KOMPAS.com - Cuaca ekstrem di wilayah-wilayah utama penghasil kakao telah mengacaukan hasil panen dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini membuat harga kakao melonjak tinggi dan pasokan cokelat ke seluruh dunia menjadi terganggu.
Melansir Know ESG, Senin (25/5/2026) perusahaan cokelat raksasa sebenarnya tidak tinggal diam. Mereka sudah mengeluarkan banyak uang agar proses produksi lebih ramah lingkungan dan memastikan petani mereka dibayar dengan adil.
Namun para memperingatkan bahwa langkah-langkah itu saja tidak cukup untuk menyelesaikan krisis iklim yang lebih parah.
Kakao adalah salah satu tanaman di dunia yang paling sensitif terhadap perubahan iklim. Kakao tumbuh paling baik di wilayah dengan suhu udara dan curah hujan yang sangat spesifik, terutama di negara-negara dekat garis khatulistiwa seperti Pantai Gading, Ghana, dan Ekuador.
Baca juga: Nyanyi Bali dan Valrhona Kembangkan Kebun Kakao Berkelanjutan di Tabanan
Akan tetapi, pola cuaca yang terus berubah membuat kondisi ideal tersebut semakin sulit untuk dipertahankan.
Curah hujan yang tinggi dan banjir merusak tanaman di seluruh Afrika Barat pada tahun 2023, sehingga menyebabkan penyakit tanaman dan buah kakao menjadi busuk.
Tidak lama setelah itu, kekeringan parah dan gelombang panas yang dipicu oleh El Niño melanda wilayah yang sama pada awal tahun 2024, yang membuat hasil panen semakin anjlok dan merusak pohon kakao lebih parah lagi.
Tekanan iklim ini juga berdampak pada negara-negara penghasil kakao di luar Afrika, termasuk Indonesia, Peru, dan Meksiko, di mana panas ekstrem dan kebakaran hutan telah merugikan petani kecil.
Sebuah penelitian tahun 2025 yang diterbitkan dalam jurnal Agricultural and Forest Meteorology memperingatkan bahwa Pantai Gading, Ghana, Nigeria, dan Kamerun bisa kehilangan hingga setengah dari lahan yang cocok untuk menanam kakao pada tahun 2050 akibat perubahan iklim.
Meskipun menghadapi tantangan ini, perusahaan-perusahaan cokelat besar terus memperluas upaya ramah lingkungan mereka. Perusahaan seperti Barry Callebaut dan Cargill menggunakan sistem pemetaan berbasis satelit untuk melacak perjalanan kakao dari perkebunan hingga ke gudang, guna membantu meningkatkan transparansi dan mengurangi risiko penebangan hutan.
Sementara itu, Tony’s Chocolonely sedang berusaha menaikkan pendapatan para petani dengan memberikan bayaran yang lebih mendekati standar upah layak. Nestlé juga telah meluncurkan program-program yang memberikan insentif bagi petani yang menerapkan cara bertani ramah lingkungan dan memastikan anak-anak mereka tetap bersekolah.
Produsen cokelat besar seperti Mondel?z International juga ikut mengurangi penggunaan kemasan plastik dan memperbanyak pemakaian bahan-bahan yang bisa didaur ulang.
Baca juga: Industri Ritel Global Belum Serius Garap Sektor Cokelat Berkelanjutan
Berbagai upaya ini telah meningkatkan tanggung jawab perusahaan dan rasa percaya pembeli, terutama karena makin banyak pembeli yang meminta produk yang etis dan ramah lingkungan.
Namun, para ahli industri mengatakan bahwa program-program ramah lingkungan ini sering kali gagal mengatasi masalah ekonomi dan iklim yang lebih parah yang dihadapi oleh para petani kakao.
Banyak petani di Afrika Barat masih terjebak dalam kemiskinan ekstrem, sehingga mereka kesulitan untuk membeli sistem irigasi, menanam pohon pelindung, atau menerapkan cara bertani yang tahan terhadap perubahan iklim.
Bonus sertifikasi yang mereka terima juga biasanya terlalu kecil untuk bisa melindungi para petani dari risiko iklim yang terus meningkat atau harga kakao yang naik-turun tidak menentu.
Industri ini juga sedang menghadapi masalah kekurangan tenaga kerja yang terus meningkat. Banyak anak muda memilih pergi meninggalkan pekerjaan sebagai petani kakao karena pendapatannya yang rendah dan masa depan yang tidak pasti.
Hal ini menimbulkan kekhawatiran tentang kemampuan dunia untuk terus memproduksi cokelat dalam jangka panjang. Para ahli semakin yakin bahwa sektor kakao harus melangkah lebih jauh, tidak sekadar jualan label "ramah lingkungan" , melainkan harus fokus pada ketahanan.
Sistem agroforestri yaitu cara menanam kakao di samping pohon-pohon asli setempat dan tanaman lainnya kini mulai gencar dipromosikan sebagai cara untuk meningkatkan keanekaragaman hayati, menjaga kesehatan tanah, dan mengurangi efek panas ekstrem pada tanaman.
Baca juga: IFRS Perbarui Standar Pelaporan Keberlanjutan Sektor Pertanian dan Utilitas
Menanam kakao bersamaan dengan pisang juga bisa membantu para petani menambah sumber penghasilan mereka dan menjaga ketersediaan pangan saat hasil panen cokelat sedang buruk.
Di saat yang sama, menjaga tempat tinggal hewan penyerbuk dan mengembangkan jenis bibit kakao yang tahan kekeringan kini menjadi sangat penting demi kelangsungan panen di masa depan.
Para pemimpin industri mengatakan bahwa kontrak kerja jangka panjang dan sistem penentuan harga yang lebih adil juga sangat dibutuhkan untuk mengurangi kemiskinan petani.
Langkah ini sekaligus memperkuat komunitas petani kakao dalam menghadapi hantaman krisis iklim. Seiring dengan semakin parahnya risiko iklim, para ahli memperingatkan bahwa slogan cokelat ramah lingkungan saja tidak akan cukup untuk menyelamatkan masa depan kakao.
Membangun ketahanan iklim di seluruh sistem pertanian, rantai pasokan, dan ekonomi pedesaan pada akhirnya akan menjadi penentu apakah dunia bisa terus memproduksi cokelat dalam jumlah besar pada dekade-dekade mendatang.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya