Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Meski Ada Gerakan Ramah Lingkungan, Produksi Kakao Tetap Terancam Iklim

Kompas.com, 28 Mei 2026, 14:14 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber knowesg

KOMPAS.com - Cuaca ekstrem di wilayah-wilayah utama penghasil kakao telah mengacaukan hasil panen dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini membuat harga kakao melonjak tinggi dan pasokan cokelat ke seluruh dunia menjadi terganggu.

Melansir Know ESG, Senin (25/5/2026) perusahaan cokelat raksasa sebenarnya tidak tinggal diam. Mereka sudah mengeluarkan banyak uang agar proses produksi lebih ramah lingkungan dan memastikan petani mereka dibayar dengan adil.

Namun para memperingatkan bahwa langkah-langkah itu saja tidak cukup untuk menyelesaikan krisis iklim yang lebih parah.

Perubahan iklim yang merusak kakao

Kakao adalah salah satu tanaman di dunia yang paling sensitif terhadap perubahan iklim. Kakao tumbuh paling baik di wilayah dengan suhu udara dan curah hujan yang sangat spesifik, terutama di negara-negara dekat garis khatulistiwa seperti Pantai Gading, Ghana, dan Ekuador.

Baca juga: Nyanyi Bali dan Valrhona Kembangkan Kebun Kakao Berkelanjutan di Tabanan

Akan tetapi, pola cuaca yang terus berubah membuat kondisi ideal tersebut semakin sulit untuk dipertahankan.

Curah hujan yang tinggi dan banjir merusak tanaman di seluruh Afrika Barat pada tahun 2023, sehingga menyebabkan penyakit tanaman dan buah kakao menjadi busuk.

Tidak lama setelah itu, kekeringan parah dan gelombang panas yang dipicu oleh El Niño melanda wilayah yang sama pada awal tahun 2024, yang membuat hasil panen semakin anjlok dan merusak pohon kakao lebih parah lagi.

Tekanan iklim ini juga berdampak pada negara-negara penghasil kakao di luar Afrika, termasuk Indonesia, Peru, dan Meksiko, di mana panas ekstrem dan kebakaran hutan telah merugikan petani kecil.

Sebuah penelitian tahun 2025 yang diterbitkan dalam jurnal Agricultural and Forest Meteorology memperingatkan bahwa Pantai Gading, Ghana, Nigeria, dan Kamerun bisa kehilangan hingga setengah dari lahan yang cocok untuk menanam kakao pada tahun 2050 akibat perubahan iklim.

Upaya ramah lingkungan perusahaan

Meskipun menghadapi tantangan ini, perusahaan-perusahaan cokelat besar terus memperluas upaya ramah lingkungan mereka. Perusahaan seperti Barry Callebaut dan Cargill menggunakan sistem pemetaan berbasis satelit untuk melacak perjalanan kakao dari perkebunan hingga ke gudang, guna membantu meningkatkan transparansi dan mengurangi risiko penebangan hutan.

Sementara itu, Tony’s Chocolonely sedang berusaha menaikkan pendapatan para petani dengan memberikan bayaran yang lebih mendekati standar upah layak. Nestlé juga telah meluncurkan program-program yang memberikan insentif bagi petani yang menerapkan cara bertani ramah lingkungan dan memastikan anak-anak mereka tetap bersekolah.

Produsen cokelat besar seperti Mondel?z International juga ikut mengurangi penggunaan kemasan plastik dan memperbanyak pemakaian bahan-bahan yang bisa didaur ulang.

Baca juga: Industri Ritel Global Belum Serius Garap Sektor Cokelat Berkelanjutan

Berbagai upaya ini telah meningkatkan tanggung jawab perusahaan dan rasa percaya pembeli, terutama karena makin banyak pembeli yang meminta produk yang etis dan ramah lingkungan.

Namun, para ahli industri mengatakan bahwa program-program ramah lingkungan ini sering kali gagal mengatasi masalah ekonomi dan iklim yang lebih parah yang dihadapi oleh para petani kakao.

Banyak petani di Afrika Barat masih terjebak dalam kemiskinan ekstrem, sehingga mereka kesulitan untuk membeli sistem irigasi, menanam pohon pelindung, atau menerapkan cara bertani yang tahan terhadap perubahan iklim.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Menteri LH Apresiasi Ekowisata yang Memuliakan Lingkungan, dari Dusun Bambu hingga EIGER Nature
Menteri LH Apresiasi Ekowisata yang Memuliakan Lingkungan, dari Dusun Bambu hingga EIGER Nature
BrandzView
Astra dan BKKBN Perkuat Kolaborasi Pencegahan Stunting di Desa Sejahtera Astra Gedepangrango
Astra dan BKKBN Perkuat Kolaborasi Pencegahan Stunting di Desa Sejahtera Astra Gedepangrango
Desa Sejahtera Astra
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Swasta
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Pemerintah
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Pemerintah
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Pemerintah
Hashim: Tutup Industri Batu Bara Bisa Picu “Bunuh Diri Ekonomi”
Hashim: Tutup Industri Batu Bara Bisa Picu “Bunuh Diri Ekonomi”
Pemerintah
82 Persen Investor Global Waspadai Dampak Krisis Iklim pada Harga Aset
82 Persen Investor Global Waspadai Dampak Krisis Iklim pada Harga Aset
Pemerintah
Harga dari Ketiadaan Data Emisi, Keunggulan Produk Ekspor RI Terkikis Pajak Karbon
Harga dari Ketiadaan Data Emisi, Keunggulan Produk Ekspor RI Terkikis Pajak Karbon
LSM/Figur
Pakar Iklim Dunia Rilis 5 Langkah Strategis Hadapi El Nino
Pakar Iklim Dunia Rilis 5 Langkah Strategis Hadapi El Nino
Pemerintah
AESI Dorong Pemanfaatan PLTS dan Baterai untuk Percepat Transisi Energi di ASEAN
AESI Dorong Pemanfaatan PLTS dan Baterai untuk Percepat Transisi Energi di ASEAN
Swasta
Geliat Ekonomi Biru di Pulau Pari, dari Penanaman 1.000 Mangrove hingga Literasi Keuangan Warga
Geliat Ekonomi Biru di Pulau Pari, dari Penanaman 1.000 Mangrove hingga Literasi Keuangan Warga
Swasta
Menekan Sampah Pascakonsumsi lewat Inovasi Kemasan dan Ekonomi Sirkular
Menekan Sampah Pascakonsumsi lewat Inovasi Kemasan dan Ekonomi Sirkular
Swasta
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Pemerintah
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau