besar kemungkinan dapat mengurangi beberapa dampaknya. Namun, konsekuensi jangka panjangnya tetap tidak pasti, terutama karena logam bergerak melalui ekosistem dan mengikuti berbagai jalur.
Sejak awal, studi ini telah dibentuk oleh keprihatinan lokal. Perubahan tersebut terdeteksi berkat hubungan Carey dengan komunitas lokal dan masyarakat adat, yang mengembangkan lokasi pemantauan jangka panjang untuk memahami bagaimana sistem perairan utara merespons perubahan lingkungan.
"Mereka memberi tahu kami, 'Kami khawatir tentang airnya. Orang-orang tahu perubahan ini sedang terjadi, tetapi mereka mungkin tidak tahu bahwa perubahan ini terjadi secepat ini dan di lebih dari satu lokasi," ujar Carey.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya