Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mencairnya Es di Artik Lepas Polusi dan Bisa Hancurkan Warisan Budaya

Kompas.com, 23 Mei 2026, 10:02 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

‎KOMPAS.com - Studi terbaru yang diterbitkan di jurnal Science mengungkapkan, pencairan lapisan es abadi dengan cepat mengubah puluhan aliran sungai Arktik menjadi perairan asam yang mengandung logam berat.

‎Pencairan lapisan es abadi mengekspos mineral sulfida yang bereaksi dengan oksigen dan air—suatu proses mirip dengan apa yang terjadi pada polusi pertambangan. Reaksi tersebut melepaskan keasaman dan logam berat, seperti seng, nikel, kadmium, dan aluminium ke perairan sekitarnya.

‎Temuan dari studi ini didasarkan pada pengamatan cermat selama beberapa dekade di salah satu wilayah paling terpencil di Bumi. Data dari Tombstone Watershed Observatory, sebuah lokasi pemantauan jangka panjang di Yukon yang didukung oleh program CFI-MSI Global Water Futures Observatories, memungkinkan para peneliti untuk menangkap perubahan saat perubahan tersebut terjadi. 

Baca juga: Beruang Kutub di Norwegia Tetap Gemuk di Tengah Krisis Iklim, Kok Bisa?

‎Tim peneliti melacak pergeseran kimia air di berbagai aliran sungai. Saat menganalisis logam jejak dalam air, tim peneliti menyaksikan perubahan dramatis yang terjadi.

‎"Yang mengejutkan kami semua adalah betapa cepatnya hal ini terjadi. Kami memperkirakan perubahan akan terjadi selama beberapa dekade, tetapi kami menyaksikan tingkat pH anjlok menuju nilai yang sangat asam dan aliran sungai berubah menjadi oranye dalam periode dua tahun yang dimulai pada tahun 2023," ujar asisten profesor di Universitas Carleton sekaligus penulis utama makalah tersebut, Elliott Skierszkan, dilansir dari Phys, Sabtu (23/5/2026).

Warna air berubah

‎Dalam beberapa kasus, aliran air berubah dari jernih menjadi oranye di antara pengamatan harian.

‎"Sangat jarang dalam pekerjaan kami melihat sesuatu berubah begitu cepat," tutur Sean Carey, profesor di Sekolah Ilmu Bumi, Lingkungan dan Masyarakat dan salah satu penulis studi tersebut, yang telah bekerja di Yukon sejak pertengahan tahun 1990-an.

‎Ia juga mengkhawatirkan skala perubahan aliran air tersebut. Alih-alih sumber polusi tunggal, seperti halnya tambang, reaksi kimia ini terjadi di ratusan daerah aliran sungai di Yukon dan Alaska secara bersamaan.

‎Baca juga: Krisis Iklim Picu Deoksigenisasi Sungai Tropis

‎"Yang mengejutkan adalah kecepatan dan skalanya. Kualitas air di beberapa daerah aliran sungai ini memburuk dengan sangat cepat, dan di mana pun geologi dasarnya mengandung mineral sulfida, kita melihat hal ini terjadi di seluruh wilayah," ucap seorang profesor di Universitas Saskatchewan, Matthew Lindsay.

‎Risiko ekologis 

‎Penurunan kualitas air menyebabkan aliran sungai menjadi sangat asam dan tidak cocok untuk kehidupan akuatik. Sungai-sungai yang lebih besar kemungkinan dapat mengurangi beberapa dampaknya. Namun, konsekuensi jangka panjangnya tetap tidak pasti, terutama karena logam bergerak melalui ekosistem dan mengikuti berbagai jalur.

‎Sejak awal, studi ini telah dibentuk oleh keprihatinan lokal. Perubahan tersebut terdeteksi berkat hubungan Carey dengan komunitas lokal dan masyarakat adat, yang mengembangkan lokasi pemantauan jangka panjang untuk memahami bagaimana sistem perairan utara merespons perubahan lingkungan.

‎"Mereka memberi tahu kami, 'Kami khawatir tentang airnya. Orang-orang tahu perubahan ini sedang terjadi, tetapi mereka mungkin tidak tahu bahwa perubahan ini terjadi secepat ini dan di lebih dari satu lokasi," ujar Carey.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau