Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

RI Perlu Perkuat Riset agar Hilirisasi Nikel Bisa Dukung Program PLTS 100 GW

Kompas.com, 25 Mei 2026, 15:34 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

‎

JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia perlu berinvestasi ke Research and Development (R&D) dalam mengembangkan teknologi Battery Energy Storage System (BESS) untuk mendukung program pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) 100 gigawatt (GW) sekaligus hilirisasi nikel.

Dengan berinvestasi ke R&D, Indonesia tidak sekadar mengekor pada perkembangan teknologi global dan mulai memperkuat daya saing baterai berbasis nikel, Nickel Manganese Cobalt (NMC).

‎‎Melalui investasi ke R&D, Indonesia bisa mengembangkan keunggulan NMC dibandingkan Lithium Iron Phosphate (LFP) dalam mendukung program PLTS 100 GW, yang mana pada gilirannya, hilirisasi nikel dapat ikut mengakselerasi transisi energi di Indonesia.

Baca juga: Konsumsi Nikel untuk Baterai EV Diprediksi Melonjak 218 Persen pada 2035
‎
‎"Dulu orang bilang NMC terbaik karena lebih ‎energy density (kepadatan energinya) lebih tinggi dibanding dibanding LFP. Namun LFP juga sudah masuk ke BESS  dengan energy density-nya sama seperti nikel sekarang. Jadi tinggal mana yang lebih efisien saja," ujar Associate Principal Energy Shift Institute, Ahmad Zuhdi Dwi Kusuma kepada Kompas.com, Senin (25/5/2026).
‎
‎Ia menganggap, program PLTS 100 GW sebagai salah satu peluang untuk pengembangan R&D dalam mendukung ekosistem BESS berbasis nikel. Indonesia harus berkomitmen mengalihkan setidaknya 10 persen produksi nikel dalam negeri untuk menyokong program PLTS 100 GW.

Jika sudah menjadi terdepan dalam R&D untuk BESS berbasis nikel, maka Indonesia dapat ikut mendikte perkembangan teknologi global.
‎
‎"Kalau pemerintah aja nggak berani trial and error di proyek yang mereka support, ya jangan harap market akan ngikutin mereka. Berarti... berarti harus dimulai dari ini untuk mengembangkan baterai terutama BESS ya," tutur Zuhdi.

‎Rantai pasok energi bersih

Di sisi lain, pemerintah ingin memastikan bahwa nikel dari dalam negeri tidak berhenti sebagai komoditas ekspor atau produk setengah jadi. Pemerintah hendak mendorong investasi nikel bergerak lebih ke produk turunan lanjutan, seperti bahan baku baterai, komponen industri hijau, sampai manufaktur produk akhir.
‎
‎Deputi Bidang Koordinasi Industri Ketenagakerjaan, dan Pariwisata Kementerian Koordinator Perekonomian, M. Rudy Salahuddin menyebut, kebijakan tersebut menjadi bagian dari strategi Indonesia dalam membangun ekosistem industri hijau.

Nikel merupakan salah satu mineral kunci dalam rantai pasok baterai, terutama karena karakteristiknya yang mendukung energy density yang tinggi. Artinya, baterai berbasis nikel mampu menyimpan energi lebih besar dalam ukuran yang relatif lebih ringkas, sehingga penting untuk pengembangan EV dan sistem penyimpanan energi.

Baca juga: Permintaan Nikel untuk Baterai Kendaraan Listrik Dinilai Masih Prospektif
‎
‎"Pemerintah saat ini juga sedang menjalankan program PLTS 100 gigawatt, sehingga peran nikel menjadi semakin strategis. PLTS menghasilkan listrik dari sinar matahari yang sifatnya intermiten, sehingga membutuhkan BESS untuk menyimpan energi pada saat produksi listrik tinggi dan menyalurkan kembali ketika dibutuhkan," ujar Rudy dalam diskusi Mendorong Hilirisasi Nikel Indonesia Menjadi Mesin Pemerataan Nilai Tambah dan Pertumbuhan Industri Hijau.

‎Ia berharap, nikel dari dalam negeri dapat menjadi fondasi bagi pengembangan industri baterai kendaraan listrik (EV), BESS PLTS, dan ekosistem industri hijau yang lebih kuat.
‎
‎Menurut Rudy, pengendalian investasi smelter di bagian hulu melalui PP 28 2025 bukan sekadar pembatasan belaka, melainkan langkah untuk mengarahkan pemanfaatan cadangan nikel secara lebih strategis.

‎Secara spesifik, pembatasan tersebut mencakup investasi baru untuk smelter yang menghasilkan produk antara lain seperti Nickel Pig Iron (NPI), Ferronickel, Nickel Matte, dan Mixed Hydroxide Precipitate (MHP).
‎
‎Dengan demikian, smelter berteknologi RKEF (Rotary Kiln Electric Furnace), yang umumnya menghasilkan NPI atau Ferronickel, maupun smelter berbasis High Pressure Acid Leach (HPAL) yang berhenti pada produk MHP, diarahkan untuk tidak lagi menjadi tujuan akhir investasi.

‎"Pada akhirnya, hilirisasi nikel harus menjadi instrumen untuk menciptakan nilai tambah yang lebih besar, memperkuat kemandirian industri nasional, membuka ruang investasi baru yang lebih berkualitas, serta menempatkan Indonesia sebagai ‎pemain penting dalam rantai pasok energi bersih global," ucapnya.‎

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau