Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Guru Besar IPB Kembangkan Lampu LED untuk Tangkap Ikan di Laut tanpa Umpan

Kompas.com, 25 Mei 2026, 14:24 WIB
Bambang P. Jatmiko

Editor

KOMPAS.com - Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Prof Mochammad Riyanto, mengembangkan teknologi lampu LED berbasis perilaku ikan untuk meningkatkan efisiensi penangkapan sekaligus mengurangi dampak ekologis di sektor perikanan tangkap.

Dalam Orasi Ilmiah Guru Besar IPB University, Sabtu (23/5/2026), Riyanto menjelaskan bahwa inovasi tersebut menggunakan pendekatan etologi ikan, yakni mempelajari perilaku ikan terhadap cahaya, pola migrasi, dan kebiasaan makan untuk merancang alat tangkap yang lebih selektif.

“Pendekatan ini memungkinkan perencanaan alat tangkap yang lebih selektif untuk mengurangi tangkapan sampingan (bycatch),” ujar Riyanto dalam keterangan resmi, Senin (25/5/2026).

Baca juga: Nelayan di Pesisir Aceh hingga NTT Keluhkan Kesulitan BBM

Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah penggunaan lampu LED hijau yang dipadukan dengan baterai air laut sebagai sumber energi terbarukan.

Teknologi ini disebut telah menghasilkan dua paten dan dinilai mampu meningkatkan produktivitas sekaligus efisiensi penangkapan ikan.

Gantikan umpan alami

Menurut Riyanto, lampu LED hijau bahkan dapat menggantikan umpan alami pada penangkapan ikan kakap merah dan kerapu.

Dalam penerapannya, lampu LED hijau pada jaring insang mampu mengurangi tangkapan penyu hingga 60 persen tanpa menurunkan hasil tangkapan utama.

Sementara itu, penggunaan lampu LED merah disebut dapat menekan tangkapan mimi laut hingga 63 persen dan mengurangi tangkapan hiu sampai 64 persen pada tahap awal pengujian.

Riyanto menilai pendekatan berbasis perilaku ikan menjadi penting di tengah tekanan terhadap sektor perikanan tangkap Indonesia. Ia menyebut sebagian stok ikan di perairan Indonesia telah berada pada kondisi pemanfaatan maksimal hingga over exploited.

Kondisi tersebut diperburuk oleh perubahan iklim, degradasi habitat, dan praktik penangkapan ilegal.

Selain teknologi pencahayaan, pengembangan alat tangkap selektif juga dilakukan melalui bycatch reduction devices (BRD), seperti turtle excluder devices (TED) pada perikanan pukat udang di Laut Arafura.

Baca juga: Nelayan Soroti Dampak Krisis Iklim hingga Akses Wilayah Tangkap

Menurut dia, penggunaan TED terbukti mampu meningkatkan hasil tangkapan udang sekaligus mengurangi tangkapan penyu.

Kurangi sampah laut

Di sisi lain, Riyanto juga menyoroti ancaman alat tangkap hilang atau terbuang (abandoned, lost, and discarded fishing gear / ALDFG) yang menyumbang sekitar 10 persen sampah laut global.

Masalah tersebut tidak hanya berdampak pada lingkungan laut, tetapi juga memicu kerugian ekonomi bagi nelayan. Di Cilacap, kerugian akibat alat tangkap hilang disebut dapat mencapai Rp 381 juta per tahun.

Karena itu, ia mendorong penguatan regulasi, edukasi bagi nelayan, serta pengembangan alat tangkap ramah lingkungan, termasuk penggunaan material *biodegradable* dan penerapan ekonomi sirkular di sektor perikanan.

“Pengelolaan perikanan ke depan harus beralih dari pendekatan berbasis alat menuju berbasis perilaku spesies dan dampak ekologi,” kata Riyanto.

Ia berharap pendekatan tersebut dapat menjaga keberlanjutan sumber daya laut sekaligus tetap memperhatikan kesejahteraan nelayan kecil.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
LSM/Figur
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
LSM/Figur
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Pemerintah
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Swasta
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Pemerintah
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau