Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dilema Tempat Sampah yang Terpilah di Fasilitas Publik

Kompas.com, 28 Mei 2026, 14:59 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

‎JAKARTA, KOMPAS.com - Arus mudik di Terminal Pulo Gebang, Jakarta Timur, masih ramai usai pelaksanaan salat Iduladha, Rabu (27/5/2026). Pemandangan tampak lebih asri dengan hadirnya tempat sampah pilah yang berjejer rapi di sejumlah sudut, mengajak penumpang menjaga kebersihan sebelum memulai perjalanan panjang.
‎
‎Ketika Kompas.com, mengecek kesesuaian antara peruntukan dan isinya, kebanyakan tempat sampah terpilah yang sudah tersedia lebih dari setahun terakhir tersebut, dalam keadaan kosong. Beberapa tempat sampah terpilah yang sedikit terisi, memang menunjukkan adanya kecocokan.
‎
‎Petugas kebersihan di Terminal Pulo Gebang, Susilowati (42) mengatakan, saat ini, kesadaran pemudik dalam membuang dan memilah sampah sesuai jenisnya semakin membaik.
‎
‎"Banyak orang yang membuang sampah pada tempat khususnya, banyak orang sudah paham. Alhamdulillah," ujar Susilowati kepada Kompas.com.
‎
‎Untuk tempat sampah terpilah, kata dia, memang sudah jarang ada kasus kesalahan dalam membuang sesuai jenisnya. Itu terjadi karena jenis sampah di Terminal Pulo Gebang kebanyakan limbah organik dari makanan dan botol plastik.
‎
‎Dengan sangat jarangnya limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) di Terminal Pulo Gebang, proses pemilahan sampah melalui membuang sampah pada tempatnya sesuai jenisnya, menjadi lebih gampang.
‎
‎Namun, model tempat sampah tidak terpilah masih banyak ditemukan di Terminal Pulo Gebang. Susilowati hanya mengangkut sampah tercampur itu dan nantinya ada petugas lain yang memilah ulang. Untuk sampah yang sudah terpilah, Susilowati tidak mencampurnya ulang.

‎Sampah dalam kondisi terpilah akan meringankan beban petugas, sehingga tidak perlu menyortir ulang sebelum limbah jenis residu diangkut truk compactor ke tempat pemrosesan akhir (TPA) Bantargebang.
‎
‎"Pengangkutan ke Bantargebang sekarang juga dipilih-pilih. Cuma kan sedikit-sedikit disosialisasikan ke penumpangnya, ada yang lebih paham juga karena sekarang di Pemprov DKI ini susah buat buang sampah ke Bantargebang," tutur Susilowati.
‎
‎Selain tidak semua limbah bisa diangkut, selama dua tahun terakhir, truk compactor juga tidak mencampurkan sampah yang sudah terpilah, karena dilengkapi sekat khusus untuk memisahkan sesuai jenisnya. Padahal, dulunya truk dapat mengangkut lebih banyak sampah dari segala jenis, tanpa adanya proses pemilahan.
‎
‎Sudah beberapa tahun terakhir, sampah organik dari makanan diolah menjadi kompos di area belakang Terminal Pulo Gebang. Sedangkan sampah anorganik yang bernilai dipilah untuk dijual petugas sebagai tambahan pemasukan.
‎
‎"Sekarang kan karena Bantargebang katanya sih sudah enggak layak, jadi di sini dipilah terlebih dahulu, tetapi enakan dipilah. Jadi pemilahan itu dimasukin ke tong bin, dibuang langsung compactor (truk). Tong binnya diangkat compactornya," ucapnya.
‎

Tempat sampah terpilah di Terminal Purabaya Bungurasih, Kabupaten Sidoarjo, Rabu (27/5/2026).Kompas.com/Manda Firmansyah Tempat sampah terpilah di Terminal Purabaya Bungurasih, Kabupaten Sidoarjo, Rabu (27/5/2026).

Kondisi di Bungurasih Sidoarjo‎

Sementara itu, berdasarkan pengecekan, terdapat sejumlah kasus kesalahan membuang limbah sesuai jenisnya pada tempat sampah terpilah di Terminal Purabaya Bungurasih, Kabupaten Sidoarjo.
‎
‎Petugas kebersihan di Terminal Purabaya Bungurasih, Pardi (56) menganggap, keberadaan tempat sampah terpilah agak menyusahkan karena membutuhkan perlakuan khusus. Meski, pada dasarnya sampahnya akan tetap dipilah ulang oleh petugas lain di area belakang terminal sebelum diangkut truk ke TPA di Sidoarjo.
‎
‎"Kalau teman-teman saya hanya mengangkut sampah yang penuh untuk dibawa ke tempat sana (tempat pembuangan sementara sebelum diangkut truk). Iya, dicampur di sana, dibuang di sana semua," ujar Pardi.
‎
‎Setelah sampah bernilai dipungut, truk yang mengangkutnya juga tetap akan mencampur berbagai jenis limbah itu.
‎
‎"Daun, nasi, atau sampah apapun itu dicampur di sana. Diangkut (truk) juga dalam keadaan tercampur. Kalau kami di sini yang penting enggak ada komplain (tentang kebersihan). Iya kalau saya kerjaan saya di sini enggak kotor, terus tempat sampah itu sampahnya penuh, enggak komplain gitu saja," tutur Pardi.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau