Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mengulik Sisi Gelap Industri Fashion: Separuh Tekstil Terbuang Sebelum Dijual

Kompas.com, 28 Mei 2026, 13:00 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com-Konsumsi pakaian global sangat besar. Namun hal yang mungkin selama ini luput dari perhatian adalah sebagian besar serat tekstil untuk membuat pakaian hilang sebelum pakaian tersebut sampai ke pasar.

Hal ini terungkap dari sebuah studi yang dilakukan Rakib Ahmed, peneliti di SINTEF Industry.

Penelitian ini dilakukan sebagai bagian dari kelompok riset Profesor Madya Johan Berg Pettersen di Program Ekologi Industri NTNU dan bekerja sama dengan Peneliti Senior Christina Meskers di SINTEF. Artikel tersebut diterbitkan dalam Journal of Circular Economy.

Melansir Phys, Selasa (26/5/2026) dampak lingkungan industri fashion terhadap sangat besar. Perkiraan umum menunjukkan bahwa industri ini menyumbang sekitar 10 persen emisi gas rumah kaca global.

Lahan yang sangat luas digunakan untuk menanam bahan-bahan alami pembuat pakaian, tetapi bahan sintetis jauh lebih banyak digunakan.

Baca juga: Warga Jakarta Bisa Donasi Pakaian Bekas untuk Didaur Ulang, Begini Caranya

Satu perkiraan menunjukkan bahwa sekitar 8 miliar penduduk dunia membeli total antara 80 hingga 100 miliar potong pakaian setiap tahunnya. Dengan kata lain, rata-rata setiap orang membeli setidaknya 10 potong baju per tahun.

Selain itu, ada sekitar 60 miliar potong pakaian yang sama sekali tidak pernah terjual, dan sering kali berakhir begitu saja di tempat pembuangan sampah. Tentu saja, angka-angka ini sangat bervariasi di setiap negara dan juga berbeda antara laki-laki dan perempuan.

Di banyak negara, pakaian bekas berakhir di tempat pembuangan sampah (TPA) dan butuh waktu puluhan tahun untuk bisa hancur. Di beberapa tempat, kondisinya bahkan lebih parah, pakaian bekas dibuang begitu saja langsung ke alam bebas.

Bahan pakaian terbuang sia-sia

Tidak hanya itu saja, sebagian besar pemborosan terjadi di tahap awal proses pembuatan pakaian. Hal ini membuat sekitar 44 persen bahan sudah terbuang sejak dalam tahap produksi di pabrik.

"Kamu mungkin akan terkejut saat mengetahui di bagian mana sebagian besar bahan pakaian itu hilang," kata Ahmed.

"Di sini kita bisa melihat dengan jelas kita juga harus memperhatikan proses pembuatannya di pabrik. Ada keuntungan lingkungan yang sangat besar jika kita bisa membuat proses produksi di pabrik menjadi lebih hemat dan efisien," paparnya lagi.

Untung saja, negara-negara mulai memperkenalkan beberapa inisiatif yang bertujuan untuk mengumpulkan pakaian bekas dan mengelola limbah, setelah pakaian tersebut tidak lagi digunakan, salah satunya adalah Uni Eropa.

Kendati demikian inisiatif ini mengalami tantangan dalam pelaksanaannya.

Banyak orang mengira baju bekas bisa dengan mudah dihancurkan dan dibuat menjadi baju baru lagi. Faktanya, teknologi dunia saat ini masih sangat minim. Kurang dari 1 persen saja baju bekas di bumi yang benar-benar bisa didaur ulang menjadi kain baru.

Selain itu, tidak semua kain ramah terhadap mesin daur ulang. Baju-baju yang memiliki campuran bahan kimia atau hiasan tertentu sangat sulit untuk diproses kembali.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
Pemerintah
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau