Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Krisis Iklim dan Pemotongan Bantuan AS Perparah Lonjakan Kasus Malaria di Afrika

Kompas.com, 28 Mei 2026, 16:33 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Caroline Mawombedzi didiagnosis menderita malaria pada Desember 2025 lalu, saat tinggal di Burma Valley, sebuah komunitas pertanian yang berjarak sekitar satu jam perjalanan dari Mutare, kota terbesar ketiga di Zimbabwe.

Pada pertengahan Mei 2026, putrinya yang berusia lima tahun juga didiagnosis menderita malaria oleh petugas kesehatan dari wilayah Chishakwe usai mengalami sakit kepala parah dan gangguan bagian perut.

Mawombedzi mengaku tidak sanggup membeli alat untuk tindakan pencegahan malaria, meski putrinya sudah menerima perawatan.

“Saya menganggur. Saya tidak mampu membeli kelambu. Kami sudah bertahun-tahun tidak tidur di bawah kelambu,” ucapnya, dilansir dari Aljazeera, Kamis (28/5/2026).

Baca juga: Mengapa Penyakit Malaria di Indonesia Sulit Dikendalikan? Ini Penjelasan Pakar UGM

Seorang petugas kesehatan dari wilayah Chishakwe, Virginia Chakandinakira mengatakan, alat diagnostik malaria dan obat-obatan saat ini langka. Ia baru menerima alat tes dan obat-obatan pada bulan Februari 2026, dengan persediaan terbatas hanya untuk komunitas dengan prevalensi kasus malaria yang tinggi.

“Dulu saya sering mendapatkan banyak alat tes malaria dan obat-obatan. Tetapi, pada tahun 2025, mereka tidak memberikannya lagi. Saya merujuk semua orang yang menunjukkan gejala malaria ke klinik Chitakatira (pemukiman pedesaan yang berjarak sekitar satu jam perjalanan dari Chishakwe) terdekat,” ujar Chakandinakira.

Pemotongan pendanaan Amerika Serikat (AS) untuk berbagai program pembangunan di Zimbabwe, termasuk Badan Pembangunan Internasional AS (USAID), sejak Donald Trump terpilih sebagai presiden telah memperburuk wabah malaria.

Berdasarkan laporan pengawasan mingguan Program Pengendalian Malaria Nasional Kementerian Kesehatan Zimbabwe, kasus malaria melonjak dari 36.000 pada Januari-April 2025, menjadi 65.399 selama periode yang sama tahun 2026. Jumlah kematian juga meningkat tajam dari 85 orang pada Januari-April 2025, menjadi 174 orang selama periode yang sama tahun 2026.

Krisis iklim

Krisis iklim mendorong penyebaran malaria dan penyakit menular melalui vektor lainnya di seluruh Afrika. Kenaikan suhu global akibat krisis iklim suhu memungkinkan malaria menyebar ke daerah dataran tinggi, yang dulunya kurang rentan terhadap wabah.

Zimbabwe mengalami El Niño pada 2023-2024, dan sebaliknya mengalami curah hujan lebat terjadi selama tahun 2025 dan 2026.

Kepala program kesehatan di Save the Children Zimbabwe, Thomas Chuchu mengaitkan lonjakan kasus malaria saat ini dengan curah hujan lebat selama musim 2025–2026.

Hujan menciptakan kondisi yang menguntungkan bagi perkembangbiakan nyamuk. Khususnya, di provinsi-provinsi yang sudah endemik, seperti Mashonaland Central, Manicaland, Mashonaland East, dan Mashonaland West,”

“Dampak hujan lebat kemungkinan diperparah oleh melemahnya sistem pencegahan, termasuk berkurangnya cakupan penggunaan kelambu, keterlambatan kegiatan pengendalian vektor, berkurangnya pengawasan masyarakat, dan tantangan dalam pengujian dan pengobatan tepat waktu setelah penghentian ZAPIM (Program Bantuan Zimbabwe dalam Malaria yang disokong dana dari AS),” tutur Chuchu.

Baca juga: Kabupaten Sigi Jadi Laboratorium Adaptasi Perubahan Iklim

Syeda Tullu Bukhari dari Kampus Mbita milik International Centre of Insect Physiology and Ecology (icipe) mengatakan, krisis iklim memperburuk kasus malaria di Kenya, dengan mengubah pola curah hujan secara dramastis.

Secara tradisional, ada perbedaan musim hujan panjang dan pendek yang dipisahkan oleh periode kering. Sekarang, musim-musim itu bercampur.

Misalnya, pada 2025, tidak ada jeda antara musim hujan panjang dan pendek selama hampir delapan bulan, yang memicu genangan air sebagai kondisi ideal untuk perkembangbiakan nyamuk.

Musim hujan yang lebih panjang berarti musim malaria yang lebih panjang. Yang lebih mengkhawatirkan, malaria menyebar ke beberapa bagian Kenya utara yang secara historis hanya mengalami wabah musiman.

Hubungan antara malaria dan kerawanan pangan bersifat langsung. Jika seorang petani tidak dapat bekerja selama musim tanam yang kritis, maka keluarganya dapat kehilangan pendapatan dan makanan untuk tahun itu.

Baca juga: Wujudkan Papua Tengah Bebas Malaria, Gubernur Meki: 93 Persen Kasus Malaria Terjadi di Papua

Ketika biaya yang besar dikeluarkan akibat malaria terjadi pada ribuan rumah tangga, tentunya akan berdampak terhadap pendidikan, mata pencaharian, dan ketahanan ekonomi jangka panjang.

“Malaria bukan hanya masalah kesehatan. Ini adalah masalah pembangunan," ucapnya, dilansir dari Food Tank.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
Pemerintah
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau